Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Langen Boga


__ADS_3

Malam harinya, Rama Bima dan Bu Galuh mengajak Indi dan Satria menuju ke Langen Boga yang berada di pusat kota Solo. Bukan hanya menikmati kuliner khas Solo yang enak, tapi juga menikmati malam hari di kota Solo. Baru hari pertama di Solo, tapi sudah begitu banyak aktivitas Indi dan Satria lakukan bersama.


"Kita ke Langen Boga dulu. Makan malam," kata Rama.


"Kalau ke Solo pasti diajak Rama wisata kuliner," kata Indi.


"Iya, Mbak. Anak-anak kalau enggak ke Solo, Rama dan Ibumu juga tidak bisa mengajak makan bersama," kata Rama Bima.


Mengingat bahwa Indi dan Satria tinggal di Jogjakarta, sehingga memang jarang untuk Rama Bima dan Bu Galuh bisa bertemu dan makan bersama. Lagipula, sebagai orang tua bisa memberikan makanan untuk anak-anak rasanya sudah membuat bahagia.


"Nang-Nang cepat besar yah, biar nanti bisa Eyang Rama makanan khas Solo yang enak-enak. Ada Selat Solo, Timlo Solo, Nasi Liwet. Kalau ke Solo nanti Rama belikan semua yang enak-enak," kata Rama Bima.


"Kalau yang dibeliin Nang-Nang, Mama dan Papanya ikutan loh, Eyang," balas Indi.


"Kalau itu pasti Mbak Indi. Sekalian Mama dan Papanya Nang-Nang," balas Rama.


Sekarang Rama Bima mengajak Indi dan Satria ke wilayah yang bernama Gladag. Tempat yang berhadap-hadapan dengan patung Slamet Riyadi atau Gapura Gladag yang bersejarah. Gapura ini adalah pintu masuk atau menuju ke Keraton Kasunanan Surakarta.



Gapura Gladag ini menjadi salah satu ikon Kota Solo. Gapura yang merupakan akses menuju Keraton Kasunanan, dengan dua Arca di depannya dan Pohon Beringin. Setiap harinya, masyarakat dari Solo atau yang lainnya akan berlalung-lalang melewati gapura ini.


"Nama tempat ini apa, Rama?" tanya Indi.

__ADS_1


"Ini namanya Galabo, Mbak. Gladag Langen Boga, disingkat Galabo. Beberapa makanan khas dan otentik khas Solo dijual di sini. Ada iringan musik Keroncong juga, serasa ngelaras. Bersantai menikmati makanan enak dengan alunan irama keroncong," jelas Rama Bima.


Memang malam itu, ada alunan keroncong yang mengiring setiap pengunjung yang bersantap malam di sana. Senyum simpul rembulan, gemerisik angin malam menjadi suasana yang romantis. Makanan yang dipesan Rama Bima dan Bu Galuh malam itu adalah Sosis Solo, Selat Solo, dan Nasi Langgi. Benar-benar aneka makanan khas Solo yang menggoyang lidah.


"Enak enggak Mbak Indi?" tanya Bu Galuh.


"Enak, Ibu. Semua makanan di Solo enak-enak," balas Indi.


"Kalau ke Solo, wajib nyobain semua yang enak. Soalnya mengunjungi Rama dan Ibu, harus dilengkapi dengan wisata kuliner atau langen boga," balas Bu Galuh.


Indi tersenyum saja. Sebab, pasti kalau dia ke Solo pasti Bu Galuh dan Rama Bima akan mengajak Indi dan Satria berwisata kuliner khas Solo. Seolah sudah menjadi agenda wajib bagi Rama Bima dan Bu Galuh untuk mengajak Indi dan Satria berwisata kuliner bersama.


"Nambah lagi, Mbak Indi ... Sat, nambah lagi," kata Rama Bima.


Rama Bima tertawa. Sekarang rasanya tiap bertemu dengan Indi dan Satria itu rasa sayangnya berlimpah-limpah. Ingin memberikan perhatian yang berlebih.


"Dua bulan lagi yah, kita ke Seoul. Semoga benar nanti acaranya. Sebab, kadang bisa pindah tuh tempat acaranya," kata Rama Bima.


"Satria kerja keras dan nabung dulu, Rama. Untuk bekal ke sana," balasnya.


"Sudah, gak usah. Ada Rama kok. Nanti kamu yang mengisi presentasi produk kita yah, Sat. Kalau anak muda yang membawakan pasti lebih hidup. Bisa mendekat anak muda dan bisa berbahasa Inggris. Berbeda dengan orang tua yang pendekatannya udah beda," kata Rama Bima.


Satria kemudian menganggukkan kepalanya."Boleh, Rama. Namun, nanti Satria dibimbing dan didampingi. Bagaimana pun anak muda juga harus menimba ilmu dari yang lebih sepuh," balas Satria.

__ADS_1


"Rama percaya sama kamu. Boleh juga kalau barengan dengan Mbak Indi. Partner kan kalau ngerjakan bersama-sama itu lebih enak. Terasa perjuangan dan kesuksesannya nanti," balas Rama Bima.


Satria dan Indi lagi-lagi tersenyum. Padahal Indi tidak tahu-menahu perihal jamu. Kalau pun tahu juga hanya kulit luarnya saja. Bukan pelaku industri tersebut.


"Indi mendukung dan mendoakan Mas Satria aja," balasnya.


"Kamu juga bisa, Sayang. Kan kamu pinter dan suka belajar hal baru," balas Satria.


"Benar, Mbak Indi. Belajar dulu. Masih ada waktu dua bulan untuk belajar dan mendalami materi. Sampaikan yang terbaik. Nanti kan kalian juga yang akan melanjutkan usaha jamu ini," kata Rama Bima.


"Rama masih bisa melanjutkannya kok," balas Satria.


"Rama akan menua juga, Sat. Sudah saatnya nanti usaha keluarga ini diteruskan kepada generasi selanjutnya. Sama seperti usaha Batik Hadinata yang dari Eyang Hadinata diturunkan ke Bu Ervita. Pabrik jamu kita juga begitu. Biar generasi muda ini kenal jamu juga. Tidak punah, minuman tradisional ini," kata Rama Bima.


Sebab, sesuatu yang klasik dan sifatnya warisan turun-temurun kalau memang tidak dilanjutkan oleh generasi setelahnya pasti akan punah. Oleh karena itu, Rama Bima sudah berharap nantinya Indi dan Satria akan bisa melanjutkan usaha pabrik jamu yang sudah bertahan dari generasi ke generasi. Sama seperti usaha batik Hadinata yang diwariskan kepada Bunda Ervita.


"Kamu bisa, Sat," kata Bu Galuh sekarang.


"Jadi pemimpin di keluarga dulu, nanti bisa memimpin orang lain. Rama percaya kamu bisa memimpin istri dan anak-anakmu. Seni memimpin itu dimulai dari dalam keluarga. Rama yakin, pabrik kita akan lebih maju nantinya," kata Rama Bima.


Satria dan Indi saling pandang. Dipercaya oleh orang tua itu terasa membanggakan, tapi kadang kala ada rasa ketidakyakinan dalam hati. Terlebih di pabrik milik Ramanya memiliki ratusan karyawan.


"Sudah, enggak perlu dipikirkan. Dimakan saja, dinikmati. Ada saatnya seorang raja turun tahta, sama seperti Rama yang nanti juga masanya pensiun. Dilanjutkan oleh kamu dan Sitha," balas Rama.

__ADS_1


Sekarang Satria dan Indi menganggukkan kepalanya perlahan. Kembali menikmati aneka menu kuliner, langen boga yang tersaji di hadapannya. Beratapkan langit kota Solo dan alunan musik Keroncong yang mendayu-dayu.


__ADS_2