
Waktu terus berlalu hingga akhirnya, tidak terasa Nakula dan Sadewa sudah hampir berusia satu tahun. Indi dan Satria juga sepakat tidak menggelar ulang tahun untuk putranya. Cukup makan bersama dan mendoakan kesehatan dan cita-cita Nakula dan Sadewa di masa depan akan terwujud. Sementara Indi dan Satria juga seakan mengingat bagaimana momen satu tahun yang lalu ketika Indi melahirkan putra kembarnya.
"Besok Nakula dan Sadewa akan ulang tahun, Sayang. Tidak terasa satu tahun sudah berlalu yah. Selain bertambah aktif, semoga Nakula dan Sadewa nanti bisa berbicara, aku pengen ngobrol sama anak-anakku nanti," kata Satria.
"Jadi teman ngopi yah, Mas?" tanya Indi.
"Iya, teman ngopi sama MasE," balas Satria dengan tertawa.
"Mas-Mas pada hobi ngopi. Mamanya di rumah sendiri dong, Mama kan gak begitu suka kopi," balas Indi.
"Ya, Mama nanti healing sama Papa aja. Dulu, setahun lalu kebayang melahirkan kembar yah, Yang," kata Satria sekarang.
Indi kemudian menganggukkan kepalanya. "Benar, Mas. Kadang kalau kebayang mulesnya. Duh, merinding."
"Persalinan kamu terhitung cepat loh, Sayang. Katanya proses pembukaan untuk persalinan pertama itu terbilang lama. Namun, kamu malahan cepet. Cuma beberapa jam sudah pembukaan lengkap dan Nang-Nang lahir," cerita Satria.
Membayangkan satu tahun yang lalu sebenarnya membuat Satria teringat lagi dengan traumanya dulu. Post-natal traumatik sindrom yang membuat Satria sampai empat bulan baru berani menggumuli istrinya lagi. Akan tetapi, masa-masa itu sangat berharga untuk Satria. Kelahiran putranya yang mengubah hidupnya, menjadikannya sosok ayah.
"Membicarakan masa persalinan Nang-Nang, nanti Papa Satria trauma loh," balas Indi.
"Enggak kok, Sayang. Aku sudah sembuh dan membaik kok. Semuanya berkat kamu," balas Satria.
Indi yang mendengarkan ucapan suaminya, akhirnya tertawa. Namun, ada rasa kasihan juga ketika seorang suami merasakan trauma karena melihat persalinan.
"Misal hamil lagi dan bersalin lagi, bakalan trauma lagi enggak, Mas?" tanya Indi sekarang.
"Gak tahu juga yah, Sayang. Dicoba dulu aja," balas Satria.
Usai itu keduanya tertawa bersama. Satria mengecup kening istrinya itu untuk beberapa saat lamanya.
"Makasih yah dalam satu tahun ini benar-benar sudah menjadi Mama yang hebat untuk Nakula dan Sadewa. I Love U," kata Satria.
__ADS_1
"Sama-sama Papa Satria. Terima kasih juga sudah menjadi sosok Papa terhebat dan best partner untuk aku," balas Indi.
"Jadi, tidak ada ulang tahun besok?" tanya Satria.
"Kita ajak doa bersama saja. Foto bersama. Sebagai pengingat ulang tahunnya Nang-Nang aja, Mas. Ulang tahun kan enggak wajib," balas Indi.
Setelah itu Satria menganggukkan kepalanya. Dia menerima usulan dari istrinya memang ulang tahun itu tidak wajib. Yang penting adalah berdoa bersama dan mengambil foto yang akan mereka simpan dalam tabungan kenangan mereka. Menambahkan momen dan kenangan indah yang akan mereka kenang bersama.
...🍀🍀🍀...
Keesokan Harinya ....
Menjelang sore hari, rupanya kediaman Indi dan Satria kedatangan Ayah Pandu dan Bunda Ervita, serta Rama Bima dan Bu Galuh. Para Eyang tampak kompak datang bersamaan. Bukan tanpa sebab, tapi mereka datang untuk ulang tahun Nakula dan Sadewa yang pertama.
"Permisi," sapa para Eyang serempak.
Indi dan Satria pun membukakan pintu dengan menggendong Nakula dan Sadewa. Benar-benar tidak menyangka kalau ada yang datang. Sebab, sebelumnya tidak ada yang mengatakan ingin ke rumah mereka.
Para Eyang kompak mengucapkan selamat ulang tahun. Bu Galuh membawakan Nasi Tumpeng. Sementara Bunda Ervita membawakan Kue Ulang Tahun dengan dekoratif tokoh pewayangan Nakula dan Sadewa seperti nama kedua cucu kembarnya. Melihat kehebohan, Sadewa justru menangis, tapi Nakula tertawa-tawa.
"Loh, kok malahan nangis?" tanya Rama Bima.
"Kaget mungkin, Rama. Biasa, Sadewa ini memang lebih kalem dan lembut anaknya. Nakula ini lebih aktif dan berani," kata Indi.
Para Eyang pun menganggukkan kepalanya. Baru menyadari juga bahwa cucu yang kembar karakteristiknya bisa berbeda jauh. Rama Bima kemudian membuka kedua tangannya.
"Sini Sadewa ikut Eyang Rama yah," ajaknya.
Akhirnya Indi menyerahkan Sadewa untuk digendong Eyang Rama. Tidak perlu waktu lama, cukup diusapi punggungnya dan disayang-sayang saja Sadewa sudah tenang. Rama Bima gemas sendiri jadinya.
"Oalah, Eyang Rama baru tahu. Kalian kembar, dulu di dalam kandungan satu wadah, tapi sifat dan karakternya berbeda. Mirip siapa kamu Nang?" tanya Rama Bima.
__ADS_1
"Kalau kalem dan lembut sih kelihatannya Sadewa ini mirip Eyang Pandu, Rama," balas Satria.
Mendengar namanya disebut dan dinilai Satria sebagai sosok yang kalem dan lembut, Ayah Pandu tertawa. "TenanE loh, Sat? Papanya Sadewa juga lembut tuh."
Rama Bima juga tertawa. "Benar. Mirip Eyang Kakung Pandu yah, Sadewa. Kalem dan lembut. Benar-benar yang dikatakan Papa kamu."
Setelah itu, para Eyang duduk di ruang tamu. Layaknya ulang tahun hanya keluarga besar, diadakan tiup lilin saja untuk Nakula dan Sadewa. Ada Ayah Pandu yang memotret keluarga kecil Indira dan Satria. Mengabadikan momen ulang tahun pertama cucu-cucunya.
"Selamat Ulang Tahun Nang-Nang ...."
Akhirnya usai tiup lilin, giliran memotong tumpeng. Jadi, ulang tahun Nakula dan Sadewa ini sangat lengkap. Mulai dari tiup lilin dan akhirnya potong tumpeng. Potongan tumpeng pertama dan kedua sengaja mereka tahan, kemudian mengarahkan Nakula untuk memberikan kepada Rama Bima dan Sadewa memberikan kepada Ayah Pandu.
Filosofinya baik orang tua dan mertua sama-sama disayang, dihormati, dan didahulukan oleh Indi dan Satria. Rama Bima terkekeh malahan menerima potongan tumpeng itu.
"Adil yah, Nang. Eyang Rama dan Eyang Kakung Pandu diberi tumpeng bersamaan. Pandai yah, Nang Bagus," kata Rama Bima.
"Eyang Rama dan Eyang Kakung sama, Pak Bima. Adil dan merata," balas Ayah Pandu.
"Leres (setuju, dalam bahasa Indonesia), Pak Pandu. Tandanya pinter. Mama dan Papanya yang mendidik juga pinter," balas Rama Bima.
Begitu juga untuk Bu Galuh dan Bunda Ervita diberikan bersama-sama. Benar-benar menjunjung keadilan. Akhirnya keluarga itu menikmati Nasi Tumpeng dan Kue Ulang tahun. Indi sekaligus menyajikan Teh hangat untuk keluarga besarnya.
Selain itu, para Eyang juga memberikan kado untuk Nakula dan Sadewa. "Kadonya untuk Nang-Nang," kata Ayah Pandu.
"Ini dari Eyang Rama dan Eyang Ibu yah. Doanya Eyang, Nakula dan Sadewa sehat selalu yah, tambah pinter, jadi kebanggaan Mama dan Papa yah," kata Rama Bima.
"Aamiin ... makasih doanya Eyang," balas Indi dan Satria bersamaan.
"Besok piknik sama Eyang yah. Dulu waktu Papa kamu setahun, Eyang ajak ke Candi Prambanan. Jadi, besok kita jalan-jalan ke Candi Prambanan yah," ajak Rama Bima.
"Dulu, Indi juga kami ajak ke Prambanan usia satu atau dua tahun," balas Ayah Pandu.
__ADS_1
"Besok piknik bersama Pak Pandu. Eyangnya nostalgia juga," kata Rama Bima dengan tertawa.