Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Wisuda Irene


__ADS_3

Selang beberapa bulan kemudian, di Jogjakarta kediaman Ayah Pandu dan Bunda Ervita kali ini sedikit ada pekerjaan. Semua itu, karena Bunda Ervita yang sibuk membuat seragam dari kain batik yang akan mereka kenakan bersama untuk acara Wisuda Irene minggu depan.


Akhirnya, setelah menyelesaikan skripsi dengan semua suka dukanya, Irene dinyatakan lulus juga. Memang sudah menjadi kebiasaan dari Bunda Ervita yang selalu menyiapkan sendiri seragam keluarganya kala ada acara tertentu.


"Masih belum siap, Nda? Minggu depan loh wisudanya Irene," tanya Ayah Pandu yang melihat istrinya tengah menjahit sendiri kemeja batik itu.


"Jadi dong, Yah. Palingan tiga hari lagi juga sudah jadi. Bunda malahan sudah buatkan kemeja batik kecil untuk Nang-Nang. Biar cakep nanti memakai batik," kata Bunda Ervita.


"Bunda ini yang didahulukan malahan untuk cucunya dulu," kata Ayah Pandu.


Bunda Ervita mengangguk dan tertawa. "Lihat aneka kain dan motif batik itu bikin Bunda pengen buatin kemeja-kemeja kecil untuk Nakula dan Sadewa. Apalagi mereka cakep kalau memakai batik."


Si Eyang yang tak jemu-jemu memuji paras tampan kedua cucu kembarnya. Keterampilan membatik dan menjahit sering dimanfaatkan Bunda Ervita untuk membuatkan baju-baju batik untuk Nakula dan Sadewa. Selain itu, ada pula koleksi Batik Hadinata untuk anak-anak. Terinspirasi dari Nakula dan Sadewa yang memang begitu pantas mengenakan batik.


"Mau Yayah bantuin enggak?" tanya Ayah Pandu.


"Enggak usah. Sudah hampir selesai kok. Yayah tenang, Nda bisa menyelesaikannya."


Baru saja pasangan itu berbicara. Sudah terdengar ada mobil yang terparkir di depan rumah. Rupanya Indi dan Satria datang bermain ke rumah Ayah Pandu dan Bunda Ervita.


"Assalamualaikum Eyang ... kula nuwun," sapa Indi dan Satria bersamaan.


Langkah kaki kecil dari dua anak kembar tampak berjejak di pendopo. Bahkan tawanya terdengar menggema. Tidak berselang lama, Ayah Pandu dan Bunda Ervita keluar dari rumah, menyambut kedatangan anak dan cucu di rumah. Jika Nakula dan Sadewa datang ke rumah, secara otomatis rumah itu menjadi begitu ramai.


"Baru saja Ayah dan Bunda menceritakan Nakula dan Sadewa," kata Ayah Pandu.


"Kenapa, Yah ... ceritain hebohnya Nang-Nang yah?" tanya Indi.


"Enggak dong. Nang-Nang kan cakep gini. Itu loh, Bundamu ... seragam untuk keluarga belum jadi, malahan kemeja untuk cucunya udah jadi duluan," cerita Ayah Pandu.


Indi dan Satria yang mendengarkannya pun tertawa. Itu artinya cucunya yang didahulukan terlebih dahulu. Seragam keluarga belakangan.


"Seragam apa, Yah?" tanya Satria.

__ADS_1


"Seragam untuk wisudanya Irene minggu depan. Ikutan yah, di kampusnya Irene kok," ajak Ayah Pandu.


"Ikutan gak full yah, Yah. Biasa membawa dua bocils, takutnya nanti berisik di auditorium," balas Indi.


Ayah Pandu kemudian menganggukkan kepalanya lagi. "Iya, gak apa-apa yang penting kalian berempat datang dan nanti kita foto bersama," kata Ayah Pandu.


"Baik, Ayah. Sekarang Irene di mana?" tanya Indi.


"Adikmu sedang di kampus. Ada acara gitu di kampus dan persiapan gladi resik katanya." Giliran Bunda Ervita yang membalas pertanyaan Indi.


"Oh, iya. Dulu Indi juga gladi resik dulu waktu mau wisuda. Pulangnya mampir beli Mie Ayam sama Mas Satria," kenang Indi dengan tersenyum.


Ya, dia mengingat lagi waktu masih kuliah. Gladi resik bersama waktu wisuda, dan pulangnya mereka membeli Mie Ayam di dekat kampus mereka. Tidak terasa waktu sudah lama berlalu, sekarang mereka sudah menjadi orang tua dari dua putra kembar mereka yaitu Nakula dan Sadewa.


"Indah yah, kalau teringat masa dulu," balas Ayah Pandu.


Satria tersenyum dan memberikan anggukan samar. "Iya, serasa ada manis-manisnya."


Mereka yang berada di sana pun tertawa mendengar jawaban Satria. Sebab, jawaban itu mengingatkan kepada salah satu produk air dalam kemasan. Indi juga tertawa mendengar apa yang disampaikan suaminya barusan.


Seminggu Kemudian ....


Hari wisuda Irene pun tiba. Dengan kebaya dan kain batik yang melilit pinggang hingga mata kakinya, Irene tampil begitu cantik pagi ini. Gadis itu terlihat sangat bahagia ketika berhasil mencapai garis akhir dari pendidikannya di strata satu.


Walau akhir dunia perkuliahan, tapi ini adalah awal dari memasuki dunia kerja. Dengan sanggulan dan make up flawless serta baju toga yang sekarang dikenakan, seakan menjadi pencapaian membahagiakan untuk Irene. Ayah Pandu dan Bunda Ervita juga sangat senang akhirnya bisa menyekolahkan putrinya hingga sarjana.


"Senang dan bangganya aku. Walau Bundanya hanya lulusan SMA, kedua putrinya mendapatkan title Sarjana," kata Bunda Ervita dengan menitikkan air matanya.


Walau Bunda Ervita tidak berpendidikan tinggi dan hanya sampai jenjang SMA, tapi Indi dan Irene berhasil sekolah hingga sarjana. Setidaknya anak-anaknya mendapatkan pendidikan tinggi. Mengikuti jejak Ayah Pandu yang juga berpendidikan tinggi.


"Nda kalau mau kuliah juga bisa. Tak ada kata terlambat kok untuk mengejar pendidikan," kata Ayah Pandu.


"Gak usah, Yah. Melihat Indi dan Irene saja sudah membuat Bunda bahagia. Mereka berhasil mengikuti jejaknya Yayah," balas Bunda Ervita.

__ADS_1


Memasuki auditorium bersama, Bunda Ervita digandeng oleh suaminya. Mengikuti prosesi demi prosesi wisuda, hingga akhirnya mereka melihat prosesi utama. Di mana pembawa acara memanggil nama satu per satu wisudawan dan wisudawati, kemudian diberikan jabat tangan oleh Rektor, Dekan, dan Guru Besar.


"Irene Retania Putri Hadinata Sarjana Pendidikan konsentrasi Pendidikan Anak Usia Dini lulus dengan predikat Cumlaude!"


Bunda Ervita merasa merinding ketika nama putrinya disebutkan lulus dengan predikat Cumlaude. Kembali sang Bunda meneteskan air matanya. Benar-benar terharu. Ayah Pandu pun menyerahkan tissue kepada istrinya itu.


"Jangan menangis, Nda," kata Ayah Pandu.


"Terharu dan sekaligus bangga. Indi dan Irene bisa menyelesaikan kuliah. Keduanya sama-sama Cumlaude," balas Bunda Ervita.


Ayah Pandu tersenyum. "Itu karena kamu mendidik mereka dengan sangat baik."


"Tidak juga. Aku justru wanita yang mengalami kegagalan dalam hidup, Yah," balas Bunda Ervita.


"Justru mereka yang pernah gagal akan lebih berhati-hati dalam menjalani hidup dan menginginkan anak-anaknya jauh lebih berhasil daripada dirinya sendiri," balas Ayah Pandu.


Bunda Ervita kemudian menganggukkan kepalanya. Sejak kegagalan di masa muda yang seolah merenggut semuanya, Bunda Ervita memang lebih berhati-hati dalam menjalani hidup. Tentu dia tidak ingin gagal lagi. Dia boleh gagal, tapi dia menginginkan keberhasilan untuk kedua putrinya.


Selesai prosesi wisuda di auditorium, kemudian Ayah Pandu dan Bunda Ervita keluar terlebih dahulu dari auditorium. Lantas, di luar mereka bertemu dengan keluarga Indi dan Satria yang sengaja baru tiba.


"Baru saja datang?" tanya Ayah Pandu.


"Iya, Ayah. Yang penting ikut foto sama Tante Irene," balas Indi.


"Bener," balas Ayah Pandu sembari menganggukkan kepalanya.


Menunggu beberapa saat, yang usai diwisuda baru saja keluar dan bergabung dengan keluarganya. Indi menyuruh Nakula dan Sadewa memberikan hadiah untuk Tantenya. Ada boneka teddy mengenakan toga dan balon voil dengan tulisan graduation Tante Irene.


"Happy Graduation ...."


"Wah, yang memberikan dua keponakan tercakepnya Ante. Sayang dulu dong," kata Irene.


Sewaktu menyayang Tante, kedua bibir Nakula dan Sadewa justru membuka hingga ludah mereka mengenai pipi Irene. Irene tertawa jadinya.

__ADS_1


"Ini mah bukan disayang, justru basah loh pipinya Ante," balas Irene.


Semua yang ada di sana bahagia. Juga sikap lucu Nakula dan Sadewa yang menggemaskan. Irene juga bahagia sekali wisudanya dihadiri keluarga besarnya dan dua keponakannya.


__ADS_2