Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Cinta Tanpa Syarat


__ADS_3

Sore hari ini, Satria membawa Indi pulang ke rumah. Syukurlah, Dokter memperbolehkan rawat jalan kepada Indi. Itu membuat Satria lebih tenang. Walau tentu, kala di rumah nanti Satria akan fulltime merawat Indi terlebih dahulu.


Bersyukurnya Satria karena memang dia sudah pamit kepada Eyang Dirja, selain itu Eyang Dirja juga meminta cucunya itu untuk merawat istrinya terlebih dahulu. Satria bahkan yang menata pakaian kotor mereka dan memasukkan ke dalam kantong plastik. Selain itu, Satria juga melunasi semua biaya perawatan Indi dan sekaligus menebus obatnya.


Sore itu juga kedua belah keluarga kembali ke Rumah Sakit. Siap membantu Satria dan Indi.


"Mana yang perlu dibawakan, Sat?" tanya Rama Bima.


"Hanya tas pakaian kotor saja kok, Rama. Biar Satria saja," balasnya.


"Sini, biar Rama yang bawakan," balas sangat Rama.


Kemajuan yang begitu pesat dari seorang Rama Bima. Biasanya sang Priyayi itu begitu keras dan idealis, tapi sekarang Rama Bima mau membantu membawakan tas jinjing milik Satria. Sementara Bunda Ervita membawakan roti dan buah yang memang diberikan keluarga kalau menjenguk Indi.


"Aku gendong, pindah ke kursi roda dulu ya, Sayang. Belum bisa berjalan kamunya," kata Satria.


"Iya, Mas," balas Indi.


Satria pun membopong Indi turun dari brankar dan memindahkannya ke kursi roda. Satria berusaha memposisikan kaki Indi dengan senyaman mungkin, terutama untuk kakinya Indi yang sedang bengkak.


"Nyaman enggak?" tanya Satria.


"Iya, sudah nyaman kok," balas Indi.


Satria sendiri yang mendorong kursi roda itu. Diikuti oleh Rama Bima dan Bu Galuh, Ayah Pandu dan Bunda Ervita. Kedua belah pihak orang tua sama-sama akan membantu Satria dan Indi.


"Hati-hati sedikit tanjakan, Sat," kata Ramanya mengingatkan.


"Makasih, Rama," balas Satria.

__ADS_1


Begitu hendak menaiki lift juga Rama Bima yang berinisiatif membukakan lift. Dia juga membantu memposisikan kursi roda Indi dengan benar. Ayah Pandu merasakan hatinya benar-benar hangat. Tandanya memang Besannya itu sudah melembutkan hatinya, bisa menunjukkan perubahan melalui perbuatannya. Tentu Ayah Pandu merasa sangat bersyukur jadinya.


Dari kursi roda ke mobil juga Satria kembali menggendong Indi. Indi melihat wajah suaminya, sudah pasti tidak ringan menahan bobot tubuhnya, tapi Satria tak mengeluh sama sekali.


"Sudah enak duduknya?" tanya Satria.


"Sudah, Mas. Kakiku yang bengkak, jadi gak bisa memakai sandal," kata Indi.


Itu memang karena ada satu kakinya yang bengkak. Sehingga tak bisa memakai sandal atau sepatu. Satria tersenyum perlahan.


"Nanti kalau sudah pilih bengkaknya, aku beliin sepatu baru," kata Satria.


Sekadar menghibur istrinya, itu juga supaya Indi tidak sedih dengan tubuh yang masih bengkak di wajah dan kaki. Harus bahagia, supaya lebih cepat untuk sembuh.


Menempuh perjalanan dari rumah sakit menuju ke rumah Satria. Nyatanya orang tuanya juga masih mengikuti. Begitu tiba di rumah, Satria sendiri yang menggendong Indi untuk masuk, sementara Bu Galuh yang membukakan pintu rumahnya.


"Tidak apa-apa, Sat," balas dua pasangan orang tua itu.


Tidak langsung ke kamar, tapi Satria mendudukkan Indi di ruang tamu dulu. Bersama Ayah dan Bunda, Rama dan Ibu yang masih berada di sana. Tidak sopan rasanya jika orang tua masih ada, dan sudah naik ke kamar.


"Sat, bisa mengurus semua sendiri?" tanya Ayah Pandu.


"Bisa Ayah ... sangat bisa," jawab Satria.


Ini adalah kesungguhan hati Satria. Dia akan mengurus Indi dengan kedua tangannya sendiri. Menemani Indi dalam sehat dan sakit, menikmati semua prosesnnya bersama-sama akan benar-benar Satria lakukan.


"Kalau butuh bantuan bilang yah, Sat," kata Bunda Ervita.


"Iya, siap, Bunda," balas Satria lagi.

__ADS_1


Setelah itu, orang tua berpamitan untuk pulang. Tentu mereka memberikan waktu untuk Satria dan Indi untuk beristirahat. Hanya Satria yang mengantar orang tuanya sampai depan rumah. Sementara, Indi masih menunggu di depan rumahnya.


"Istirahat di kamar?" tanya Satria kepada Indi begitu mereka sudah tinggal berdua saja di rumah.


"Iya, bantuin aku berjalan saja, Mas ... dipapah saja," pinta itu.


Indi meminta demikian tentunya supaya suaminya tidak kecapekan untuk menggendongnya menaiki anak tangga menuju ke dalam kamarnya. Akan tetapi, Satria menggelengkan kepalanya.


"Tidak, biar aku menjadi kakimu dulu selama kakimu masih sakit. Apa yang bisa kulakukan, akan kulakukan untukmu," kata Satria.


Pria mulai menaruhnya tangannya di punggung dan paha Indi, menggendong istrinya itu menaiki anak tangga menuju ke dalam kamar. Indi berkaca-kaca menatap wajah suaminya itu. Indi tahu mengurus orang sakit seperti pastilah lelah dan capek. Sekarang, Satria bersikeras mengurusinya sendiri, walau Indi sendiri memang hanya ingin bersama dengan suaminya juga.


"Kenapa nangis?" tanya Satria sembari mempertahankan Indi dalam gendongannya.


"Kasihan sama kamu," balas Indi.


"Tidak usah kasihan ... cintaku tanpa syarat untuk kamu, Sayang. Semua proses kita jalani bersama kan? Setiap musim dalam hidup kita, juga kita lalui bersama," kata Satria.


Guliran bening itu kian berderai, Indi sampai terisak dan dia membawa kepalanya mendekat ke dada suaminya. Benar-benar bersyukur dicintai oleh suaminya sebesar ini. Cinta yang tanpa syarat. Cinta yang mau menerima ketika dirinya mengalami kelemahan tubuh.


"Makasih banyak, Mas," kata Indi sekarang.


"Sama-sama Sayang. Aku yakin, kalau kita bertukar posisi, kamu juga akan merawatku sedemikian rupa kan?" tanya Satria.


"Ii ... iya," jawab Indi.


"Aku tahu, pasti kamu akan melakukan hal yang sama untukku. Sudah, jangan banyak menangis. Seumur hidupku, aku akan selalu merawatmu, Sayang. I Love U!"


Indi hanya bisa berderai dalam air matanya yang membasahi wajah. Hatinya bisa merasakan cinta yang suaminya berikan untuknya. Semoga saja, dengan perasaan cinta yang kuat ini semuanya bisa dilalui bersama-sama.

__ADS_1


__ADS_2