
"Satria, kamu tidak boleh menikahi Indira!"
Sontak saja Satria dan Bu Galuh yang ada di sana, benar-benar bingung. Apa yang sebenarnya terjadi sampai suaminya tiba-tiba menolak untuk merestui rencana pernikahan Indira dan Satria. Padahal sebelumnya suaminya merestui dan yang juga menyarankan agar Satria dan Indira menikah saja. Akan tetapi, yang terjadi sekarang justru Rama Bima mengatakan sudah Satria tidak menikah Indira.
"Kenapa, Rama?" tanya Bu Galuh kepada suaminya.
"Kenapa, Rama ... apa ada yang salah?" tanya Satri.
Wajah keduanya tampak panik dan juga bingung. Sebab, mereka sebelumnya juga tidak menyangka bahwa Ramanya akan berbicara seperti itu. Sekaligus, Satria pun juga bingung karenanya.
"Kamu tidak tahu asal-usulnya yang sebenarnya, tapi sudah berniat suka dan meminang. Lihatlah, dia bukan darah daging Hadinata!"
Rama Bima mengatakan itu dengan melempar surat akta kelahiran Indi ke wajah Satria. Begitu kesal dan marah, ketika keluarga Hadinata tidak mengatakan bahwa ada anak haram, anak yang tidak memiliki nasab di dalam rumahnya. Itu berarti, sang Bunda yang berlaku dan tidak benar dan melahirkan Indi, lantas keluarga Hadinata yang menerima dan berbelas kasihan kepadanya.
Satria pun mengambil akta kelahiran itu, sedikit membungkukkan badannya, dan mengambilnya. Dengan cermat, Satria membaca perlahan setiap kata yang tertulis di akta kelahiran itu dan memang melihat ada yang janggal, bahwa Indi lahir dari Bundanya saja. Tidak tertera nama Ayahnya.
Ibu Galuh pun mendekat ke Satria dan turut mencermati Akta kelahiran itu. Jika, Satria menunjukkan ekspresi bingung, Bu Galuh justru menitikkan air matanya. Yang dirasakan Bu Galuh justru dia iba dengan Indi.
"Gadis yang kamu cintai itu hanya gadis tanpa nasab. Hanya mengikuti nasab ibunya!"
__ADS_1
Lagi Rama Bima membentak dengan suara yang lantang. Lantaran emosi, wajah Rama Bima pun sampai memerah. Agaknya, fakta ini benar-benar tidak bisa diterima Rama Bima. Di dalam darahnya, di dalam keturunannya masih mengalir darah bangsawan, tapi bagaimana bisa putranya mencintai gadis yang tidak jelas siapa ayahnya.
Dalam masyarakat, anak yang tidak jelas status nasabnya disebut 'anak zina'. Asal-usul anak merupakan dasar untuk menunjukkan hubungan kemahraman (nasab) dengan ayahnya. Jadi, Indi sendiri di sini adalah anak tanpa nasab, dia anak yang lahir di luar perkawinan dan hanya mempunyai hubungan nasah dengan ibunya dan keluarga ibunya saja.
"Rama," jawab Satria dengan lirih.
"Mau berkata apa lagi, Sat?" tanya Rama Bima yang sudah benar-benar marah sekarang.
"Rama ..., tapi Satria ...."
"Tapi apa? Kamu suka sama dia? Kamu mencintai dia? Lupakan perasaanmu itu, Sat!"
Lagi, Rama Bima membentak putranya. Menurutnya juga, Satria harus melupakan perasaannya kepada Indi. Toh, semuanya belum terlambat.
"Dia tidak bernasab, Sat. Asal-usulnya saja tidak jelas. Siapa ayah kandungnya? Kalau dari keluarga baik-baik kenapa tidak menikahi ibunya dulu? Anak tanpa nasab itu sama saja dengan anak hasil zina!"
Ya, dalam konotasi yang negatif, sering kali anak tanpa nasab disebut dengan anak hasil zina. Nasab merupakan pengakuan syara’ bagi hubungan seorang anak dengan garis keturunan ayahnya, yang saling menimbulkan hak dan kewajiban. Status anak di luar nikah yakni anak yang dibuahi dan dilahirkan di luar perkawinan yang sah, menurut Hukum Islam disamakan dengan anak zina dan anak li’an.
"Rama, jangan begitu," balas Satria yang matanya sudah berkaca-kaca.
__ADS_1
Sepanjang hidupnya, Satria begitu taat dengan Ramanya. Tidak pernah memberontak. Sangat patuh dan penurut. Hanya kali ini saja, Satria ingin mempersunting wanita pilihan hatinya. Walau, gadis yang dia cintai tanpa nasab, Satria bisa menerimanya.
"Intinya, Rama tidak setuju. Gadis tanpa nasab tidak layak, tidak sepadan dengan putra ningrat dan berdarah bangsawan seperti kamu!"
"Rama, coba dipikirkan dulu," balas Bu Galuh.
"Diam, kamu! Wanita seperti kamu tidak perlu menyumbang suara," balas Rama Bima.
Seketika Bu Galuh terdiam. Air matanya terus berlinang. Sakit sekali dibentak oleh suaminya sendiri di hadapan putranya. Namun, Bu Galuh tidak menyahut. Memilih untuk diam.
"Rama, walau Indi tidak jelas ayah kandungnya siapa, dia tumbuh menjadi anak yang baik. Dia disayangi keluarga Hadinata. Tidak mungkin juga keluarga Hadinata yang terkenal itu akan menerima Bundanya Indi begitu saja. Pastilah ada nilai positif dari Bundanya," balas Satria.
"Keputusan Rama sudah bulat," balas Rama Bima.
"Rama, mohon ... Satria tidak bisa jika bukan dengan Indira."
"Trah keluarga Negara tidak akan pernah bisa menerima gadis tanpa nasab seperti itu," balas Rama Bima lagi.
"Mohon Rama ...."
__ADS_1
"Keputusan sudah final, Satria ... besok Rama akan datang ke sana dan memutuskan semuanya. Membatalkan pertunangan dan menjalin kekeluargaan dengan keluarga Hadinata!"
Jika Rama Bima sudah pada keputusannya, sementara Satria akan berusaha untuk memperjuangkan cintanya. Dia bisa menerima Indi. Tidak mempermasalahkan asal-usul dan nasabnya Indi, karena Satria yakin bahwa Indi adalah wanita yang baik. Satu-satunya wanita yang menjadi pilihan hatinya.