
Keesokan harinya, ketika akhir pekan, Rama Bima dan Ibu Galuh mengajak keluarga Satria menuju ke area Kaliurang. Bukan untuk wisata sebenarnya, tapi hanya sebatas mengajak outing kedua cucunya yaitu Nakula dan Sadewa. Selalu saja ada agenda keluar dan bermain dengan cucu, setiap kali Rama Bima dan Bu Galuh datang ke Jogjakarta. Kunjungan mereka seakan belum lengkap, jika belum mengajak bermain Nakula dan Sadewa.
"Kalau main-main, enggak mabuk kan Mbak Indi?" tanya Bu Galuh.
Mabuk yang dimaksud oleh Bu Galuh adalah rasa mual yang biasanya dialami para ibu hamil. Rasa mual yang akhirnya membuat ibu hamil menjadi muntah.
Indi pun dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Hamil kali ini, Indi gak mual sama sekali kok, Ibu. Mas Satria malahan yang sering muntah, tapi memasuki Trimester kedua ini sudah jarang."
"Oh, kalau kamu yang sehat sih tidak apa-apa. Satria kuat kok, pasti dia gak keberatan juga. Iya kan Sat?" tanya Bu Galuh kepada putranya itu.
"Tidak masalah kok, Bu. Untuk istri tercinta," balasnya.
Indi yang duduk di belakang bersama Bu Galuh tampak menunduk. Tetap saja dia tersipu malu. Terlebih di hadapan mertuanya sendiri. Indi merasa lebih malu sekarang.
"Bagus, harus begitu. Kan nanti saat bersalin yang menahan rasa sakit itu adalah istri. Kalau cuma mual dan muntah, kaum pria masih bisa kok. Kalau sakit bersalin itu MasyaAllah sakit dan nikmatnya, hanya perempuan yang bisa. Hanya perempuan yang tahan untuk menahan rasa sakit yang begitu menyakitkan," kata Bu Galuh.
Satria menganggukkan kepalanya. Dia percaya bahwa rasa sakit bersalin itu adalah sakit yang teramat sakit. Oleh karena itu, jika Satria hanya sebatas mual dan muntah layaknya morning sickness, Satria masih bisa menahannya.
"Satria pernah membaca kalau memang wanita diciptakan untuk bisa merasakan bahkan menahan rasa sakit yang dahsyat itu, Ibu. Jadinya, karena Indi sudah mengalami sakit yang hebat, biar Satria aja yang mual. Dengan begitu, kami berbagi," balas Satria.
Rama Bima yang sedari tadi diam, akhirnya turut membuka suaranya. "Suami kalau bisa berpikiran begitu justru bagus, Sat. Rama dulu juga begitu. Waktu Ibumu hamil, pernah juga Rama yang mual. Waktu ibumu pasca melahirkan, Rama sendiri yang mencuci jariknya yang dipakai waktu bersalin. Meringankan tugas istri," balas Rama Bima.
Sekarang Satria baru tahu bahwa Ramanya yang kesan dan pembawaannya kaku, ternyata memang adalah suami yang baik. Suami yang mau berbagi beban dan pekerjaan dalam rumah tangga. Tanpa Satria katakan, itu sudah Satria lakukan saat Indi usai melahirkan Nakula dan Sadewa dulu.
"Menurut Rama, selama kamu bisa membantu istrimu lakukanlah. Pria tidak akan menjadi rendah karena dia mencucikan pakaian kotor istrinya yang sedang sakit atau melahirkan. Justru itu teladan dari Rasulullah. Melakukan sesuatu yang mulia."
Indi dan Satria sama-sama tersenyum. Rama Bima memberikan nasihat yang begitu indah. Pastilah Indi dan Satria akan mengingatnya. Sembari mobil terus meluncur hingga ke area Kaliurang, sekarang mereka mengunjungi tempat wisata edukasi untuk anak-anak yang bernama Bhumi Merapi, Kaliurang, Jogjakarta. Dengan konsep agrowisata dan memberikan pengalaman untuk lebih dekat dengan alam. Sebab, di tempat ini anak-anak bisa belajar memerah susu kambing, menunggang kuda, memberi makan kelinci, dan berbagai kegiatan lainnya.
__ADS_1
"Jalannya hati-hati, Mbak Indi," kata Bu Galuh kepada menantunya itu.
"Nggih, Bu ... membawa bayi di dalam perut. Harus lebih berhati-hati," balas Indi.
"Benar banget, apalagi menggendong dua bayi yah selama sembilan bulan," kata Bu Galuh lagi.
Di Bhumi Merapi cuacanya sejuk, angin juga begitu semilir. Hanya saja siang itu terasa terik lantaran sudah beberapa bulan tidak turun hujan sama sekali di Jogjakarta. Indi yang tengah hamil saja merasa gerah. Nakula dan Sadewa sangat senang dan excited kala menunggang kuda.
"Biar anak-anak naik kuda. Kita tunggu di sini saja yah," kata Bu Galuh kepada Indi.
"Iya, Bu. Sebenarnya sudah lama Nakula itu ngajak Papanya menunggang kuda. Cuma, baru kesampaian sekarang. Kelihatan banget senengnya Nakula," kata Indi.
"Anak-anak kalau apa yang dia mau sudah tercapai pastilah seneng, Mbak. Mbak Indi dan Ibu duduk di sini saja, banyak jalan menanjak dan anak tangga. Harus hati-hati dan dijaga kandungannya," kata Bu Galuh dengan penuh perhatian.
Indi tersenyum mana kala mendapatkan perhatian dari Ibu mertuanya. Bagi Indi itu adalah wujud kasih sayang ibu mertua kepada menantunya. Biasanya memang ketika menantu tengah hamil, ada mertua yang lebih perhatian. Sama seperti Bu Galuh sekarang ini.
"Kalau kandungannya sudah kuat, main ke Solo, Mbak. Nanti Ibu belikan Bakmi Jawa itu. Ibu kalau memasakkan juga bisa. Mau nanti Ibu masakkan?" tawarnya.
Sekarang Indi menjadi sungkan rasanya. Ibu mertuanya sampai-sampai mau memasakkan untuknya. Karenanya Indi hanya senyam-senyum saja.
"Mau enggak?" tanya Bu Galuh lagi.
"Duh, Indi jadi sungkan loh, Ibu."
"Gak usah sungkan, Mbak Indi. Kamu itu sudah Ibu anggap anak sendiri, bukan anak mantu. Kalau anak menginginkan sesuatu dan meminta kepada orang tuanya kan wajar-wajar saja."
Belum Indi menjawab, Nakula dan Sadewa sudah berlari ke arahnya. Keduanya menceritakan serunya menunggang kuda bersama Papa Satria dan Eyang Rama.
__ADS_1
"Asyik, Ma," kata Sadewa.
"Takut enggak naik kuda?" tanya Indi.
"Agak takut," jawab Sadewa.
"Nakula tidak takut, Mama ... mau lagi."
Kalau Sadewa mengaku takut, Nakula justru merasa tidak takut. Setelah berkuda, Nakula dan Sadewa kemudian diajak Rama Bima memeras susu kambing. Kali ini keduanya merasa geli, dan takut. Namun, Rama Bima ingin memberikan pengalaman untuk kedua cucunya itu.
"Yuk, dicoba ... sini, dibantu Eyang Rama yah," kata Eyang Rama.
"Takut, Eyang ...."
Nakula dan Sadewa kompak mengatakan bahwa mereka berdua takut. Satria juga tertawa saja melihat ekspresi geli dari kedua putra kembarnya itu.
"Dicoba aja, Nang ... jangan takut," kata Bu Galuh menyemangati kedua cucunya.
Setelah dibujuk dan disemangati Eyangnya, barulah Nakula dan Sadewa mau untuk mencoba. Walau begitu, keduanya hanya mencoba sangat sebentar. Keduanya mengaku geli memeras susu kambing.
"Tempatnya bagus, Pa. Lain kali ke sini lagi naik kuda yah?" ajak Sadewa.
"Tentu, Mas Sadewa ... kapan-kapan main ke sini lagi boleh."
"Ajak Eyang Pandu ya, Pa," pinta Nakula.
Satria menganggukkan kepalanya. Pastilah Nakula dan Sadewa berpikir kalau melalukan semua kegiatan di alam ini bersama Eyang Pandu, rasanya juga menyenangkan. Satria berjanji, nanti pastilah akan mengajak Nakula dan Sadewa serta Eyang Kakung dan Eyang Nda ke Bhumi Merapi ini.
__ADS_1