Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Candi Prambanan


__ADS_3

Keesokan harinya Rama Bima benar-benar mengajak keluarga Hadinata dan keluarga Satria untuk berjalan-jalan ke Candi Prambanan. Rasanya sudah di Jogjakarta kalau tidak ke Candi Prambanan rasanya ada yang kurang. Terlebih Candi Prambanan selalu mempesona dan elok. Candi bercorak Hindu Siwa itu selalu menjadi destinasi wisatawan dari dalam dan luar negeri.


"Jalan-Jalan ke Prambanan dulu yah," ajak Rama Bima.


Tiga keluarga berkumpul bersama dan menuju ke arah Sleman, Jogjakarta. Kali ini, bahkan mereka hanya membawa satu mobil Alphard milik Rama Bima saja. Cukup untuk tiga keluarga.


"Saya itu rasanya seneng kalau ke Candi Prambanan, Pak Pandu. Teringat dulu Satria satu tahun, kami ajak ke Candi Prambanan. Lucunya dia merangkak naik ke Candi Siwa," cerita Rama Bima sembari mengenang masa kecil Satria dulu.


"Merangkak, Pak? Duh, bahaya loh. Soalnya anak tangganya tinggi," balas Ayah Pandu.


"Iya, saya gendong itu tidak mau Pak Pandu. Meronta-ronta tidak mau digendong, jadi Satria ini ngeyel gitu, Pak. Merangkak sendiri."


Rama Bima juga geleng-geleng sendiri mengenang bagaimana dulu Satria merangkak memasuki Candi Siwa. Indi juga ketawa ketika Rama Bima mengatakan bahwa Satria waktu kecil saja sudah ngeyelan.


"Mau digendong bule loh dulu Satria itu. Dikira bayi siapa ini, merangkak menaiki candi," cerita Bu Galuh sekarang.


"Untung loh, Bu. Kalau sampai digendong dan dibawa ke luar negeri bagaimana coba," balas Bunda Ervita.


Sementara Satria yang tengah dibicarakan tidak tahu menahu. Semua itu karena dia masih terlalu kecil. Masih satu tahun, sehingga tidak ada hal yang bisa dia ingat. Namun, sejujurnya malu juga ketika Ramanya mengatakan bahwa Satria ngeyelan sejak kecil. Malu dengan mertua bagaimana masa kecilnya dulu.


Begitu sudah di Candi Prambanan, Rama Bima yang membelikan tiket untuk keluarga besan dan keluarga Satria. Sebenarnya Ayah Pandu sudah menolak, tapi Rama Bima tetap membelikan tiket. Ayah Pandu sampai sungkan dengan besannya itu.


"Selalu merepotkan panjenengan (kamu, dalam bahasa Indonesia. Di dalam bahasa Jawa krama halus menggunakan kata Panjenengan atau Jenengan), loh ...."


"Tidak merepotkan sama sekali kok Pak Pandu. Santai saja," balas Rama Bima.

__ADS_1


Berbicara mengenai Candi Prambanan. Ada kenangan tersendiri untuk Ayah Pandu dan Bunda Ervita kala Indi dulu masih kecil. Ayah Pandu waktu itu mengajak Indi untuk jalan-jalan ke Candi Prambanan. Sekarang, putri yang dulu dia gendong sudah menjadi seorang mama. Itu artinya waktu sudah berlalu begitu cepat.


"Kenapa, Yah? Seperti kepikiran sesuatu," tanya Bunda Ervita.


"Keingat Indi waktu kecil dulu. Usia tiga tahun waktu itu kalau tidak salah. Aku menggendongnya memasuki Candi Siwa. Dia malahan menangis, takut dengan bagian dalam candi yang gelap dan ada patung yang besar. Sekarang, putri kecilku udah dewasa dan sudah memiliki anak," cerita Ayah Pandu.


"Yayah masih ingat waktu itu yah?" tanya Bunda Ervita lagi.


"Masih, masih ingat. Kali pertama mengajak Indi ke Candi Prambanan. Waktu itu aku menjelaskan ada tiga Candi utama di sini Candi Brahma, Candi Wisnu, dan Candi Siswa. Lalu, ada candi yang berupa kendaraan atau tunggangan tiga dewa utama ada Candi Hamsa, Nandi, dan Garuda. Ketiganya adalah tunggangan tiga dewa utama. Waktu aku mengajaknya ke Candi Siwa, Indi menangis dengan membenamkan wajahnya di dadaku. Kamu tahu, Bunda ... rasa sayang untuk Indi itu tidak pernah pudar. Selalu ada hingga sekarang," cerita Ayah Pandu lagi.


Bunda Ervita merasakan hatinya benar-benar menjadi hangat. Sebab suaminya itu masih mengingat semuanya dengan begitu detail. Terlihat pula kasih sayang yang besar dari Ayah Pandu untuk putri sambungnya.


"Sekarang, kita ke sini lagi dengan anak-anaknya Indi," kata Bunda Ervita.


Akhirnya dengan latar Candi Prambanan, mereka mengambil foto bersama. Kali ini, Ayah Pandu yang berinisiatif untuk menyewa tukang foto. Indi dan Satria juga sekaligus foto dengan Nakula dan Sadewa. Mereka akan menyimpan kenang-kenangan ini. Wisata dengan kedua Eyang di Candi Prambanan.


"Kali ini biar saya saja, Pak Bima," kata Ayah Pandu mengeluarkan dompetnya untuk membayar biaya foto yang nanti langsung jadi dan bisa diambil di pintu keluar.


"Silakan Pak Pandu. Wah, malahan ganti-gantian," balas Rama Bima.


"Tidak apa-apa. Namanya keluarga kan memang seperti ini," balas Ayah Pandu.


"Setuju sekali, Pak Pandu. Kalau tidak keluarga belum tentu mau gantian. Matur nuwun," balas Rama Bima.


Setelah itu Indi, Bunda Ervita, dan Bu Galuh menunggu di pelataran Candi. Ada pohon kecil yang rindang dengan tempat duduk di sana. Sementara para Eyang kakung dan Papa Satria mengajak Nakula dan Sadewa mengelilingi Candi.

__ADS_1


"Mau masuk ke Candi mana?" tanya Satria kepada anak-anaknya. Walau memang Nakula dan Sadewa belum bisa berbicara, tapi Satria dan Indi sudah membiasakan untuk berkomunikasi dengan kedua putranya.


"Ke Candi Siwa, Sat ...."


Ayah Pandu dan Rama Bima mengatakan hal yang sama. Akhirnya Satria menurut request para Eyang Kakung yang ingin memasuki Candi Siwa sekaligus Candi yang terbesar di kompleks Candi Prambanan. Satria yang menggendong Sadewa, sementara Nakula digendong Rama Bima sekarang.


Menaiki anak tangga demi anak tangga, akhirnya mereka sampai di dalam Candi Siwa. Di dalamnya terdapat patung Dewi Durga, tetapi berdasarkan kebiasaan tutur masyarakat setempat akan menyebut Dewi Durga itu sebagai Roro Jonggrang. Sebab, memang ada cerita rakyat yang berkaitan dengan cerita pembangunan Candi Prambanan yaitu kisah cinta Roro Jonggrang dan Bandung Bandawasa.


Roro Jonggrang yang meminta seribu candi, melakukan tipu muslihat dengan membangunkan warga di area Prambanan untuk memukul lesung dan alu. Hingga akhirnya ayam berkokok. Bandung Bandawasa yang dibantu pasukan jin untuk mendirikan seribu Candi pun gagal. Marah dengan Roro Jonggrang yang menipunya, akhirnya Bandung Bandawasa mengutuk Roro Jonggrang menjadi batu, guna melengkapi seribu Candi yang sejatinya memang hanya kurang satu itu.


"Pak Pandu percaya ini buatan Bandung Bandawasa atau buatan Rakai Pikatan?" tanya Rama Bima.


"Kalau saya setuju candi ini dibangun oleh Rakai Pikatan, seorang raja kerajaan Medang. Waktu itu memang kerajaan Medang sedang masyhur dalam membuat bangunan candi. Bersama permaisurinya Pramodawardhani, dicatat ada ratusan candi yang dibangun," balas Ayah Pandu.


"Sayangnya catatan sejarah itu tak sepopuler cerita rakyat Roro Jonggrang yah Pak Pandu?" tanya Rama Bima lagi.


"Tradisi tutur atau bercerita itulah yang membuatnya lebih tersebar secara luas. Hingga lupa kalau Candi Prambanan ini adalah peninggalan Kerajaan Medang yang termasyhur."


Ayah Pandu menjawab demikian, membuat Rama Bima menganggukkan kepalanya. Sekaligus Rama Bima belajar sejarah juga dari Besannya.


"Saya bahagia banget. Dulu yang saya gendong ke sini Satria, sekarang kembali ke sini dan yang saya gendong adalah anaknya Satria," kata Rama Bima.


"Sama Pak Bima. Dulu, saya ke sini dengan menggendong Indi kecil. Sekarang membawa cucu-cucu. Semoga saja Allah berikanlah panjang umur supaya bisa menemani dan mengasuh anak cucu," balas Ayah Pandu.


Sungguh ini bukan sekadar wisata, tapi juga nostalgia untuk Ayah Pandu dan Rama Bima. Lebih dari dua dekade yang lalu mereka mengunjungi Candi Hindu yang elok ini dengan menggendong anak-anak mereka, sekarang bisa kembali lagi dengan membawa cucu-cucu mereka. Rasanya sangat menyenangkan, mengingat kembali momen berharga kala Satria dan Indi masih sama-sama kecil.

__ADS_1


__ADS_2