
Pada akhirnya acara resmi para pengusaha itu tidak lagi menarik untuk Satria. Ada hati yang harus dia jaga dan dia tenangkan. Ada hati yang pastinya terluka. Setabah dan sebaiknya Indi, ketika dipermalukan oleh orang lain tentunya dia sangat tersakiti. Namun, ada satu sikap positif yang dilakukan Indi dan Satria bahwa keduanya tak berusaha membuka aib Yudha.
Satria hanya memperingatkan supaya Yudha tak membuka aib orang lain dengan sembarangan. Ketika Allah yang maha pengasih dan maha penyayang justru menutup aib hambanya, manusia yang hanya sebutir debu justru suka mengumbar-umbar aib sesamanya. Sungguh, itu adalah sikap yang begitu ironis. Akan tetapi, memang begitulah adanya.
Sekarang, Satria mengajak Indi untuk duduk menjauh. Di bawah langit malam yang sejatinya tanpa bintang, dengan memperhatikan dari jauh pesta dan relasi dari para pengusaha, Satria menggenggam tangan istrinya, beberapa kali Satria memberikan usapan di punggung tangan istrinya itu.
"Aku tahu ... kamu pasti terluka," kata Satria.
Senyuman tipis tercetak jelas di sudut bibir Indi. Dia memang agaknya harus membiasakan diri dengan luka yang sengaja harus dia tanggung itu.
"Hari di mana aku tahu bahwa aku adalah seorang anak tanpa nasab, aku harus membiasakan diriku mendengarkan berbagai nada sumbang seperti ini. Walau bukan salahku, aku dan Bunda adalah korban di sini. Namun, orang-orang akan menghakimi kami yang tidak-tidak," kata Indi.
"Terus berbesar hati, Sayang," kata Satria.
Indi kemudian menganggukkan kepalanya lagi. "Aku akan berusaha membesarkan hatiku. Ternyata seperti ini rasanya ditimpakan masa lalu yang tidak menyenangkan. Kami yang sejatinya adalah korban justru dicap yang tidak-tidak," kata Indi lagi.
Kali ini, Satria juga sependapat dengan Indi. Kronologi semua masa lalu itu sudah Indi ceritakan. Bunda Ervita dan Ayah Pandu juga menceritakannya. Selain itu, Satria juga mendengar pengakuan dan permintaan maaf dari Bapak Firhan. Sayangnya, yang tetap dihakimi yang bukan-bukan tetap adalah Indi dan Bundanya.
"Aku tahu pertemuan di sana pastilah sudah tidak menarik untukmu," kata Satria.
"Iya, moodku menjadi tidak baik lagi. Walau sebenarnya aku sendiri harus bersiap dengan hal seperti ini," kata Indi.
Baru mereka terdiam dan merenung dengan pikiran masing-masing ada seorang pengusaha muda yang mendekat kepada Indi dan Satria. Pengusaha muda yang tadi melerai Satria dan Yudha.
"Permisi," sapanya dengan menganggukkan kepalanya sejenak.
__ADS_1
"Ya, Anda ... yang tadi kan?" tanya Satria dengan mulai berdiri. Sebenarnya, Satria memang tidak begitu mengenal, tapi Satria masih ingat pria itu tadi yang melerai dirinya dan Yudha.
"Benar. Maaf, bukannya saya ikut campur. Hanya saja sikap seperti tadi tidak terpuji," kata pria itu dengan menunjuk ke dalam, tentu yang dia tunjuk adalah Yudha.
Bahkan di dalam tadi, pria itu juga sudah mengatakan adalah tidak baik untuk membuka aib seseorang. Sekarang, pria itu mendatangi Satria dan Yudha.
"Tidak apa-apa. Kami sebenarnya memiliki masalah pribadi, hanya saja tidak tepat ketika mengeluarkan emosi dalam acara seperti ini," kata Satria.
Pria itu kemudian menganggukkan kepalanya. "Anda adalah putra pengusaha jamu yang terkenal itu kan?" tanyanya.
"Benar, Rama saya yang memilikinya. Saya datang ke mari hanya untuk mewakili Rama," balas Satria.
Pria itu tersenyum dan mulai memiliki pendapat bahwa pastilah Satria dari keluarga Jawa yang terhormat. Terdengar jelas dari nama panggilan yang disematkan kepada sang ayah yaitu Rama atau Romo. Sebab, sekarang sudah begitu jarang anak yang memanggil Rama kepada ayahnya.
"Perkenalkan, saya Aksara. Saya datang ke Jogjakarta juga untuk mewakili Mama saya yang tidak bisa datang. Kami dari Jaya Corp, bergerak dalam bisnis konstruksi dan properti," katanya memperkenalkan diri.
Akhirnya kedua pria itu saling berjabat tangan. Indi juga berjabat tangan dengan pria yang bernama Aksara itu. Tidak mengira mereka memiliki relasi baru, memiliki kenalan baru yang bergerak di bidang konstruksi dan properti.
"Bukannya saya ikut campur, lain waktu mungkin lebih baik tidak perlu menanggapi jenis manusia seperti itu. Biarkan saja. Kebenaran yang sesungguhnya hanya milik Allah," kata Aksara.
"Iya, tidak apa-apa. Terima kasih tadi sudah melerai kami. Mohon maaf sudah membuat tidak nyaman," balas Satria.
"Sama-sama, saya justru merasa tidak enak. Maaf yah," kata Satria.
"Tidak apa-apa. Apa Pak Satria tidak ingin memperlebar jamunya ke Jakarta?" tanya Aksara.
__ADS_1
"Kami sudah memiliki pabrik di Solo, sementara untuk pemasaran produk juga sudah merambah ke pasar Asia dan Eropa," kata Satria.
"Oh, hebat sekali yah. Dari kota kecil, justru bisa go internasional hingga ke pasar Asia dan Eropa," balasnya.
"Pak Aksara ini berarti pekerjaannya apa?" tanya Satria.
"Oh, saya seorang Arsitek saja, Pak Satria. Sekarang sedang terlibat proyek untuk pembangunan ibukota baru di Kalimantan. Saya pikir jamunya ingin mengembangkan sayap ke Ibukota. Tidak mengira semua bisa dan sangat berkembang walau berada di kota kecil," balas Aksara.
Kalau memang dibandingkan dengan Jakarta, tentu kota Solo terbilang kecil. Akan tetapi, Aksara juga belajar bahwa dari kota kecil, sebuah pabrik bisa berkembang sedemikian pesatnya. Padahal kalau ingin mengembangkan sayap di Jakarta, agaknya menarik kalau proses konstruksi pabrik akan dipegang dan digarap oleh Jaya Corp.
"Berkat usaha dan kerja keras, Pak Aksara. Selain itu juga berani berinovasi," balas Satria.
Aksara menganggukkan kepalanya. Dia sangat setuju dengan apa yang Satria katakan. Sebab, Jaya Corp sendiri bisa berdiri hingga sekarang juga karena kerja keras Opa Jaya dan sekarang dilanjutkan oleh Mamanya. Tanpa usaha dan kerja keras rasanya tidak akan mungkin semua akan bertahan di titik kestabilannya.
"Baiklah mari Pak Satria dan istri. Lain kali silakan main ke Jakarta. Ini kartu nama saya, siapa tahu lain kali kita bisa bertemu lagi," kata Aksara.
Sepeninggal Aksara, Satria kembali duduk dengan Indi di sana. "Maaf, tadi ketemu Pak Aksara. Padahal aku niatnya mau nenangin kamu," kata Satria.
"Tidak apa-apa. Aku sudah tidak apa-apa kok, Mas," balas Indi.
"Serius? Mau pulang?" tanya Satria.
"Iya, kita pulang ke rumah Ayah dan Bunda yah Mas? Nyusulin Nang-Nang, aku kangen sama mereka," balas Indi.
Satria menganggukkan kepalanya. Tentu dia akan menuruti apa yang Indi mau. Menginap di rumah mertua juga bukan hal yang buruk.
__ADS_1
"Iya, Sayang. Yang penting kamu tidak sedih lagi. Biarin saja Yudha, yang penting kita gak membuka aibnya. Kalau kita sama seperti dia, ya kita tidak ada bedanya," kata Satria.
Indi menganggukkan kepalanya. Dia kemudian tersenyum. Bersama suami yang bijaksana, membuat Indi lebih tenang dan hatinya benar-benar menghangat dengan nasihat dari suaminya itu.