Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Eyang Negara Sangat Bahagia


__ADS_3

Pada akhir pekan selanjutnya, keluarga Negara berkunjung ke Jogjakarta. Memang atas keinginan Rama Bima sendiri yang lebih memilih bolak-balik ke Jogjakarta, mengingat menantunya sedang hamil muda. Sehingga Rama Bima dan Bu Galuh yang memilih untuk ke Jogjakarta.


"Sekarang kita jadi rutin ke Jogjakarta yah, Rama?" kata Bu Galuh kepada suaminya itu.


"Tidak apa-apa, Bu. Menantu kita baru hamil, kasihan kalau diminta bolak-balik Jogjakarta ke Solo. Nanti kalau ada akses jalan tol sudah jadi, Jogjakarta ke Solo hanya setengah jam. Sekarang, melalui jalan provinsi bisa lebih dari dua jam perjalanan dengan mobil, kasihan Indi," kata Rama Bima.


Bu Galuh menganggukkan kepalanya. Apa yang disampaikan oleh suaminya benar adanya. Orang hamil dan harus menempuh perjalanan jauh, masih ada dua putra kembar berusia Balita rasanya pasti repot. Oleh karena itu, Rama Bima dan Bu Galuh lah yang memilih sering ke Jogjakarta untuk mengunjungi anak, menantu, dan cucunya.


"Mumpung kita juga masih sehat, bisa ke sana-sini sendiri, Bu. Jadi, bersyukur ke Allah, usia sudah paruh baya masih bisa bolak-balik Jogjakarta ke Solo untuk mengunjungi anak, menantu, dan cucu kita. Rama sih berharap, kita berdua selalu sehat, biar bisa rutin mengunjungi Satria dan keluarganya."


Rama Bima berbicara lagi. Sebagai orang yang sudah menginjak paruh baya, kesehatan itu adalah sesuatu yang berharga. Bisa beraktivitas normal, bisa menempuh perjalanan Solo ke Jogjakarta rasanya anugerah tersendiri. Sebab, banyak pula orang-orang seusia Rama Bima yang mulai terbatas aktivitasnya lantaran masalah kesehatan.


"Benar sekali, Rama. Semoga kita berdua sehat. Bisa mengunjungi Satria, Indi, dan cucu-cucu kita. Benar, kasihan Indi kalau harus sering-sering ke Solo."


Akhirnya Rama Bima dan Bu Galuh tiba di Jogjakarta. Tempat yang mereka tuju adalah kediaman Satria. Sama seperti biasanya, ketika Rama Bima dan Bu Galuh datang ada begitu banyak oleh-oleh yang dibawa dari Solo. Cara orang tua menyayangi anak dan cucunya juga adalah membawakan oleh-oleh atau buah tangan.


"Assalamualaikum," salam Rama Bima dan Bu Galuh sembari mengetuk pintu rumah Satria.


"Waalaikumsalam," sapa Nakula dan Sadewa dengan kompak.


Bahkan sekarang terdengar jejak langkah kaki dua bocah kecil berlarian dan hendak membuka pintu. Hanya selang beberapa saat, ada tangan-tangan kecil yang membuka pintu. Benarlah mereka adalah Nakula dan Sadewa.


"Eyang Rama dan Eyang Ibu," teriak Nakula dan Sadewa lagi-lagi dengan kompak.


"Pinternya cucunya Eyang bukain pintu. Mama dan Papa mana?" tanya Rama Bima.


Akhirnya Rama Bima menggendong satu cucunya, dan Bu Galuh menggendong satu cucunya. Keduanya memasuki kediaman Satria.


"Di dapur, Eyang," balas Sadewa dengan tangannya menunjuk ke arah dapur.

__ADS_1


Dari dapur, Indi dan Satria pun keluar. Keduanya memberikan salam kepada Rama Bima dan Bu Galuh. Senang karena ada orang tua yang jauh-jauh datang dari Solo. Selain itu, Nakula dan Sadewa juga senang bertemu dengan Eyangnya.


"Senangnya setiap kali Eyang datang dari Solo," kata Indi.


"Kamu sedang hamil Mbak Indi ... biar kami yang bolak-balik ke Jogja. Bagaimana sehat? Ada ngidam sesuatu enggak Mbak Indi?" tanya Bu Galuh.


Indi dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Kali ini, belum kepengen apa-apa kok, Ibu. Asalkan dekat sama Mas Satria udah senang," jawabnya.


"Dekat Papa, Ma. Bukan Mas ...."


Sadewa menyahut. Menurutnya tidak ada Mas di rumah. Yang ada adalah Mama dan Papa. Sementara sekarang yang dipanggil Mas adalah Nakula dan Sadewa yang sudah dipersiapkan menjadi kakak untuk adik-adiknya nanti.


"Oh, iya Mas Sadewa. Yang Mama maksud adalah Papa. Maaf yah," kata Indi.


"Oke Mama ...."


Bu Galuh kemudian tersenyum, cucunya itu sangat kritis. Kemudian Bu Galuh berbicara kepada Indi dengan lirih.


"Memang, Bu. Dia sangat kritis. Ya, setiap anak walau kembar, tetap saja memiliki berbeda. Memiliki kelemahan dan kelebihannya masing-masing," jawab Indi.


Rama Bima kemudian bertanya kepada Sadewa. "Mas Sadewa nanti kalau besar mau jadi apa, Mas?" tanyanya.


"Seperti Papa, Eyang." Seolah Sadewa tak perlu berpikir panjang untuk memberikan jawaban.


Rama Bima tertawa. Ada cucunya yang ingin bekerja di perusahaan sama seperti Satria. Siapa tahu nanti Sadewa bisa menjadi pengusaha, bisa meneruskan bisnis keluarga nanti. Nakula yang tidak ditanyai, juga memberikan jawaban.


"Nakula mau jadi dokter, Eyang," balasnya.


Eyang Bima sekarang menganggukkan kepalanya. "Bagus, cita-cita yang mulia Mas Nakula. Eyang doakan cita-cita Mas Nakula terwujud yah."

__ADS_1


Jujur di dalam hati, Eyang Bima juga senang kalau ada keturunannya yang menjadi dokter. Itu adalah sebuah cita-cita yang mulia. Satu kebanggaan tersendiri jika ada keturunannya yang menjadi dokter.


Setelah itu, mereka berkumpul di ruang tamu. Hanya saja Nakula dan Sadewa sedang bermain berdua di kamar bermain. Waktunya Bu Galuh bertanya-tanya kepada Indi.


"Kehamilannya sehat Mbak Indi?" tanyanya.


"Alhamdulillah, sehat, Ibu. Babiesnya sehat," jawab Indi.


"Ibu, maunya cucu cowok atau cewek nih?" tanya Satria sekarang.


Bu Galuh tertawa. Kemudian dia menjawab secara terus-terang. "Kan sebelumnya sudah memiliki dua cucu cowok, Nakula dan Sadewa. Kali ini, kalau bisa sih ada ceweknya. Kalau bisa kan mau cowok atau cewek itu kehendak Allah semata. Yang penting Mbak Indi dan bayinya sehat," balas Bu Galuh.


"Ibumu ini memang pengen cucu cewek, Sat ... mau dibelikan boneka dan dress yang lucu-lucu katanya," imbuh Rama Bima.


"Kan ya cuma keinginan saja, Rama. Kalau dapatnya cowok-cowok lagi ya tidak apa-apa. Cucu kan anugerah, karunia dari Allah. Jadi, apa pun itu diterima dengan tangan terbuka, dengan hati yang bersyukur," kata Bu Galuh lagi.


Satria lantas berbicara kepada Rama dan Ibunya. Berbagi kabar baik untuk para Eyang yang sudah datang jauh-jauh dari Solo.


"InsyaAllah, kali ini ... Satria dan Indi dikarunia bayi perempuan. Semoga saja waktu persalinan nanti benar-benar perempuan," kata Satria.


Rama Bima dan Bu Galuh tersenyum hatinya sangat senang karena akan memiliki cucu perempuan. "Perempuan semua atau ada cowoknya?" tanya Bu Galuh.


"Keduanya cewek, Bu. Yang cantik kayak Mamanya," balas Satria.


Bu Galuh kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. "Benar. Senangnya Ibu memiliki cucu perempuan. Nanti diajak Eyang Ibu dan Eyang Nda shopping bersama. Dibeliin boneka lucu-lucu," katanya.


"Boleh Eyang, Mamanya biar bisa ke salon," balas Indi dengan bercanda.


Bu Galuh tertawa mendengar ucapan Indi. "Boleh, Mbak Indi. Mamanya kembar biar selalu cantik dan awet muda. Biar makin disayang Satria yah ...."

__ADS_1


Mereka berempat tertawa bersama. Selalu ada kebahagiaan setiap kali berkumpul bersama keluarga seperti ini. Ada kehangatan dan tawa dalam momen bersama keluarga.


__ADS_2