Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Foto Layar Biru


__ADS_3

Setelah mendapatkan restu dari Ayah Pandu dan Bunda Ervita, yang akan Satria lakukan keesokan harinya adalah mendaftarkan administrasi pernikahannya ke Kantor Urusan Agama yang dekat dengan domisili rumah Indi. Seluruh dokumen sudah Satria persiapkan, tapi masih ada syarat yang belum lengkap. Oleh karena itu, Satria berniat mengajak Indi melengkapi persyaratan tersebut.


"Syaratnya kira-kira kurang apa saja, Nak Satria?" tanya Bunda Ervita sekarang.


"Untuk seluruh dokumen sudah, Bunda. Sama minta tolong surat pengantar dari RT dan RW di sini bisa Bunda? Biar Satria sendiri saja yang urus," kata Satria sekarang.


Orang berkata mengurus administrasi pernikahan itu tidak mudah. Birokrasinya harus dari bolak-balik, dan melelahkan. Namun, Satria justru ingin mengurusnya sendiri.


"Kamu tidak sibuk bekerja, Sat?" tanya Ayah Pandu.


"Tidak begitu sibuk, Yah ... masih bisa mengurus sedikit-dikit. Supaya lebih terasa perjuangannya, Ayah," balas Satria.


Ayah Pandu kemudian tersenyum. "Kamu ini. Biasanya orang lebih suka terima jadi, kamu malahan mau dari Kecamatan ke Kelurahan, dan nanti masih ke Kantor Urusan Agama," balas Ayah Pandu.


"Menikmati setiap prosesnya, Ayah ... sampai kapan pun, Satria akan ingat bahwa usaha Satria untuk meminang Indi itu luar biasa. Satria ingin memaknai semua proses itu," balasnya.


"Semoga, semua lelahmu suatu saat nanti berbuah kebaikan yah, Sat ... Ayah mendoakan kebahagiaanmu dan Indi."


"Sekalian Satria mohon izin kepada Ayah dan Bunda untuk mengajak Indi besok," kata Satria.


"Kemana, Nak?" tanya Bunda Ervita.


"Ke studio foto saja kok, Bunda. Tidak jauh. Sebelum akad terlaksana, Satria tidak berani mengajak Indi pergi terlalu jauh," balasnya.


"Oh, mau foto untuk buku nikah yah?" tanya Bunda Ervita lagi.


"Iya, Bunda ...."


Memang begitulah Satria. Ada kalanya dia menolak semua aturan yang terkesan membelit dirinya. Namun, ada beberapa aturan yang Satria nilai baik, tidak akan Satria langgar. Termasuk tidak akan pergi jauh-jauh sebelum pernikahan. Lebih baik baginya, untuk melakukan kebiasaan dan tradisi yang bisa dia terima dan juga tidak bertentangan dengan hati nuraninya.

__ADS_1


...🍀🍀🍀...


Keesokan Harinya ....


Menjelang siang, Satria datang kembali ke kediaman keluarga Hadinata. Tujuannya sekarang adalah untuk menjemput Indi. Dia ingin mengajak Indi ke studio foto, untuk melakukan pemotretan untuk buku nikah mereka berdua.


Kali ini Indi dan Satria kompak memakai kemeja berwarna putih. Rambut panjang Indi juga ditata rapi, begitu juga dengan Satria yang sehari-harinya juga sudah rapi. Berpamitan dengan Bunda Ervita dan Ayah Pandu keduanya menuju studio foto.


"Deg-degan, Dik?" tanya Satria kemudian.


"Enggak sih, Mas ... tapi enggak tahu nanti gimana pas ambil foto," balas Indi.


Satria yang mengemudikan mobilnya pun tersenyum. Pria itu kemudian melirik Indi yang seperti biasa begitu ayu. "Kita foto layar biru," katanya.


"Iya, aku sudah baca-baca ... backgroundnya harus biru. Bukan merah atau putih," balas Indi.


"Benar ... untuk wanita yang tidak berhijab harus rambutnya rapi, dan kedua telinganya kelihatan. Tidak boleh berponi juga," balas Satria.


"Yuk, sudah sampai," kata Satria.


Lantaran sudah membuat janji terlebih dahulu, akhirnya Satria dan Indi langsung diajak ke studio foto. Mereka diberi waktu lima menit untuk bersiap. Seperti biasa, Indi merapikan riasannya dan merapikan rambutnya. Sementara Satria sudah yakin dengan penampilannya yang sudah rapi. Necis kalau orang Jawa bilang.


"Sudah siap?" kata fotografernya.


"Iya, sudah," balas Satria.


Satria yang diambil potretnya terlebih dahulu. Fotografer mengarahkan Satria untuk fokus menatap kamera, dan wajahnya tidak boleh menunduk. Beberapa kali jepretan, dan nanti akan dipilih hasil terbaik. Setelah itu, giliran Indi. Ketika Indi diambil potretnya, Indi melihat Satria yang berdiri di dekat sang fotografer justru merasa malu. Gadis itu seolah menahan tawa.


"Lihat sini, Mbak ... ke kiri sedikit. Nah, jangan terlalu tersenyum yah Mbak ...."

__ADS_1


Fotografer ini mengarahkan Indi. Untung saja fotografernya sabar. Sehingga, dia bisa menunggu ketika Indi malu-malu diperhatikan Satria.


"Sudah, kita pilih foto yang terbaik yah," kata fotografer itu.


Satria pun mendekat ke Indi, pemuda itu bertanya kepada istrinya. "Grogi kalau aku lihatin?" tanyanya.


"Iya, jangan begitu lihatinnya," balas Indi.


"Abis, kamu cantik sih," balas Satria.


Sekarang, Indi menunduk. Benar-benar malu ketika calon suaminya itu memujinya demikian. Hingga wajah Indi memerah karena malu.


Sekarang mereka berdua memilih-milih foto terbaik tentunya. Foto yang mana yang mau dicetak. Tentu yang dipilih adalah yang terbaik, karena foto itu juga yang akan ditempelkan di buku nikah.


"Kamu yang ini saja, Dik," kata Satria memilihkan untuk Indi.


"Bagus enggak, Mas?" tanya Indi.


"Bagus, ayu," balas Satria.


Hingga Mas fotografernya pun menyahut. "Aroma-aroma calon pengantin ya Mas dan Mbak, sweet gitu," katanya.


"Iya, mau untuk mendaftarkan pernikahan," balas Satria.


"Dicetak 2x3 dan 3x4 berarti yah, Mas," kata sang fotografer.


Namun, Satria memilih melebihkan jumlah yang dicetak. Alasannya jika memang kurang, sudah ada file cetak yang tersedia. Selain itu, Satria mengambil satu foto dan menaruhnya di dalam dompetnya.


"Berawal dari foto selfie, berakhir dengan foto layar biru ... berawal dari ketemu di universiti, berakhir menjadi i love u."

__ADS_1


Ealah, Sat ....😁


Mendengarkan perkataan Satria, Indi hanya bisa tertawa dengan menutupi bibirnya. Bisa saja dia akan terbahak-bahak jika tidak berada di tempat umum. Bisa-bisanya Satria itu.


__ADS_2