
Indi begitu lahap menyantap semua masakan yang dimasak Bundanya. Itu membuatnya sampai berkeringat di keningnya. Sementara, Bunda Ervita dan Ayah Pandu mulai yakin bahwa mungkin saja Indi memang sedang hamil muda. Sebab, selama ini tak pernah Indi makan selahap ini.
"Kalau kamu beneran hamil, Ayah dan Nda masih muda udah menjadi Eyang dong," kata Bunda Ervita.
Kemudian Satria bertanya kepada ibu mertuanya itu. "Bunda usianya memangnya berapa?" tanya Satria.
"Masih lumayan muda, Satria ... mau 47 tahun. Kan Bunda memiliki anak usia 21 tahun. Belum selesai kuliah, sudah ada Indi," jawabnya.
Satria menganggukkan kepalanya, rupanya memang usia Bundanya itu masih sangat muda kala hamil Indi dulu. Sehingga benar adanya kalau memang masih kurang dari kepala lima sudah memiliki cucu. Usai mendengar jawaban Bunda Ervita kemudian Satria tersenyum.
"Kalau Ayah masih muda juga?" tanya Satria.
"Ayah sudah kepala lima, Sat. Ayah dulu mendapatkan berondong kok," balas Ayah Pandu.
"Berondong beranak satu yah, Yah," balas Bunda Ervita.
Ayah Pandu kemudian tersenyum. "Yang penting cinta, Nda. Kita menua hingga ujung usia," balas Ayah Pandu.
Kalau kedua orang tuanya sudah saling berbicara manis seperti ini Indi tersenyum sendiri. Namun, sekarang dia juga ingin memiliki kehidupan rumah tangga yang adem ayem seperti Ayah dan Bundanya. Kehidupan pernikahan yang saling mengisi satu sama lain.
"Kan sebentar lagi pernikahan silver dong?" tanya Indi.
"Dua bulan lagi, Ayah dan Bunda merayakan 25 tahun pernikahan. Itu artinya sudah separuh dari hidupnya Nda, Nda habiskan bersama Yayah," balas Bunda Ervita.
"Kita piknik bersama yah nanti," ajak Ayah Pandu.
"Boleh, Yah. Kita rayakan bersama," balas Satria yang tampak bersemangat.
Usai itu, terdengar suara orang mengetuk pintu dan mengucapkan salam, rupanya ada Irene yang pulang dari kampusnya. Irene pun memberikan salam kepada orang tua, kakak, dan kakak iparnya.
"Wah, ada Mbakku ... kangen loh, Mbak," kata Irene.
"Sama, Mbak juga kangen. Hari Sabtu kok ke kampus?" tanya Indi.
__ADS_1
"Iya, Mbak. Mau ada acara di kampus. Lucu kan Mbak, kampusnya pendidikan anak, tapi bulan ada narasumber Dokter Anak dari Jakarta," cerita Irene.
"Ya kan narasumber bisa dari mana. Kamu mengambilnya juga pendidikan anak," balas Indi.
Satria kemudian menganggukkan kepalanya. "Benar, Dik. Mungkin ada keterkaitan pendidikan anak dan kesehatan anak," katanya.
"Oh, jadi benar saja yah, Mas. Aku hanya bingung," balas Irene.
"Kenalan sama Narasumbernya, Dik. Sapa tahu dapat Dokter muda," goda Satria.
Di sana semua keluarga pun tertawa. Ide dari Satria yang justru menyuruh Irene untuk kenalan dengan Dokter Muda itu. Irene justru tertawa.
"Duh, kenalan enggak yah? Tapi, aku jadi panitia sih. Jadi nanti pasti kenal dengan sendirinya kok, Mas. Kali aja Dokternya cakep yah," balas Irene.
"Jangan mencari yang cakep, Rene. Cari yang seiman, akhlaknya bagus, dan bertanggung jawab. Banyak pria tampan hanya modal tampangnya," balas Ayah Pandu.
Mendengar nasihat dari Ayahnya, Irene kemudian menganggukkan kepalanya. "Yah, secakep Ayah lah, Yah. Ayah kan cakep, keren, rajin ibadah, sabar, yah kalau bisa dapatnya yang seperti Ayah," balas Irene.
Bunda Ervita terkekeh geli karena kedua putrinya sama-sama mengidolakan Ayahnya. Sementara Ayah Pandu dipuji-puji Irene hanya bisa mengulum senyuman. Anak-anak kalau sudah dewasa memang sering mengada-ada. Sama seperti Indi dan Irene. Namun, itulah kebahagiaan rumah tangga.
"Ngapain?" tanya Indi.
"Beliin Boba, Mbak. Mumpung mbakku ke sini kok," balas Irene.
Indi kemudian bertanya kepada suaminya meminta izin mau ke mini market sebentar. Ternyata Satria memberikan dompetnya kepada Indi, meminta Indi membayarnya nanti. Bahkan Satria berpesan Irene boleh jajan apa pun. Itu membuat Irene tertawa.
"Anak bungsu enak yah ... dapat jajan dari Mas dan Mbaknya," kata Irene.
"Beli aja, Dik. Biar nanti Mbak Indi yang bayarin," kata Satria.
"Matur nuwun, Mas. Wah, senengnya."
Akhirnya Indi dan Irene berjalan berdua menuju ke mini market yang jaraknya tidak begitu jauh dari rumah. Sembari bercerita karena Irene kangen dengan Mbaknya itu. Dulu, sebelum Indi menikah, keduanya sangat akrab dan sering jalan-jalan ke Mall berdua. Akan tetapi, sekarang sudah pasti ada yang berkurang ketika Mbaknya itu sudah menikah dan tinggal bersama suaminya.
__ADS_1
"Aku sering kangen sama Mbak Indi loh. Dulu, kita sering ke Mall bareng walau beli jajan dan beli kutek. Sekarang kalau diajak Ayah dan Nda ke Mall jadi kangen momen-momen itu," cerita Irene.
"Kalau kangen main lah ke rumahnya Mbak. Kan yah Mbak masih di Jogja. Jaraknya dari rumah Yayah gak begitu jauh. Mas Satria juga baik," balas Indi.
"Kapan-kapan, Mbak. Aku juga baru sibuk kuliah. Jadi panitia itu, Mbak. Aku sebelumnya gak mau jadi panitia. Sekarang, baru coba-coba, belajar hal baru, Mbak," balas Irene.
"Yah bagus dong. Belajar sesuatu yang baru, bukan hanya dapat pengalaman, tapi nanti kamu bisa bekerja secara tim juga. Semangat, Dik."
Mendengarkan kata-kata penyemangat dari kakaknya, Irene pun menganggukkan kepalanya. Kakaknya itu memang dewasa dan selalu menyemangatinya. Kalau sudah bertemu Indi rasanya kembali nostalgia.
"Udah punya pacar belum, Dik?" tanya Indi.
"Sebenarnya ada anak kedokteran yang naksir, Mbak ..., tapi aku belum sreg. Takut pacaran, Mbak."
"Kenapa takut pacaran?" tanya Indi lagi.
"Itu jatuh cinta gimana Mbak? Tiba-tiba suka atau gimana?" tanya Irene.
"Yah, kamu merasa suka ketemu dia. Kalau gak ketemu rasanya rindu, terus ada aja pengen ketemu," balas Indi.
Irene mendengar jawaban dari Mbaknya itu. "Oh, begitu yah. Yang anak kedokteran ini baik Mbak. Beberapa kali ngajak aku makan di kantin. Cuma aku dengar cerita, anak-anak kedokteran gak sealim pembawaannya, Mbak. Mereka juga nakal, cuma tersembunyi, Mbak," cerita Irene.
"Nakal gimana?" tanya Indi.
"Ada yang pacaran kelewat batas, Mbak. Sahabatku sendiri, mencari kenikmatan, walau enggak sampai dimasukkan," cerita Irene.
Sebagai kakak dan lebih dewasa, Indi berusaha menyingkapi itu dengan bijak. "Yang penting kamu tidak, Rene. Jangan sampai aneh-aneh yah, jaga nama baik Yayah dan Nda. Berikan yang terbaik untuk suami kamu," balasnya.
"Mbak pertama kali sama Mas Satria?" tanya Irene.
"Iya, dan itu di dalam pernikahan. Tidak ada dosa, Rene. Justru bernilai pahala dari Allah. Jaga nama baik Yayah dan Nda. Kalau dari Mbak sih itu," pesan Indi.
"Iya, Mbak. Seorang ratu kalau sudah kehilangan mahkotanya, itu tidak akan kembali yah, Mbak. Doakan aku yah, Mbak. Aku maunya kuliah dulu. Satu tahun lagi lulus," kata Irene.
__ADS_1
"Iya, semangat yah, Dik."
Berada di usia peralihan seperti Irene antara remaja menuju ke dewasa ada kalanya dia timbul banyak pertanyaan. Ada hal-hal yang hanya bisa diungkapkan kepada orang terdekatnya. Untuk Irene, kakaknya sudah seperti sahabatnya sendiri. Sehingga memang Irene merasa ada kenyamanan kala bercerita dengan kakaknya.