
Satria akhirnya turut masuk ke dalam kantor Ayah mertuanya. Dia merasa perlu menenangkan Indi juga. Walau begitu, Satria memberikan waktu juga kepada Ayah Pandu yang ingin berbicara sebentar dengan Indi.
"Tadi siapa, Mbak Indi?" tanya Ayah Pandu.
"Maaf, Yah ... dia adalah Yudha. Waktu kuliah dulu, Indi pernah jalan dengan dia untuk waktu lima bulan," jawab Indi dengan jujur.
"Jalan? Maksudnya, dia mantan kamu?" tanya Yayah Pandu.
"Iya, Yah ... maaf."
Indi menundukkan wajahnya, dia malu sebenarnya mengakui di hadapan Ayahnya dan di sana ada Satria juga. Mengakui masa lalu itu kadang menimbulkan perasaan yang tidak enak di dalam hati. Terlebih dengan sikap Yudha yang jumawa dan arogan, membuat Indi malu.
"Tidak usah minta maaf. Semua orang kan punya masa lalu. Yayah hanya menyayangkan dia tidak memiliki sopan santun saja. Bahkan caranya berbicara kepada Ayah terdengar tidak sopan," kata Ayah Pandu memberikan penilaiannya.
"Maaf, Yah," balas Indi.
Ayah Pandu kemudian menganggukkan kepalanya. "Ya sudah, kamu pasti butuh bicara dengan Satria. Sana, ke ruanganmu saja. Jangan banyak pikiran, buanglah mantan pada tempatnya," kata Ayah Pandu.
Indi justru sekarang tersenyum karena nasihat Ayahnya itu layaknya jargon yang hits dan viral beberapa waktu ini yaitu buanglah mantan pada tempatnya. Walau begitu, Indi merasa sudah lebih baik. Ada Ayahnya juga, ada sekuriti yang berjaga juga, sehingga Yudha tidak akan main-main dengannya.
__ADS_1
Setelah itu, Indi dan Satria menuju ke ruangan kerja Indi. Merasa perlu berbicara juga dengan Satria. Untuk itu, Indi menutup pintu ruangannya terlebih dahulu.
"Kamu jadi terlambat masuk kantor enggak Mas?" tanya Indi.
Satria kemudian menggelengkan kepalanya. "Enggak apa-apa, Sayang. Menjaga kamu dari Yudha jauh lebih penting untukku," balasnya.
Usai itu, Indi kemudian tersenyum menatap suaminya. "Maafkan aku yah, Mas. Aku juga tidak tahu akan bertemu dengan Yudha di sini. Maaf, kembali mengingatkan dengan masa lalu yang memang seharusnya harus dilupakan," kata Indi.
Sekarang, Satria menggelengkan kepalanya. "Tidak usah meminta maaf Sayang. Aku akan selalu menjaga kamu kok. Aku juga tidak terpengaruh dengan ucapan Yudha. Aku sudah tahu sendiri, aku sudah merasakan bahwa kita sama-sama yang pertama untuk satu sama lain. Sia-sia saja dia mengintimidasiku," balas Satria.
Mungkin Yudha berpikir bisa mengintimidasi dan menjatuhkan kepercayaan Satria kepada istrinya sendiri kala Yudha mengatakan bahwa Indi adalah bekasnya, mantannya. Akan tetapi, Satria tidak terpengaruh sama sekali. Satria mengingat malam pertama mereka usai akad di mana Satria menjadi pria pertama dan satu-satunya untuk Indi. Satria merasakan sendiri bagaimana susah payahnya dia membuka segel, menyatukan diri dengan Indi. Tak pernah ada keraguan di dalam hatinya.
Setelah mendengarkan ucapan manis dan syarat akan pengertian barulah Indi sekarang menitikkan air matanya. Di mana lagi dia akan mendapatkan suami yang bisa mempercayai dan tidak meragukan dirinya sama sekali. Jika bukan karena perasaan yang sangat besar, tidak mungkin Satria tidak tergoyahkan seperti saat ini.
"Ku pikir Mas Satria akan ragu kepadaku, terpengaruh dengan ucapan tak berdasar Yudha tadi," balas Indi.
Dengan cepat, Satria menggelengkan kepalanya. Dia mengambil satu langkah ke depan, lebih dekat dengan Indi kemudian menyeka buliran bening yang membasahi pipi istrinya itu.
"Kamu ini lucu loh, Sayang. Kamu ini bisa galak ke orang lain apalagi yang mulutnya pedas, tapi kamu sendiri bisa cengeng dan mudah menangis seperti ini. Kamu itu berhati lembut, tapi sekaligus pemberani di saat-saat tertentu," kata Satria.
__ADS_1
"Bukan begitu, ketika seorang istri diragukan oleh suaminya sendiri itu sangat menyakitkan, Mas. Mendapatkan kepercayaan dari seorang suami itu tidak mudah. Oleh karena itu, cinta dan kehidupan berumahtangga harus dibangun di atas dasar kepercayaan," kata Adista.
Satria tersenyum, pemikiran Indi yang seperti inilah dulu yang membuatnya dengan sendirinya, sangat alamiah jatuh cinta kepada Indi. Sosok wanita yang memberikan penghargaan pada cinta dan kepercayaan. Berpikiran terbuka, berani menentang hal yang tidak benar, tapi di satu sisi sangat lembah lembut. Itu yang Satria lihat dari sosok istrinya itu.
"Sudah, Bumilku jangan menangis. Tadi, anggap saja tidak pernah bertemu dengan Yudha. Jaga emosi kamu, Sayang. Untuk Adik Bayi," balas Satria.
Indi menganggukkan kepalanya. Dia memang harus menjaga emosinya, moodnya harus dijaga. Jangan sampai naik darah, Ibu hamil membutuhkan kestabilan emosi. Ibu hamil membutuhkan mood yang baik karena kesehatan mental ibu hamil berpengaruh terhadap janin yang sekarang berada di dalam rahimnya.
"Kalau senggang cari info Dokter Kandungan, Sayang. Kita harus segera memeriksakan Adik Bayi loh. Udah jangan sedih terus. Pikirkan aku yang selalu mencintaimu, dan pikirkan buah hati kita saja yah," kata Satria sekarang.
"Iya, Mas Satria. Terima kasih selalu menjadi air yang sejuk untukku di saat ada percikan api di dalam diriku," balas Indi.
Percikan api yang dimaksud oleh Indi adalah amarah, rasa kesal, dan emosi. Sejak dulu, Satria selalu menjadi air yang sejuk untuknya.
"Dalam kehidupan rumah tangga memang harus seperti itu, Sayang. Ketika api bertemu dengan api, bisa saling membakar dan menghanguskan. Oleh karena itu, satu pihak harus menjadi air, yang bersifat mendinginkan dan memadamkan api," balas Satria.
"Makasih, Mas. Makasih banyak," balas Indi.
"Sama-sama, Sayangku. Baiklah, aku berangkat ke kantor yah? Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Satria.
__ADS_1
"Yah, aku baik-baik saja. Kan ada Yayah juga yang pasti jagain aku. Hati-hati Mas Ningratku," balas Indi.
Setelah itu Indi mengantarkan suaminya hingga ke depan kantor. Beruntungnya Indi. Dulu, memang dia merasakan patah hati, takut ketika pria hanya akan memanfaatkannya, mengambil sesuatu yang berharga dalam dirinya. Semua itu tak lain karena ulah Yudha di masa lalu. Syukurlah, Tuhan merencanakan sesuatu yang lebih indah. Indi berharap bahwa pernikahannya dengan Satria akan langgeng. Dia bisa menua bersama dengan suaminya dan membesarkan buah hati mereka nanti.