Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Bertemu Babies Twin!


__ADS_3

Pulang dari klinik, hati Indi tampak sangat cemas. Bahkan Bumil itu sempat menangis sesaat di dalam mobil. Dia masih tidak menyangka akan disuruh dokter untuk operasi Caesar. Padahal besar harapan Indi untuk bisa bersalin secara normal, tapi dengan berkurangnya air ketuban dengan tiba-tiba, maka langkah terbaik memang harus segera melahirkan bayinya.


Sebab dengan jumlah air ketuban yang sedikit bisa menyebabkan masalah kesehatan pada bayi, dan menyebabkan masalah pada bayi, hingga komplikasi selama persalinan. Oleh karena itu, advice dari dokter Arsy juga adalah advice yang tepat.


"Ditenangin hatinya dulu, Sayang," kata Satria dengan menggenggam tangan istrinya.


Air mata Indi sudah berjatuhan hingga membasahi pipinya. Dia begitu cemas rasanya, harus mendadak ke rumah sakit, selain itu juga kalut dengan kondisi janinnya.


"Kita pulang dulu?"


"Ii ... iya, packing dulu."


Satria mengemudikan mobilnya sampai di rumah. Dia membantu Indi melakukan packing dulu. Di sana Satria juga memberikan pelukan kepada istrinya terlebih dahulu.


"Sini, peluk dulu ... kamu emosional banget. Kenapa? Cerita sama aku dulu."


Indi menggelengkan kepalanya, tapi seluruh air matanya sudah tumpah. Rasanya cemas dan kalut di saat yang bersamaan. Sementara Satria masih berusaha untuk menenangkan istrinya.


"Tenang dulu. Sekarang mikirnya kita akan segera twins kita," kata Satria.


"Iya, Mas ...."


Membantu Indi melakukan packing, setelah itu keduanya meninggalkan rumah dan menuju ke rumah Bunda Ervita terlebih dahulu. Indi harus menemui kedua putranya dulu dan berpamitan dengan kedua orang tuanya. Sepanjang perjalanan juga Satria terus mengatakan afirmasi positif kepada istrinya itu.


Begitu sudah di kediaman Ayah Pandu dan Bunda Ervita, Indi tak kuasa menahan air matanya lagi. Tentu Bunda Ervita khawatir dengan putri sulungnya itu.


"Kenapa Mbak?"


"Nda, Indi titip Nakula dan Sadewa ya Nda. Malam ini juga Indi harus ke rumah sakit," katanya dengan berurai air mata.


Ayah Pandu memperhatikan Indi yang tengah menangis. Sebenarnya apa yang terjadi, tapi Ayah Pandu menunggu penjelasan dari anaknya itu.

__ADS_1


"Air ketubannya Indi tiba-tiba menyusut, nyaris kering katanya dokter. Jadi, malam ini juga ... Indi akan dirawat di rumah sakit dan besok akan dilakukan operasi Caesar," jelas Satria.


Bunda Ervita menganggukkan kepalanya, dia mengerti kondisi Indi sekarang. Akhirnya, Bunda Ervita pindah tempat dan duduk di dekat putrinya itu. Begitu juga Ayah Pandu yang berpindah tempat, sehingga sekarang Indi duduk dengan diapit oleh Ayah Pandu dan Bunda Ervita.


"Menangis boleh, tapi jangan lama-lama. Kasihan baby kamu ikutan sedih nanti. Ayah itu percaya bahwa kehamilan itu selalu punya cerita, jadi sekarang jangan sedih lagi. Harus bahagia, anggap besok kamu akan bertemu untuk baby kembar. Nakula dan Sadewa akan aman di sini, Ayah dan Bunda akan mengasuh mereka. Kamu fokus saja dengan persalinan kamu," kata Ayah Pandu.


"Benar, Mbak. Tenang yah ... cuma semalam dan besok sudah bertemu dengan Baby Girls. Ada Satria juga yang akan selalu menemani kamu kok," balas Bunda Ervita.


Indi akhirnya meminta doa dan restu agar persalinannya besok berjalan dengan lancar. Tidak lupa, Indi menitipkan Nakula dan Sadewa terlebih dahulu.


"Doanya ya Yayah dan Nda. Padahal Indi berharapnya itu bisa melahirkan secara normal. Ternyata malahan dokter mengatakan Caesar," kata Indi.


"Tidak apa-apa, Mbak ... mau normal atau Caesar yang penting kamu dan bayinya sehat dan selamat."


Setelah berpamitan dengan orang tuanya, Indi mencium Nakula dan Sadewa yang sudah tidur. Barulah dia bersama Satria menuju ke rumah sakit. Menuju rumah sakit, air mata Indi agak reda. Dia sedikit menyadari bahwa normal dan caesar memang hanya metode persalinan saja. Menenangkan hatinya sendiri bahwa besok akan bertemu dengan bayinya.


Di rumah sakit, Satria menggandeng tangan istrinya. Dia mengurus terlebih dahulu pendaftaran dan administrasi untuk istrinya. Tidak lupa membawa serta surat rujukan yang diberikan oleh dokter Arsy. Indi yang menunggu ditanyai perawat apakah dia ada alergi obat, sekaligus diambil darahnya untuk diperiksa di laboratorium jika ada alergi dan sebagainya.


"Masih menunggu kamarnya dulu, Sayang," kata Satria.


Hari semakin malam, tapi Indi masih belum mendapatkan kamar. Barulah menjelang jam 23.00 malam, Indi mendapatkan kamar. Satria pun mendampingi istrinya itu. Begitu sudah berada di dalam kamar, ada perawat yang datang dan memberikan instruksi kepada Indi bahwa dia diperbolehkan makan dan minum sampai jam 04.30 pagi saja, dan setelahnya sudah mulai puasa.


...🍀🍀🍀...


Keesokan Harinya ....


Kurang lebih menjelang jam 12.30 siang, perawat menjemput Indi di dalam kamarnya. Indi dibawa ke ruang operasi.


"Boleh berdoa dulu, Bapak. Ini nanti yang berada di ruang operasi hanya Bu Indira saja yah. Bapak bisa menunggu di luar. Proses pembedahan dan mengeluarkan bayinya berlangsung sepuluh menit, dan menjahit kembali setengah jam. Sehingga operasi caesar ini berlangsung empat puluh hingga empat puluh lima menit," jelas perawat.


Indi sudah mengenakan baju operasi berwarna hijau, ada hair cap juga di kepalanya. Satria menggenggam tangan istrinya itu.

__ADS_1


"Sayang, di dalam nanti kamu akan sendiri. Bukan berarti aku tidak menyertai. Aku akan selalu mendampingi kamu, Sayang. Allah menyertai kita berdua. Jangan tegang dan panik yah ... kurang dari satu jam, kita akan bertemu putri-putri kecil kita."


Kala mengatakan semua itu, Indi berlinang air mata. Satria kemudian menundukkan kepalanya. Dia berikan kecupan di kening istrinya."I Love U, Sayang."


Perlahan dia seka air mata istrinya, kemudian Indi menganggukkan kepalanya. Di saat bersamaan, perawat datang dan mendorong brankar Indi masuk ke dalam ruang operasi. Sudah ada tim dokter yang bersiap di sana.


Pertama dokter Anestasi datang dan meminta Indi duduk dengan memeluk bantal, akan dilakukan anestasi. "Saya akan bius di tulang belakang yah, Bu. Bagian perut hingga kaki Ibu nanti akan kesemutan. Saat operasi berlangsung tidak akan merasa sakit yah," kata dokter Anestesi.


"Baik dokter."


"Kakinya sudah merasa kesemutan, Bu?"


"Iya," jawab Indi.


Mulailah ada dokter bedah yang mulai membedah lapisan demi lapisan di perut Indi. Dokter Arsy juga sudah bersiap di sana. Tepat sepuluh menit sudah terdengar tangisan bayi di sana.


Oek ... Oek ...


"Selamat yah, Mom ... bayi pertama yah ... Baby girl," kata dokter Arsy dengan mengangkat bayi kembar pertama.


Mendengar tangisan bayi seketika air mata Indi kembali tumpah. Dia menangis, tapi tangisan ini adalah tangisan bahagia. Bahkan Indi terisak-isak.


"Benar loh, Mom. Air ketubannya nyaris kering," kata dokter Arsy.


Selang satu menit kemudian bayi kembar kedua diangkat dari perut Indi. Suara tangisan kali ini lebih menggema. Indi yang masih menangis benar-benar tidak bisa menahan air matanya. Sangat haru.


"Baby girl kedua yah Mom Indira. Selamat," kata dokter Arsy lagi.


Kedua bayinya sudah berhasil diangkat dengan selamat. Ada dokter anak juga yang memeriksa kondisi Bayi kembar dengan jenis kelamin perempuan itu, sementara dokter bedah dan dokter Arsy mengatupkan kembali perut Indi dengan memberikan jahitan di sana.


"Selamat Mom. Sudah bertemu debaynya. Semangat Mom, jangan sedih terus," kata dokter Arsy.

__ADS_1


Indi masih menangis. Tidak pernah membayangkan dia sekarang berada di ruang operasi sendirian. Dulu melahirkan Nakula dan Sadewa ada tangan Satria yang menggenggam tangannya, melewati proses demi proses, sementara sekarang dia berada di ruang operasi sendiri. Walau demikian, Indi sangat lega kedua putri kembarnya sudah berhasil dilahirkan dengan sehat, lengkap, dan selamat.


Welcome to the Babies Girl! 💕💕


__ADS_2