Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Irene KKN ke Jakarta


__ADS_3

Selang beberapa pekan setelahnya, Indi menerima kabar dari Yayah dan Bundanya bahwa hari Jumat pekan depan Irene akan mengikuti KKN di Jakarta. Tentu saja, untuk Bunda Ervita ini adalah hal yang berat. Berpisah dengan anak yang harus melaksanakan Kuliah Kerja Nyata selama 30 hari. Biasanya Irene selalu di rumah, terlebih dia putri bungsu dan kemudian harus KKN ke Jakarta.


Bunda Ervita dan Ayah Pandu merasa sedih karenanya. Tak jarang, Bunda Ervita sudah mulai menangis dan tidak bisa tidur beberapa malam ini.


"Jangan sedih terus, Nda. Irene kan pergi ke Jakarta untuk KKN," kata Ayah Pandu menenangkan istrinya itu.


"Sedih, Yah. Biasanya anak di rumah. Walau nugas sampai malam, tetap pulang ke rumah dan sekarang harus di Jakarta selama tiga puluh hari penuh. Mana Jakarta apakah aman untuk Irene, Yah?"


Ada kekhawatiran sendiri ketika Irene harus ke Jakarta. Terlebih latar belakang kota metropolitan dengan banyak kejahatan yang mungkin saja bisa terjadi di sana membuat Bunda Ervita sedih.


"Kita percayakan ke Allah. Anak kita kan titipan dari Allah, biar Allah yang jagai. Tugas kita sebagai orang tua adalah memberikan ajaran, nasihat, didikan, dan mendoakannya. Ketika orang tua tidak bisa menjangkau anak, percayalah ada kekuatan Maha Dahsyat, kekuatan dari Allah yang akan menjaga Irene nanti," balas Ayah Pandu.


Sebagai Ayah juga pastilah ada kerisauan di dalam hati Ayah Pandu. Akan tetapi, Ayah Pandu lebih memilih memperbanyak doa, kiranya di Jakarta nanti berjalan lancar dan juga Irene bisa menjaga dirinya. Selain itu ini adalah cara Ayah Pandu menenangkan istrinya.


"Dulu Indi KKN di Magelang. Setiap pekan kita usahakan mengunjungi dia. Sekarang, Irene malahan ke Jakarta. Itu jauh banget," kata Bunda Ervita.


"Pilihan kedua anak kita berbeda, Nda. Indi juga mendapatkan suami asli Solo, tapi sekarang tinggal di Jogjakarta. Nanti Irene gimana, kalau dapatnya orang jauh? Kita orang tua harus bersiap. Bisa saja, ini menjadi latihan. Nanti, kalau suatu hari Irene mendapatkan jodoh orang jauh kita orang tuanya juga harus siap," kata Ayah Pandu.


Mendengarkan ucapan Ayah Pandu membuat hati Bunda Ervita menjadi pedih. Bagaimana benar jika suatu saat nanti Irene mendapatkan jodoh orang yang jauh. Sebab tak dipungkiri ada kalanya jodoh itu datang dari tempat yang jauh. Asam di gunung saja bisa bertemu dengab garam di laut.


"Yang penting kita selalu mendoakan. Allah pasti menjagai Irene sehingga jalannya lurus dan selalu diridhoi Allah," balas Ayah Pandu.


Bunda Ervita masih berusaha menenangkan dirinya. Untung saja di kala begini, suaminya yang dewasa dan bijak selalu mengingatkannya untuk lebih dekat dengan Allah. Akhirnya, malam itu Ayah Pandu memilih mengajak Bunda Ervita menunaikan sholat bersama. Ketika hati terasa risau dan berat lebih baik bersujud di atas sajadah, mencari Allah, mendapatkan ketenangan, dan memperoleh ridho yang Allah tunjukkan.


Menyelesaikan sholat dua rakaat, Bunda Ervita mencium tangan suaminya. "Makasih, Yah. Bisa menjadi lebih tenang," katanya.


"Bukan karena aku, Dinda, tapi karena Allah semata."

__ADS_1


Itulah pasangan yang saling mengisi puluhan tahun. Mengarungi setiap fase dalam berumahtangga. Sehingga keduanya saling menguatkan satu sama lain.


...🍀🍀🍀...


Sepekan Kemudian ....


Sekarang keluarga Hadinata mengantarkan Irene yang akan berangkat ke Jakarta. Sehingga keluarga mengantarkan Irene ke Yogyakarta Internasional Airport yang ada di Kulon Progo, Jogjakarta. Jarak ke Bandara YIA memang jauh, tapi sekarang semua pesawat penerbangan diarahkan ke Yogyakarta Internasional Airport, sedangkan Bandara Udara Adi Sutjipto sekarang dialihfungsikan sebagai penerbangan militer.


Termasuk Indi dan Satria yang kini turut mengantarkan ke Bandara Udara Yogyakarta Internasional Airport. Tampak keduanya mendampingi Bunda Ervita dan Yayah Pandu.


"Rene, hati-hati selama di Jakarta yah. Selalu kabarin Mbak kalau butuh apa-apa," kata Indi kepada adiknya itu.


"Iya, Mbak ... titip Bunda dan Yayah dulu yah, Mbak. Nanti kalau aku sudah pulang dari Jakarta, kita mall bareng yah, Mbak. Kangen jalan-jalan ke Mall dan dibayarin Yayah," balas Irene.


Mendengarkan balasan adiknya, Indi tidak jadi menangis. Dia justru mencubit lengan adiknya itu. Bisa-bisanya Irene justru ingin dibayarin Yayahnya.


"Gak apa-apa, Yayah kan baik. Selalu bayarin kita kalau ke Mall. Ya kan Yah?" balas Irene.


Ayah Pandu tersenyum dan menganggukkan kepalanya perlahan. "Iya, selesaikan KKN-mu dulu ya, Rene. Ingat pesannya Yayah dan Bunda, Jakarta itu kota besar, jangan ceroboh di kota yang baru. Harus bisa menjaga diri dan menjaga nama Yayah dan Nda," balas Yayah Pandu.


"Siap, Yayah. Irene selalu ingat nasihatnya Yayah dan Nda kok. Doakan Irene ya, Yah. Sebulan lagi, jemput Irene di Jogjakarta yah."


Bunda Ervita sudah menangis. Sedih sekali ketika melepaskan buah hatinya yang harus KKN ke Jakarta. Sementara Indi hanya berusaha untuk tak menangis. Sementara Yayah Pandu seperti biasanya terlihat sabar, dan begitu ngemong.


"Kalau sudah landing nanti kabarin yah. Ada yang dikenal atau pembina kan di Jakarta?" tanya Indi.


"Ada yang pembinanya kok, Mbak. Irene juga kenal seorang Dokter yang dulu jadi nara sumber di kampus. Cuma kan lawan jenis ya Mbak, jadi ya harus berjaga-jaga," balas Irene.

__ADS_1


"Hati-hati loh, Rene. Kan baru kenal saat nara sumber. Jangan terlalu percaya kepada orang yang baru dikenal. Luarnya baik, kita belum tahu dalamnya, karakter yang sebenarnya," balas Indi.


Bukan bermaksud aneh, tapi Indi mengingatkan adiknya untuk lebih berhati-hati. Hanya bertemu di nara sumber belum tentu mengenal luar dalam. Oleh karena itu, Indi mengingatkan adiknya itu.


"Iya, Mbak. Irene tahu kok. Pasti juga akan menjaga diri," balasnya.


"Kamu jauh dari rumah untuk kali pertama, jauh dari keluarga, belajar untuk menjaga dirimu sendiri. Yang penting selalu komunikasi. Mbak Indi, Mas Satria, Yayah, dan Nda selalu menunggu kabar darimu," kata Indi.


"Siap, Mbakku. Mbak ini kalau begini mirip banget sama Nda. Satu bulan lagi, ikut jemput aku di sini yah, Mbak," balas Irene.


"Iya, Dik. Nanti kami jemput di sini."


Setelah itu, Irene memeluk keluarganya satu per satu. Irene nyaris menangis kala memeluk Bundanya. Namun, gadis itu berusaha untuk menahan air matanya.


"Nda, Irene pamit yah," kata Irene.


"Hati-hati loh, Rene. Nda sedih melepasmu, tapi Nda percaya walau Yayah dan Nda jauh, ada Allah yang dekat denganmu. Jangan tinggalkan sholat, selalu memberikan kabar, dan jaga diri baik-baik," kata Bunda Ervita dengan berurai air mata.


"Pasti, Nda. Irene akan melakukan semua nasihatnya Nda," balasnya.


Hingga akhirnya Irene dan rombongan kelompoknya dari kampus akan memasuki pintu keberangkatan. Yayah Pandu segera merangkul istrinya itu. Begitu juga dengan Satria yang merangkul Indi. Para pria di sana berusaha menenangkan istri-istri mereka.


"Sebulan lagi kita jemput Irene," kata Satria lirih kepada Indi.


"Iya, Mas. Semoga Irene bisa menjaga dirinya. Penerbangan sore ini juga lancar."


Tak mudah melepas seseorang yang setiap harinya bersama dengan kita. Sama seperti Bunda Ervita yang menangis sedih kala mengantar Irene ke Jakarta. Memang demikianlah hidup, banyak momen yang dilewati. Semua momen akan memberikan nilai, pelajaran, dan hikmah tersendiri.

__ADS_1


__ADS_2