Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Pengumuman Tender


__ADS_3

Usai dari Taman Sari, Indi mengantarkan Satria lagi ke kantornya. Indi tersenyum saja dengan tingkah Satria yang lain daripada biasanya. Sampai Satria rela menyempatkan waktu untuk bisa sekadar jalan-jalan dengannya.


"Dik, aku doakan kamu yang menang tender itu yah. Biar kita bisa bekerja bersama. Selain itu biar kamu sering bertemu Rama," kata Satria.


Mendengarkan apa yang Satria sampaikan, Indi tersenyum. Apa kaitannya jika dia akan lebih sering bertemu dengan Rama Bima. Lagipula, Rama kan tidak suka dengannya.


"Ngapain sih, Mas ... aku sih nothing to lose aja. Kalau aku yang menang, ya berarti tender itu memang untukku. Allah kan sudah mengatur rejeki untuk kita. Menakarnya," balas Indi.


"Bukan gitu, kalau sering bertemu kan Rama bisa tahu kalau kamu itu memang seorang gadis yang baik. Itu loh, maksudku."


Menurut Satria, memang Ramanya itu belum mengenal Indi saja. Nanti, jika Rama sudah benar-benar mengenal Indi, pastilah restu itu akan datang dengan sendirinya. Dengan membiasakan diri, siapa tahu nanti bisa saling menerima dan terbiasa.


"Iya, Mas. Semoga saja. Walau aku juga tak berharap muluk-muluk. Berharap terlalu tinggi, membuatku takut jatuh," balas Indi.


Alih-alih berharap terlalu tinggi, Indi lebih tulus untuk menjalani apa adanya saja. Begitu juga dengan kisah cintanya yang dia pasrahkan kepada Allah sepenuhnya. Biar Allah yang mengukir jalan cintanya. Usahanya kiranya dibuat Allah menjadi berhasil.


"Baiklah, semoga nanti hasilnya baik yah. Ingat pesanku, tetap tunggu aku."


Usai itu, Satria keluar dari mobil milik Indi. Pemuda itu melambaikan tangannya kepada Indi. Cukup bahagia, walau belum ada titik temu untuk hubungan mereka berdua. Namun, Satria memilih bahagia dan terus berusaha.


...🍀🍀🍀...


Tiga Hari Kemudian ....


Siang ini, Indi mendapatkan kabar berupa pesan di Whatapp dan email secara resmi. Dia diminta untuk ke gedung perkantoran yang ada di daerah Godean, Jogjakarta. Oleh karena itu, Indi pun berpamitan dengan Ayahnya.


Pesan dari ayahnya supaya Indi berhati-hati saja. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan kabar. Akhirnya, Indi menuju ke arah Godean. Di sana, dia kembali untuk mendapatkan kantor PT. Jamu Sido Mulya. Pihak resepsionis mempersilakan Indi untuk langsung menuju kantor pimpinan. Jujur, Indi takut dan ragu. Sebab, setahunya bahwa pimpinan PT itu adalah Rama Bima, ayahnya Satria.

__ADS_1


"Selamat siang," sapa Indi kala mengetuk pintu pimpinan perusahaan.


"Ya, silakan masuk."


Tepat seperti prediksi Indi sebelumnya, di sana ada Rama Bima. Gugup sebenarnya lebih mendominasi, tapi Indi meyakinkan hatinya sendiri bahwa dia bisa menghadap pimpinan itu dengan baik. Berharap waktu ke depan juga semakin melunak.


"Silakan duduk dulu," kata Rama Bima dengan baik.


Akhirnya Indi duduk di sofa yang ada di dalam ruangan itu. Kemudian Rama Bima menyusul dengan membawa beberapa lembar dokumen.


"Begini, untuk tender kemarin ... kamu yang memenangkannya. Saya suka dengan konsep desain yang kamu presentasikan. Jadi, silakan dipelajari dulu untuk kesepakatan kerja sama dengan PT. Sido Mulya," kata Rama Bima.


Indi menerima beberapa dokumen itu dan mempelajarinya dengan teliti. Tidak melewatkan poin demi poin yang berada di sana. Kemudian, Indi menatap sejenak Rama Bima yang duduk di hadapannya.


"Sudah saya baca," kata Indi.


"Saya rasa tidak ada," jawab Indi.


Rama Bima pun menganggukkan kepalanya. Dia kemudian berbicara lagi dengan Indi.


"Nanti bukan Satria yang akan bertanggung jawab untuk projek ini. Alasannya sudah jelas dan kamu tentu sudah tahu. Jadi, nanti ada yang in charge di sana. Walau tanpa Satria, saya harap kamu bisa bekerja dengan baik."


Rupanya ada pesan tersendiri yang disampaikan Rama Bima kepadanya. Senyuman getir tampak terlihat jelas di mata Indi. Upaya demi upaya yang dilakukan ternyata belum bisa memenangkan hati Rama Bima.


"Anda tidak perlu khawatir, dengan atau tanpa Mas Satria, saya bisa bekerja secara profesional," sahut Indi dengan tegas.


Bagi Indi ke profesionalitas tidak perlu ditunjukkan dengan ada atau tidaknya Satria. Lagipula, selama ini Indi juga terbiasa bekerja sendiri. Menjaga fokus dan kreativitas untuk menghasilkan interior yang bagus dan memuaskan pelanggan.

__ADS_1


"Bagus, saya harap akan begitu adanya," jawab Rama Bima.


Usai itu, Rama Bima memanggil sekretarisnya untuk membuat copy beberapa salinan kerja sama. Ada yang harus mereka tanda tangani bersama. Selain itu, kesepakatan tadi adalah kesepakatan lisan sehingga tak tertulis di dalam dokumen.


"Yang saya sampaikan tadi hanya kesepakatan lisan antara dua belah pihak. Tidak akan tertera di dalam dokumen kerja sama. Jadi, saya harap kamu bisa menjalankannya," kata Rama Bima lagi.


Indi menganggukkan kepalanya. "Baik, tapi jika Mas Satria yang datang sendiri ke saya, itu bukan salah saya," balas Indi.


"Kamu harus menolaknya," balas Rama Satria.


"Sekuat apa pun saya menolak, dua hati yang saling terkait adalah karena Allah SWT saja, Bapak. Sejauh apa upaya manusia untuk memisahkan yang sekiranya Allah takdirkan?"


Indi membalas. Gadis itu memilih dan menggunakan kata-kata yang sopan. Hanya mengingatkan bahwa sejauh apa usaha manusia menggagalkan rencana Allah, itu pun tak akan terwujud. Yang Allah kehendaki bersatu pastilah akan bersatu. Walau cobaannya terjal dan berliku, jika memang itu adalah jodoh yang Allah takdirkan, itu juga yang akan terlaksana.


"Kamu terlalu percaya diri, Indira," kata Rama Bima.


"Bukan percaya diri, saya hanya pasrah kepada takdir Allah saja. Apa yang Allah gariskan, seyogyanya itulah yang terjadi."


Usai itu Indi menekan dokumen kerja sama dengan PT. Sido Mulya. Indi memang kesal di dalam hati, tapi Indi sekaligus ingin menunjukkan dia tidak akan menyerah begitu saja. Allah memberikan dia kekuatan untuk berjuang. Oleh karena itu, Indira akan berusaha berjuang. Dia tahu bahwa dia dan Satria sedang sama-sama berjuang. Walau bukan memanggul senjata atau mengangkat pedang.


Perjuangan memenangkan hati itu jauh lebih sukar. Namun, Indi akan bersabar dan juga terus membawa Satria dalam doanya. Jika jodoh, entah bagaimana pun caranya Allah akan membuka jalan. Pintu tertutup seribu pun, akan ada satu pintu yang terbuka.


"Baiklah, ini bukti kerja sama kita. Siapa nanti yang akan in charge projek ini bisa kamu temui pekan depan. Hari Senin nanti kamu sudah bisa mengerjakannya," kata Rama Bima.


"Baik Bapak Bima Negara, terima kasih untuk arahannya. Saya pamit."


Tidak ingin berlama-lama, Indi memilih pamit. Dia berharap tidak akan bertemu Satria. Biarkan saja dengan semua kegetiran di dalam hati yang sekarang dia rasakan. Kendati begitu, Indi akan tetap melakukan semua dengan baik dan juga semaksimal mungkin.

__ADS_1


__ADS_2