
Tidak terasa sudah satu minggu Bunda Ervita dan Ayah Pandu berada di Jakarta. Sekarang, saatnya Bunda Ervita dan Ayah Pandu untuk kembali ke Jogjakarta. Sebelumnya Ayah Pandu hanya menggoda Bunda Ervita dan mengatakan ingin kembali ke Jogjakarta dengan naik pesawat. Akan tetapi, Bunda Ervita menolaknya, dia memilih kembali ke Jogjakarta dengan menaiki kereta api atau bus saja.
Akhirnya kereta api lah yang dipilih oleh Ayah Pandu dan Bunda Ervita kali ini. Kala hendak menunggu taksi, ada seorang pria paruh baya yang mengenali Irene. Setelah itu, pria paruh baya itu menawarkan bantuan kepada Irene.
"Kamu Miss Irene kan? Mau ke mana?"
"Halo Pak, iya saya Miss Irene. Ini mau mengantar Ayah dan Bunda ke Stasiun Gambir," balasnya.
Tentu saja Ayah Pandu dan Bunda Ervita bingung bagaimana pria paruh baya seusia dengan Ayah Pandu justru mengenal putri bungsunya. Walau begitu, Ayah Pandu dan Bunda Ervita terdiam dan tidak banyak berkomentar.
"Oh, ke Jakarta diantar orang tuanya yah? Biar saya antar ke Gambir. Tidak apa-apa," balas pria paruh baya itu.
Irene kemudian menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak perlu Bapak. Terima kasih banyak," balasnya.
Lantaran Irene menolak akhirnya pria paruh baya itu berpamitan pergi. Setelahnya barulah Bunda Ervita menanyai Irene.
"Siapa, Dek? Kok bisa kenal sama kamu?"
"Oh, itu sering mengantar anak kecil ke sekolah tempat Irene mengajar, Nda. Itu cucunya atau anaknya, Irene enggak tahu. Orang cucunya baru empat tahun, Nda. Kami para guru kan kadang berdiri di depan dan menyambut semua murid yang datang," balas Irene.
"Hati-hati dengan orang asing loh, Dek. Di Jakarta ini bakalan tidak ada Yayah dan Nda yang menjaga kamu. Kalau kenal dengan pria harus lebih hati-hati," kata Bunda Ervita.
"Iya, Nda. Irene akan lebih menjaga diri kok," balasnya.
"Dekat sama pria juga harus lebih hati-hati, Dek. Kalau bisa jangan berhubungan dengan pria yang seusia ayah kamu. Gap usia terlalu jauh juga kurang baik," balas Bunda Ervita.
__ADS_1
"Iya, Nda," balas Irene.
Tentu Irene juga akan lebih berhati-hati kala menjalin hubungan dengan pria. Tidak mungkin juga dia menjalin hubungan dengan pria yang seusia Ayahnya sendiri. Setelah Bunda Ervita selesai berbicara, barulah Ayah Pandu yang sekarang berbicara.
"Jaga diri baik-baik. Setelah ini nanti, Yayah dan Nda tidak bisa mengawasi kamu sama seperti waktu kita sama-sama tinggal di Jogjakarta. Akan tetapi, Yayah percaya sama anak Yayah ini. Kamu bisa menjaga nama baik keluarga Hadinata," kata Ayah Pandu.
Irene menganggukkan kepalanya. Ketika orang tua sudah memberikan kepercayaan justru itu memberikan Irene tanggung jawab yang kian besar. Tanggung jawab untuk menjaga nama baik keluarga Hadinata. Semoga saja, Irene bisa mengemban mandat itu dan juga tidak mencoreng nama baik keluarga.
Setelahnya, Irene bersama Yayah Pandu dan Bunda Ervita menaiki Taksi menuju ke Stasiun Gambir. Kereta api malam, dan baru akan tiba di Jogjakarta keesokan harinya.
Saat berpisah telah tiba. Bunda Ervita menangis dan memeluk putrinya itu.
"Nda dan Yayah kembali ke Jogjakarta yah, Dek. Hati-hati. Jangan lupakan sholat. Sering beri kabar kepada kami dan Mbak Indi. Jarak yang jauh bukan berarti membuat hati juga menjadi jauh. Hanya jarak, tapi kita selalu berdekatan satu sama lain. Sehat selalu yah," kata Bunda Ervita.
Irene juga menangis di pelukan Bundanya. Dulu dia pernah sebulan di Jakarta, tapi sekarang situasinya berbeda. Irene juga sedih berpisah dengan Ayah dan Bundanya.
Kemudian giliran Ayah Pandu yang memeluk putrinya itu. "Pesannya Yayah mirip seperti Nda. Kabarin Yayah juga. Kamu butuh apa pun kabarin Yayah yah?"
Irene sekarang bergantian memeluk Ayahnya itu. "Irene bakalan kangen sama Yayah. Yayah terhebat untuk Irene," balasnya.
"Lain waktu kami akan ke sini lagi untuk mengunjungi kamu. Sehat-sehat yah, Dek."
Terdengar pemberitahuan bahwa kereta api dari Jakarta menuju ke Jogjakarta akan segera diberangkatkan. Ayah Pandu dan Bunda Ervita pun bersiap menaiki gerbong kereta. Ayah Pandu menaruh kopernya terlebih dahulu. Setelahnya keduanya berdiri di depan pintu kereta.
"Kalau kamu mau balik duluan tidak apa-apa," kata Ayah Pandu.
__ADS_1
"Irene nungguin sampai Yayah dan Nda berangkat. Salam untuk Mbak Didi, Mas Satria, dan Nang-Nang yah, Yah."
Akhirnya kereta api mulai diberangkatkan. Bergerak perlahan, dengan bunyi dari lokomotif yang menandakan kereta akan berjalan. Air mata Bunda Ervita pecah, tumpah semuanya. Hatinya harus mengikhlaskan Irene untuk tetap berada di Jakarta.
"Dada, Dek ... jaga diri baik-baik yah," kata Ayah Pandu dengan melambaikan tangannya.
"Da Yayah. Irene sayang Yayah dan Nda ...."
Kereta api eksekutif itu akhirnya bergerak perlahan-lahan dan kian cepat hingga Irene tak terlihat lagi. Ayah Pandu kemudian mengajak Bunda Ervita duduk dan merangkul istrinya itu. Kalau sedih, Ayah Pandu juga sedih, tapi Bunda Ervita lebih sedih. Sehingga Ayah Pandu harus menjadi sosok yang lebih kuat, dia harus menguatkan dan menenangkan istrinya.
"Insyaallah, ada Allah yang akan menjaga Irene untuk kita," kata Ayah Pandu.
"Aamiin Ya Allah. Bunda sedih, Yah," balasnya.
"Tidak apa-apa. Berpisah dari anak memang sedih. Yayah juga mengalaminya kala Indi dulu diboyong untuk tinggal di rumah Satria. Fase kehidupan memang seperti ini, Nda. Anak-anak ketika kecil mereka sepenuhnya tanggung jawab kita, dalam gendongan dan dekapan orang tua. Akan tetapi, ketika mulai dewasa, mereka ingin mengejar mimpinya, ingin menjadi seseorang yang berhasil. Tugas kita adalah mensupport anak-anak untuk meraih cita-citanya dan terus mendoakannya. Dengan doa dari orang tua, Insyaallah semuanya akan dipermudah oleh Allah."
Bunda Ervita menganggukkan kepalanya. Betapa beruntungnya dia di saat-saat bersedih dan hatinya sering kali goyah, ada Ayah Pandu yang selalu dewasa, bijaksana, dan berwawasan luas. Sosok yang selalu menguatkannya dan selalu berserah hanya kepada Allah.
"Iya, Yah. Terima kasih banyak. Semoga Allah menjagai Irene untuk kita, ketika tangan kita kurang panjang, ada tangan Allah yang mampu menjangkau Irene."
"Benar, Nda. Beberapa hari atau pekan pasti di rumah masih akan sedih. Menikmati kebiasaan baru di rumah berdua. Kalau Nda bosen, akhir pekan kita bisa jalan-jalan berdua atau main ke rumah Nang-Nang. Semangat yah, Nda. Kita jalani bersama, berdua," kata Ayah Pandu lagi.
"Iya, doanya Nda yang lain semoga Indi dapat momongan lagi biar kita Nda sibuk ngurus cucu-cucu yang kecil-kecil. Biar menjadi pengalihan kesedihan Nda," balasnya.
"Kita doakan. Semoga Allah dengar doa kita."
__ADS_1
Dengan seiring kereta api yang melaju tak dipungkiri bahwa hati Bunda Ervita dan Ayah Pandu sama-sama sedihnya. Namun, mereka akan melewati masa ini bersama-sama. Beradaptasi lagi, begitu juga dengan suasana di rumah yang tak lagi sama nantinya.