
Selang satu bulan kemudian, usia kehamilan Indi sekarang sudah menginjak enam bulan. Perutnya terlihat begitu menyembul dan bulat, semua tentu karena adanya dua janin dalam rahimnya. Sehingga ukuran perut Indi terlihat lebih besar. Selain itu, akhir-akhir ini Indi lebih sering mengantuk. Jika jam delapan malam, Nakula dan Sadewa sudah tertidur, tak berselang lama Indi juga tidur.
Satria sampai mengamati perubahan istrinya itu dan tentunya bertanya-tanya dalam hati.
"Pasti semakin capek dan lelah yah, Sayang? Usia kandungan kamu semakin besar. Sementara mengasuh Nakula dan Sadewa sendiri pastilah tidak mudah," gumam Satria sembari memperhatikan istrinya yang sudah tertidur. Padahal waktu belum ada hingga jam sembilan malam, tapi Indi sudah tertidur terlebih dahulu.
Padahal sebenarnya Satria ingin ngobrol dengan Indi sembari melihat web series favorit mereka. Akan tetapi, lantaran Indi sudah tidur terlebih dahulu, Satria pun memilih tetap berada di tempat tidur. Tak beranjak dari ranjang dan mengamati wajah istrinya.
Napas yang seirama dengan dengkuran halus, Indi juga terpejam, seakan terlihat ada kelelahan di wajahnya.
"Menjadi Mama pasti tidak mudah yah Sayang? Apalagi kedua putra kita sangat aktif. Kamu sendiri juga hamil, jadi pastinya lelah banget. Selama ini kamu juga tidak pernah mengeluh."
Banyak gumaman dalam hati Satria, hingga akhirnya tangan Satria bergerak merapikan anakan rambut di kening istrinya. Setelahnya, Satria menarik selimut untuk menyelimuti tubuh istrinya. Sebelum Satria tertidur, dia berikan kecupan hangat di kening istrinya terlebih dahulu.
"Aku selalu mencintai kamu, Sayang ...."
Barulah sekarang, Satria benar-benar berbaring dan memeluk istrinya itu. Istrinya yang tengah hamil juga butuh istirahat. Oleh karena itu, Satria tidak akan mengganggu istrinya. Memberikan waktu untuk beristirahat bagi istrinya itu.
...☘️☘️☘️...
Keesokan Paginya ....
Matahari belum sepenuhnya menyapa, tapi Indi dan Satria sama-sama sudah terbangun. Ya, keduanya bangun lebih pagi dibandingkan biasanya. Mungkin juga karena semalam tidur lebih awal, sehingga sekarang keduanya sama-sama sudah bangun.
"Pagi, Sayang," sapa Satria.
__ADS_1
"Pagi, Mas. Aku kemarin ketiduran yah, Mas? Rasanya ngantuk banget, Mas. Maaf ..., malahan ninggal kamu bobok duluan," kata Indi.
Satria hanya tersenyum saja mendengarkan ucapan istrinya itu. "Tidak apa-apa. Kamu juga pasti kecapekan, Sayang. Apalagi usia kandungan kamu sudah enam bulan, semakin besar. Di badan juga semakin tidak enak dan mudah lelah," kata Satria.
Sungguh, Satria sangat paham bahwa ketika kehamilan semakin bertambah bulan rasanya terasa berat. Area panggul yang terasa kencang, tak jarang merasakan heart burn atau rasa panas di dada, perubahan hormonal yang membuat mood juga naik turun. Jika istrinya itu tidur terlebih dahulu, bukan masalah besar untuk Satria.
"Padahal kemarin kan udah janjian mau nonton web series barengan. Maaf yah, Mas," balas Indi.
"Tidak apa-apa, Sayangku. Kalau capek ya istirahat saja. Kamu juga sedang hamil, santai saja."
Bersyukurnya Indi karena suaminya benar-benar tidak marah. Melainkan, Satria justru tidak masalah ketika Indi tidur dan istirahat terlebih dahulu. Satria begitu memahami istrinya dan usia kehamilan yang semakin membesar.
"Makasih banyak, Mas. Ya sudah, aku mau turun dulu. Mau buatin sarapan untuk tiga pria tercakepku," kata Indi yang hendak turun dari tempat tidur.
Akan tetapi, tangan Satria buru-buru menahan istrinya. Ya, tangan Satria segera merangkul Indi.
"Takut enggak keburu, Mas. Masak dua sayur soalnya. Untuk kita dan untuk Nakula dan Sadewa," balas Indi.
"Sepuluh menit saja, sini," balas Satria.
Pria itu kembali merangkul istrinya, membawa kepala Indi bersandar di dadanya. Satria hanya meminta waktu sepuluh menit saja. Padahal biasanya, Indi terbangun dan segera bergulat di dapur, menyiapkan sarapan untuk suami dan anak-anaknya. Akan tetapi, sekarang justru Satria menahan.
"Tumben, biasanya gak pernah kayak gini?" tanya Indi.
Satria kemudian menganggukkan kepalanya. "Kangen kamu, Sayang. Sama ada yang ingin aku sampaikan," kata Satria lagi.
__ADS_1
Indi sedikit menengadahkan wajahnya, dia siap mendengarkan apa yang hendak Satria sampaikan. Hingga akhirnya Satria kembali berbicara.
"Sayang, kalau kamu sudah merasa kelelahan mengasuh Nakula dan Sadewa, kita memakai pengasuh saja. Nakula dan Sadewa sama babysitter. Nanti kalau babies sudah lahir, kamu pegang sendiri tidak apa-apa. Aku kasihan melihat kamu kelelahan," kata Satria sekarang.
"Aku masih bisa kok, Mas," balas Indi.
"Kehamilan kamu semakin besar, Sayang. Dengan semakin besarnya kehamilan, aktivitas kamu juga akan terbatas. Kalau enggak mau, memakai ART saja," kata Satria.
Itu adalah saran dari Satria. Setidaknya istrinya tidak akan kelelahan dan memiliki waktu untuk dirinya sendiri. Selain itu, Indi juga bisa bersiap untuk persiapan persalinannya.
"Kelihatannya belum perlu kok, Mas. Aku masih bisa," kata Indi.
"Jangan memaksakan diri sendiri, Sayang. Kehamilan kamu semakin besar, bulan depan saja sudah tujuh bulan loh," balas Satria.
Indi kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, aku tahu. Cuma, aku akan lebih berhati-hati kok. Tidak akan kelelahan dan kecapekan. Nanti kalau memang sudah waktunya bahwa aku memang membutuhkan pengasuh atau ART, pasti aku bakalan bilang sama Mas," balasnya.
Satria terdiam. Istrinya memang seperti itu, selagi Indi bisa melakukan sendiri pastilah itu adalah opsi yang akan Indi pilih. Padahal Satria sendiri tak keberatan jika memang mereka memakai pengasuh atau ART yang bisa meringankan pekerjaan rumah tangga Indi.
"Yakin?"
"Iya, yakin. Aku masih bisa. Aku masih bisa handle dan mengasuh Nakula dan Sadewa kok. Masih enjoy menikmati semuanya. Tenang saja, Mas," balas Indi.
"Baiklah, kalau itu maumu. Harapanku sih, kamu bisa memberi waktu untuk dirimu sendiri. Bersiap juga untuk bulan-bulan jelang trimester akhir. Rileks, Sayang. Hanya tinggal beberapa bulan saja kok," kata Satria.
"Kamu perhatian banget. Bumil yang punya suami perhatian seperti kamu bakalan bahagia banget, gak kerasa capeknya. Justru semakin indah menjalani hari-hari jelang persalinan," kata Indi.
__ADS_1
Itu adalah sebuah pengakuan yang jujur bahwa istri yang sedang hamil dan mendapatkan perhatian dari suaminya pastilah sangat senang. Tidak khawatir dengan apa pun, karena suaminya memberikan perhatian lebih dan selalu berusaha mengakomodasi kebutuhan istri. Sama seperti Satria yang begitu memahami Indi, tak ingin istrinya itu kelelahan apalagi Indi sendiri sedang hamil besar.
Alih-alih membuat Indi lelah dan capek, Satria justru menginginkan istrinya bisa bersantai sejenak dan menikmati masa kehamilan menjelang memasuki trimester tiga. Ketika Indi bahagia, janin dalam rahimnya juga bahagia. Selain itu, mood Bumil juga akan lebih baik dan terjaga. Bersyukurnya Indi karena dia memiliki suami yang benar-benar baik.