
"Coba panggil Rama," kata Rama Bima sekarang.
Indi hanya bisa berlinangan air matanya. Apakah itu adalah pertanda baik bahwa Rama suaminya itu mulai melunak hatinya? Atau itu hanya wujud balas budi saja?
"Ra ... ma, kamu kan menantunya Rama," kata Rama lagi.
Jika sudah mengatakan sebagai menantu, lantas apakah itu artinya sang Rama sudah mengakui Indi sebagai menantunya?
Indi menggelengkan perlahan. Dia hanya tidak mau terlalu banyak berharap. Daripada sudah dilambungkan terlalu tinggi dan akhirnya jatuh lagi. Indi hanya tidak mau mengalami itu. Biarlah dia memanggil Rama suaminya dengan panggilan Bapak saja. Panggil lazim dan menghormati, pria yang lebih tua.
"Jika Indi memang tidak mau, jangan dipaksa, Rama," sahut Satria.
Menurut Satria tidak perlu Rama nya memaksa Indi. Walau Indi tak berbicara apa pun, Satria tahu bahwa istrinya itu hanya tak ingin kecewa. Selain itu, mengganti panggilan dengan yang baru, juga tak menjamin turunnya restu untuk mereka berdua.
Satria juga paham kondisi Indi yang sakit, mengalami kelemahan fisik, beberapa bagian tubuhnya juga nyeri. Sehingga, memang tidak perlu untuk memaksa Indi. Biarkan saja Indi beristirahat terlebih dahulu dan juga keputusan mau mengubah panggilan itu sepenuhnya adalah hak Indi.
"Dengarkan Rama dulu," kata Rama. Usai itu seakan Rama mengambil jeda sejenak. "Mbak Indi yang kamu lakukan benar-benar sebuah tindakan yang mulia. Bukan hanya itu, Rama diam-diam mengamati kamu kala di Oemah Jamu. Rama mengakui bahwa kamu adalah wanita yang baik. Kamu adalah pilihan yang tepat untuk Satria. Jadi, Rama... merestui kalian berdua."
Deg!
Seketika Indi dan Satria saling bertukar pandangan. Apakah yang dia dengar sekarang tidak salah? Benarkah restu itu akhirnya diberikan oleh Rama Bima?
Air mata Indi lebih berderai, walau tidak ada isakan sama sekali. Pun, Satria yang wajahnya juga sampai memerah.
Melihat reaksi Indi dan Satria akhirnya Rama Bima melangkahkan kakinya, dia menggandeng tangan Satria untuk lebih mendekat ke brankarnya Indi. Di sana Rama Bima menautkan tangan putranya dengan tangan Indi, menantunya. Sebuah simbol dan tanda bahwa dia benar-benar merestui mereka berdua.
"Kalian bukan dua, tapi satu. Kalian bisa bersama murni karena cinta kalian yang kuat. Teruslah bergandengan tangan sampai tua nanti. Orang tua memang tempatnya salah, Satria dan Indira. Orang tua ini sekarang mengakui salahnya, dan juga memberikan restu untuk kalian berdua. Rama harap kalian berdua akan hidup bahagia."
Sungguh perkataan Rama Bima yang mengatakan bahwa sekarang dirinya memberikan restu itu adalah laksana air yang menyegarkan. Tenggorokannya kering dan ketika meneguk air itu, dahaganya menjadi hilang. Benar-benar menyegarkan.
__ADS_1
"Apa ini benar?" tanya Satria.
Sang Rama pun mengangguk perlahan. "Benar. Rama merestui kalian berdua."
"Rama bisa menerima bahwa menantunya bukan dari kalangan berdarah biru dan lebih dari itu, Rama bisa ketidaknasaban Indi?" tanya Satria.
Kembali Rama Bima menganggukkan kepalanya. "Ya, Rama bisa menerimanya. Maafkan Rama, Mbak Indi ...."
Dengan rasa menyesal, Rama Bima mengakui salahnya dan meminta maaf. Mungkin memang selama ini dia begitu kolot dan keras. Kaku juga. Namun, setelah melihat bagaimana sosok Indi, bagaimana perilakunya, bahkan sekarang melihat Indi yang mau berkorban, perlahan-lahan meluluhkan hatinya. Tepat seperti sebuah perumpamaan bahwa air yang menetes untuk waktu lama, perlahan-lahan bisa melapukkan batu.
Pengorbanan Satria, lalu Indi yang ternyata mau berjuang bersama. Kala bekerja Indi juga sangat profesional, kini semuanya seakan terbayar. Memang tidak serta-merta, ada saja kejadian yang Allah memang tunjukkan dan juga menggerakkan serta mengusik hati Ramanya.
"Bukan Rama menganggap ini hutang budi kan?" tanya Satria lagi.
Satria hanya tidak mau, jika restu ini hanya lantaran Indi yang sudah menolong Ramanya. Satria mau jika restu itu memang tulus dari hati. Bukan karena perbuatan baik yang dilakukan Indi.
"Tidak, Rama benar-benar merestui kalian berdua. Nanti, Rama akan datang ke kediaman Bapak Hadinata untuk meminta maaf dan akan menyampaikan niat baik ini."
"Mungkin terlambat Mbak Indi ... maafkan orang tua yang memang banyak salah ini," kata Rama Bima lagi.
Setelah itu Rama Bima menghela napas panjang dan menganggukkan kepalanya beberapa kali. Rama Bima sudah benar-benar yakin dengan keputusannya. Hatinya menjadi hangat karena tahu Satria memang benar-benar mendapatkan wanita yang baik.
"Baiklah, Rama pamit pulang dulu. Sehat-sehat Mbak Indi ..., besok Rama akan datang ke sini lagi dengan Ibumu," kata Rama.
Usai berpamitan, Satria kemudian mengantarkan Ramanya sampai di depan pintu. Namun, Satria juga belum banyak berbicara. Pria itu butuh waktu untuk menyelami semuanya. Tidak ingin gegabah juga.
"Jaga Indi yahh ... Rama pulang dulu," kata sang Rama.
"Baik Rama," balas Satria.
__ADS_1
Usai Ramanya pulang bertepatan dengan jam besuk yang sudah habis. Satria masuk ke dalam kamar. Dia sebenarnya ingin sekali memeluk Indi, tapi sukar melakukannya karena Indi dalam kondisi sakit dan ada jarum intravena di tangannya.
"Sudah, Sayang ... jangan menangis," kata Satria yang kini duduk di tepian ranjang.
"Mas," suara Indi terdengar dalam isakan.
"Ya, Sayang. Boleh aku memelukmu sebentar?" tanya Satria.
Indi menganggukkan kepalanya. "Boleh," jawabnya.
Setelah itu, Satria memeluk Indi dengan hangat, walau pelukannya tak terlalu erat karena Satria takut menyakiti Indi. Tubuh istrinya masih sakit dan banyak lebam, sehingga Satria sangat takut kalau sampai menyakiti Indi.
"Apa tadi enggak salah, Mas?" tanya Indi.
"Semoga saja tidak, Sayang. Fokus sembuh dulu yah, aku akan merawat kamu, Sayang," kata Satria.
Alih-alih memikirkan apa yang dikatakan Ramanya barusan, Satria lebih mengajak Indi untuk fokus dengan kesembuhannya terlebih dahulu. Jika sudah sembuh, banyak hal yang bisa dilakukan berdua.
"Kalau Rama serius itu adalah hal yang bagus untuk kita berdua. Tunggu sampai Rama datang ke Yayah dan Bunda yah," kata Satria.
"Oh, iya ... Yayahku sudah tahu aku kayak gini enggak Mas?" tanya Indi.
"Belum, besok pagi aku akan memberitahu Yayah yah. Kalau memberitahu sekarang dan jam besuk sudah selesai. Nanti Yayah dan Nda juga kepikiran. Besok pagi yah," kata Satria.
Indi pun menganggukkan kepalanya perlahan. Dia setuju dengan saran suaminya. Sebab, memang sudah jam. 20.00 malam, bisa-bisa nanti Ayah dan Bundanya justru khawatir. Oleh karena itu, memang lebih baik membagikan kabar esok pagi saja.
"Mau makan bubur dari Rama?" tanya Satria.
"Boleh, sudah diberi orang tua, harus dimakan," balas Indi.
__ADS_1
"Oke, aku suapin yah. Sembuh dulu, aku sakit kalau kamu sakit. Sebaliknya, kalau kamu sembuh, aku juga sembuh. Sembuh yahh," kata Satria.
Pedih hatinya melihat istrinya sakit seperti ini. Oleh karena itu, Satria mengharap Indi lekas pulih. Bengkak di kaki juga bukan karena cidera serius, semoga itu hanya sekadar bengkak karena tertimpa barang berat.