
Keesokan harinya, Indi dan Satria masih berada di Solo. Hari ini Satria mengajak Indi ke salah satu pusat perbelanjaan di Solo. Sementara Nakula dan Sadewa di rumah Eyangnya. Sehingga, Satria memiliki waktu mengajak jalan-jalan istrinya.
"Tumben, Mas? Selain periksa jahitan pasca bersalin dulu, baru sekarang loh pergi berdua setelah memiliki Nakula dan Sadewa," kata Indi kepada suaminya.
"Membahagiakan istri itu pahalanya besar, Yang. Mumpung Eyangnya juga maunya sama Nang-Nang juga. Biar saja," balas Satria.
"Ya udah, penting jangan lama-lama, Mas. Mengajak pergi Busui kalau lama-lama bahaya, Mas. Bisa penuh ini," kata Indi dengan menunduk.
Satria tersenyum, dia tahu arah pandangan istrinya itu. "Aku sangat tahu. Kalau satu atau dua jam aman kan? Sekarang berganti kepemilikan yah? Dulu, punyaku. Sekarang jadi punyanya Nakula dan Sadewa deh," balas Satria.
"Emang iya punyamu?" tanya Indi bercanda.
"Iya, udah aku stempel dulu tuh. Punya Satria," balasnya.
Pasangan muda itu bercanda. Sebab, memang begitulah pasangan suami istri, Kadang-kadang memang obrolannya bisa kadang-kadang. 😅 Sama seperti Indi dan Satria sekarang.
"Mas Satria sampai kapan nahan dan trauma? Aku bisa bantu sembuhkan, mungkin ...."
Indi mengatakan itu dengan menatap suaminya. Ada rasanya hati kasihan dan juga ingin memberikan yang terbaik untuk suaminya. Terlalu lama menahan diri dan takut juga tidak baik. Oleh karena itu, Indi sendiri akan berinisiatif untuk membantu suaminya itu lepas dari rasa takutnya.
"Yakin kamu mau?" tanya Satria.
"Mau, kan aku istrimu," jawab Indi dengan sangat yakin.
"Ya sudah, besok kalau udah di rumah kita aja yah. Biar lebih leluasa," kata Satria.
Indi menganggukkan kepalanya, tanda bahwa dia mau dan siap melakukan cara untuk menyembuhkan trauma Post-natal yang diidap suaminya. Begitu sudah di pusat perbelanjaan, Satria mengajak Indi berjalan-jalan dan menawarkan berbelanja kepada istrinya.
"Mau beli apa, Yang? Sekalian mumpung kita jalan-jalan," kata Satria.
__ADS_1
Indi tampak mengamati sekeliling, sebenarnya beberapa barang miliknya masih mulai dari make up hingga parfum. Terlebih usai resign dari bekerja, Indi juga banyak berada di rumah. Jarang make up, jarang mengenakan parfum saja, yang penting menggunakan deodoran. Tak jarang aroma tubuh Indi sekarang mirip Nakula dan Sadewa. Minyak telon bayi dan parfum bayi kedua putranya itu seolah menempel di badannya.
"Enggak beli apa-apa kan juga boleh, Mas. Jalan-jalan berdua aja, nanti beliin Boba," balas Indi.
Satria terkekeh sendiri. Alih-alih belanja atau membeli sesuatu justru istrinya itu lebih suka jajan, entah itu makanan atau minuman. Jajan di Mall, biasanya Indi memang begitu.
"Boleh, jangan banyak-banyak es batunya yah, biar Namg-Nang enggak pilek," balas Satria.
Setelah mengitar area Mall, sekarang Satria membelikan Boba Brown Sugar seperti yang diminta Indi. Di sana justru Indi bertemu teman lamanya saat SMA dulu.
"In, kamu ... Indira kan?" sapa seorang wanita muda yang kala itu mendorong stroller baby.
"Iya, siapa yah? Aku agak lupa," balas Indi dengan berusaha untuk mengingat-ingat.
"Vio, In ... kita pernah satu tahun sekelas, sebelum aku pindah ke Solo. Viona," balasnya.
Sekarang barulah Indi ingat dengan temannya di kelas X SMA dulu di Jogjakarta. Ya, dulu keduanya pernah satu kelas. Hanya satu tahun, karena Viona kemudian pindah ke Solo. Lulus SMA hingga kuliah di Solo.
"Sama anakku," balas Viona dengan tersenyum.
Indi menyapa gadis kecil yang duduk di stroller itu. Begitu cantik dan lucu, hingga akhirnya Indi menanyai kenapa temannya itu hanya sendirian saja. Padahal sekarang adalah hari libur.
"Papanya gak ikut?" tanya Indi lagi.
Viona tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Lantaran terlihat masih ingin lanjut mengobrol, Satria menyarankan duduk saja. Sehingga mereka duduk bersama.
"Aku baru proses cerai dengan suamiku, In," cerita Viona kepada Indi.
"Loh, kok bisa? Maaf, bukan aku ikut campur, kasihan anak kamu, Vio," kata Indi.
__ADS_1
Melihat gadis kecil yang cantik dengan matanya yang berbinar itu membuat Indi tak tega. Bagaimana pun untuk tumbuh kembang anak membutuhkan pendampingan dari Mama dan Papanya secara seimbang. Membersamai tumbuh kembang anak itu adalah tugas dan peran orang tua.
"Suamiku memiliki wanita simpanan, In. Sudah setahun lebih. Ya, untuk apa mempertahankan sebilah pisau di tangan. Ujung-ujungnya aku yang terluka sendiri," balas Viona.
Rasanya Indi sangat prihatin dengan temannya itu. Prahara dalam rumah tangga itu memang beragam, ada yang dicobai dengan ekonomi, orang ketiga, belum mendapatkan momongan, hingga mertua yang tidak baik. Pedih hati Indi mendengarkan cerita kawannya itu.
"Suamiku kepincut dengan putri Ningrat, pemilik bisnis Atmaja," kata Viona sekarang.
Mendengar nama Atmaja disebut, sekarang Indi dan Satria saling pandang. Sebab, ketika nama Atmaja disebut, keduanya langsung teringat dengan sosok Karina. Mungkinkah wanita simpanan suami Viona itu adalah Karina?
"Mungkinkah dia Karina?" tanya Indi.
Viona membelalakkan matanya, dia tidak mengira kalau Indi mengenal Karina. "Ya, dia Karina. Kamu mengenalnya," balas Viona.
"Kebetulan kenal, tapi dia sebenarnya temannya Mas Satria," kata Indi.
Viona menganggukkan kepalanya. "Jadi pernah bertemu yah? Hati-hati, In ... takutnya dia nanti mencuri suamimu," kata Viona.
"Aku sih menjaga diri dan menjaga hati," balas Satria dengan yakin.
"Bagus, Mas. Mungkin suamiku yang tidak bisa menjaga diri dan hatinya," balas Viona.
"Ini ujian, Vi. Semoga kamu kuat yah. Setidaknya harus kuat untuk anak kamu," balas Indi.
Viona menganggukkan kepalanya. Dia memang harus kuat dan harus bertahan untuk putrinya. Alasannya bertahan hanya karena buah hatinya saja. Biarlah rumah tangga berakhir, tapi Viona mengusahakan kebahagiaan putrinya.
"Ya sudah yah, In ... aku lanjut lagi. Seneng bisa bertemu denganmu. Bahagia selalu yah," pamit Viona.
Sepeninggal Viona, Indi berbicara lirih kepada suaminya. "Kasihan yah, Mas. Perselingkuhan tak selamanya indah. Benar-benar menghancurkan rumah tangga, bahkan anak sekecil itu tidak mendapatkan pengasuhan kedua orang tuanya," katanya dengan hati yang pedih.
__ADS_1
"Benar, Yang. Kita jaga hati dan diri kita bersama-sama yah. Saling mengingatkan, mendoakan juga. Insyaallah, till janah," kata Satria.
Indi turut menganggukkan kepalanya. Dia menginginkan kehidupan rumah tangga hingga janah dengan suaminya. Masih panjang keduanya, tapi Indi dan Satria akan sama-sama belajar untuk memperkuat komunikasi, menguatkan ikatan hati, dan tentunya saling mendoakan. Insyaallah, rumah tangga keduanya till janah. Aamiin ....