Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Menginap di Rumah Ayah


__ADS_3

Setelah gagal siang membara dengan suaminya, nyatanya sejak siang Sadewa menjadi posesif. Nang-Nang yang satu itu menempel terus dengan Papanya. Tidak membiarkan Papanya untuk dekat-dekat Papanya. Kalau Mamanya ingin mendekat, Sadewa sudah mengangkat jari telunjuknya dan berkata, "No. No!"


Indi sering kali tertawa sendiri karenanya. Lucu saja dengan sikap Sadewa yang posesif. Sekaligus Indi juga baru tahu kalau anak kecil bisa juga posesif.


"Nang, ikut Mama enggak? Kita bersiap dan ganti baju yuk, kita akan ke rumahnya Eyang," ajak Indi kepada Sadewa.


Akhirnya Sadewa menganggukkan kepalanya. Dia mau mengikuti Mamanya menuju ke dalam kamar, kemudian mulailah Indi berkemas membawa pakaian ganti untuk tiga hari ke depan. Rasanya tiga hari cukup untuk menemani Ayah dan Bundanya. Tidak lupa membawa perlengkapan untuk Nakula dan Sadewa.


Setelah semua perlengkapan siap, Satria memasukkan ke dalam bagasi mobil terlebih dahulu. Kemudian, Satria kembali dan mendudukkan Nakula dan Sadewa di car sheat terlebih dahulu. Semua sudah siap, barulah mereka menuju ke rumah Ayah Pandu dan Bunda Ervita. Hari masih sore, tapi mereka sudah tiba di rumah Ayah dan Bundanya.


"Assalamualaikum," salam dari Indi sembari memasuki rumah.


"Waalaikumsalam," balas Bunda Ervita.


Terlihat Bunda Ervita tersenyum lebar menyambut kedatangan anak, cucu, dan menantu. Pas sekali, ketika Bunda Ervita baru kepikiran Irene, Indi datang ke rumah. Setidaknya ingin bersedih tidak jadi, lebih malu kepada Satria.


"Baru ngapain, Nda?" tanya Indi.


"Baru duduk-duduk aja, Mbak Didi. Mau ngapain lagi," balasnya.


"Jangan sedih-sedih loh, Nda. Indi, Mas Satria, dan Nang-Nang mau izin menginap di sini yah, Nda," kata Indi.


Belum memberikan jawaban, Bunda Ervita sudah tahu bahwa memang anak sulungnya itu adalah sosok yang perhatian. Oleh karena itu, dia merasa senang ketika Indi datang ke rumah dan mau menginap.


"Tentu boleh," balas Bunda Ervita.


Selang beberapa menit kemudian Ayah Satria tiba, pria itu datang mengendarai motor matic milik Irene. Sama seperti Bunda Ervita, Ayah Pandu tersenyum melihat keluarga Indi datang ke rumah.

__ADS_1


"Dari mana, Yah?" tanya Satria.


"Beli gorengan di depan. Katanya Nda-mu pengen gorengan. Sekalian nyoba motornya Irene," balas Ayah Pandu.


Satria tersenyum, jauh dari itu sebenarnya Ayah Pandu juga kangen dengan putrinya. Hanya saja sang Ayah punya cara tersendiri untuk mengungkapkan rasa rindunya. Jika Bunda Ervita bersedih, dan wajahnya mellow. Sementara Ayah Pandu lebih mencari cara mengalihkan rasa sedihnya.


"Gorengan, Sat ...."


Ayah Pandu menawarkan gorengan yang masih hangat itu kepada Satria. Hingga akhirnya Bunda Ervita menyajikan Teh Panas dan Gorengan yang baru dibeli Ayah Pandu di piring. Indi tersenyum melihat setiap gorengan yang dibeli Ayah Pandu. Ada Mendoan, Tahu Isi, dan Ketela Goreng, semua gorengan itu adalah kesukaan Irene. Namun, Indi menyadari bagaimana pun Irene adalah darah daging Ayah Pandu. Pastilah sangat sedih. Indi juga menyadari bahwa Ayahnya terlihat biasa, tapi hatinya juga pasti sedih.


"Indi ambilkan cabe yah buat Yayah," kata Indi.


"Makasih Mbak ...."


Indi akhirnya ke dapur dan mengambilkan cabe hijau kecil-kecil yang biasanya untuk teman makan gorengan. Sekaligus mengambil tissue. Tampak Ayah Pandu mengunyah gorengan itu, dan Indi mengamati Ayahnya sesaat.


"Ayo, Mbak Didi ... dimakan juga," kata Ayah Pandu.


"Sudah pada makan belum? Nang-Nang disuapin Eyang Nda mau enggak?" tanya Bunda Ervita kepada kedua cucunya.


"Habis mandi sudah makan kok, Yang Nda. Nanti tinggal tidur malam aja," balas Indi.


Melihat Nakula dan Sadewa kemudian Ayah Pandu bercerita. "Mbak Indi, dulu usia kamu seusia Nakula dan Sadewa itu sudah Yayah gendong-gendong loh. Kadang kala Yayah ajak ke Pasar untuk melihat kios batik," ceritanya.


"Waktu itu Yayah sudah menikah dengan Bunda?" tanya Indi.


"Belum. Kamu sudah memanggil Om Yayah," balas Ayah Pandu.

__ADS_1


Indi kemudian tersenyum. Tidak menyangka dulu ketika dia masih kecil dan memanggil Yayahnya dengan sebutan Om Yayah. Satria juga turut mendengarkan cerita ayah mertuanya itu.


"Dua tahunan yah seusia Nang-Nang ini. Lucu, sukanya menangis," kenang Ayah Pandu.


"Masih kecil bisanya cuma nangis, Yah," balas Indi.


"Walau begitu, Yayah sayang sama kamu. Sering diajak Bundamu mengantarkan pesanan batik ke tempat pengiriman. Naik motor matic sambil digendong gitu sama Nda."


"Jadi, ceritain Indi sih, Yah. Malu, ada Mas Satria yang mendengarkan," balasnya.


"Gak apa-apa yah, Sat. Biar tahu masa kecilnya Indi. Mungkin nanti kalau Yayah punya menantu lagi, Yayah juga bakalan ceritain sama kecilnya Irene ke menantu Yayah," balasnya.


"Emang sudah ada calonnya ya, Yah?" tanya Satria.


"Belum ada. Katanya sih belum ada," balas Bunda Ervita.


"Oh, kirain sudah ada, Nda," kata Satria lagi.


"Kemarin waktu kami hendak pulang ke Jogjakarta. Ada pria jelang paruh baya, mungkin seusia Ayah kamu yang mengenali Irene. Dia memanggil Irene dengan panggilan Miss Irene gitu. Nda tanya kan, dia siapa? Terus katanya dia sering mengantar anak atau cucunya yang berusia 4 tahun ke sekolah. Ya Bunda sih memberitahu, kala itu kami pernah berbicara kalau Irene menjalin hubungan dengan pria yang pernah gagal di masa lalu sih tidak apa-apa. Namun, jangan dengan pria paruh baya itu. Gap usia yang terlalu jauh juga perlu dipertimbangkan. Jujur, Bunda agak khawatir," curhat Bunda Ervita sekarang.


"Mungkin hanya sebatas mengenal Irene karena bertemu di sekolah saja, Nda. Cuma menyapa aja mungkin," balas Indi.


Indi hanya tak ingin Bundanya berpikiran yang tidak-tidak. Toh, semuanya juga belum jelas. Lebih baik menilai orang kalau memang sudah sepenuhnya mengenal.


"Benar, Mbak Didi. Nda sudah beritahu langsung ke Irene juga kok. Semoga saja di Jakarta, Irene bisa menjaga diri. Mengingat tidak adanya keluarga yang berada di sana," balas Bunda Ervita lagi.


"Percaya sama Irene, Nda. Pasti dia akan menjaga dirinya. Benar kalau misalkan berhubungan dengan pria yang pernah gagal sih tidak apa-apa, yang penting jangan dengan yang seusia Ayah. Masak iya, putri bungsunya Yayah jadi sugar baby," balas Ayah Pandu dengan wajahnya yang sekarang terlihat murung.

__ADS_1


"Semoga saja tidak yah, Yah. Kita doakan juga. Kalaupun bertemu jodohnya orang Jakarta, semoga ya pria yang baik, satu iman kepercayaan, dan kalau bisa sih seperti Yayah," balas Indi.


Ayah Pandu malahan tersenyum mendengar suara Indi. Namun, di dalam hatinya, Ayah Pandu mengaminkan semoga Irena juga memiliki sosok pendamping hidup yang baik.


__ADS_2