
Satria dan Indi sekarang berbagai satu pincuk, tempat makan yang dibuat dari daun pisang. Lenjongan yang manis, dinikmati berdua rasanya cukup mengenyangkan juga. Beberapa kali Satria juga menyuapi Indi dengan Kue Klepon, panganan tradisional yang dibuat dari tepung beras dan di dalamnya berisi gula jawa itu menjadi makanan yang disukai Indi.
"Malahan disuapin," kata Indi dengan sedikit menutup mulutnya. Sembari mengunyah Klepon, dengan cairan gula jawanya yang pecah di dalam.
"Gak apa-apa. Biasanya Mama yang menyuapi Nang-Nang. Sekarang, Papanya Nang-Nang yang menyuapi Mama Indira," balas Satria.
"Mas, kalau makan ini di leher butuh minuman. Beliin minum abis ini yah, Mas," pinta Indi.
Satria menganggukkan kepalanya. Kalau hanya sekadar minuman juga pasti Satria akan membelikannya untuk istrinya. "Mau minum yang apa? Es Dawet atau apa?"
"Yang netral saja, Mas. Es Teh kampul."
Es Teh kampul adalah es teh yang kemudian diberikan irisan jeruk. Lantaran jeruknya itu mengapung, orang Jawa mengatakannya Kampul. Satria pun membelikan minuman itu untuk istrinya. Masih berjalan-jalan berdua, kemudian Satria mengajak Indi melihat Seni Batik dengan menggunakan canting.
"Kayak di Kafe Batik milik Bunda yah, Yang," kata Satria.
"Iya, Mas. Basic-nya kan sama. Setahuku antara Solo dan Jogja hanya berbeda motif saja. Warna di Solo juga lebih ke arah Sogan yah cokelat-cokelat gitu, kalau warna batik di Jogjakarta lebih beragam," balas Indi.
Satria menganggukkan kepalanya. Melihat orang-orang membatik juga sangat seru."Mau mencoba membatik, Mbak?" tawar seorang ibu paruh baya di sana.
"Coba aja, Sayang," balas Satria.
Akhirnya Indi mencoba membatik. Padahal membatik bukan hal yang susah untuk Indi. Dia sudah tahu bagaimana membatik sejak kecil. Sehingga bagaimana cara duduk, memegang kainnya, dan mengambil canting juga sudah dikuasai Indi. Satria tersenyum dan memotret istrinya itu secara candid.
"Lah, MbakE sudah luwes membatiknya," kata ibu-ibu di sana.
"Nggih, Bu. Sudah bisa sejak kecil," balas Indi.
Beberapa menit Indi menyelesaikan satu bunga dan berterima kasih sudah diberikan kesempatan untuk membatik. Satria segera mengulurkan tangannya membantu istrinya untuk berdiri.
"Menyenangkan?" tanyanya.
__ADS_1
"Iya, padahal aku udah lama enggak membatik."
Sekaligus menjadi hiburan dan healing sejenak untuk Indi. Diberi waktu jalan-jalan dan menikmati budaya seperti ini juga sangat menyenangkan untuk fulltime Mom sepertinya. Bahagia ketika bisa melakukan sesuatu kegiatan di luar aktivitas rutinnya sebagai seorang istri dan ibu.
"Itu seni menari, Mas."
Sekarang Indi menunjuk pada beberapa gadis yang sedang menari Jawa di pura ageng Mangkunegaran. Terdengar suara gamelan terdengar mengiringi gerak gemulai para penari di sana. Indi dan Satria melihatnya. Tarian Solo Putri yang sangat halus. Bahkan ada wisatawan asing yang turut menyaksikan tarian itu.
"Bisa menari, Yang?" tanya Satria.
"Waktu kecil sih bisa, Mas. Sekarang udah kaku. Bisanya gendong Nang-Nang," balas Indi.
Satria tersenyum lagi. Tidak menyangka juga bahwa istrinya juga bisa menari khas Solo yang harus gerakannya. Pasti kalau Indi menari seperti itu sangat cantik.
"Bagus yah, gerakannya halus," kata Satria.
"Kan ada dua karakter di tarian Putri, Mas. Putri halus yang seperti itu. Lalu, ada Putri Lanyap atau tidak halus," balas Indi.
"Putri halus itu kayak siapa?" tanya Satria.
"Kalau putri lanyap itu kayak siapa?" tanya Satria lagi.
"Dewi Srikandi itu lanyap, gesit dan bisa memanah," balas Indi.
Satria menganggukkan kepalanya lagi. Tidak terasa seharian sudah mereka menghadiri Pasar Kangen itu. Nanti Eyang Buyut Hadinata dan keluarga Pakde Damar akan menginap di hotel yang ada di Solo. Sementara Ayah Pandu dan Bunda Ervita akan menginap di kediaman Eyang Agus. Sedangkan Satria dan Indi akan menginap di rumah Rama Bima.
Sebelum berpisah, Rama Bima dan Bu Galuh mengajak keluarga besar Hadinata untuk menikmati Royal Heritage Dinner terlebih dahulu. Walau namanya Dinner, tapi sajian makan itu digelar di sore hari. Sehingga tidak terlalu malam.
Mereka menempati meja bundar. Sajian kuliner perpaduan Solo dan Bali yang disajikan. Selain itu, ada pertunjukan tari Murwakala yang menemani pengunjung bersantap malam. Tari Murwakala sendiri mengisahkan sebuah prosesi pembebasan diri dari gangguan Batara Kala.
"Baru kali ini makan malam dan menikmati heritage dinner," kata Indi.
__ADS_1
"Suka?" tanya Satria.
"Suka. Ini lebih bermakna dan kaya budaya. Kenapa ide seperti ini tidak terpikirkan sebelumnya?" tanya Indi.
Ya, menikmati kuliner lezat bisa dipadukan dengan pertunjukan tari daerah. Hal yang tidak terpikirkan sebelumnya. Padahal seperti ini bisa menarik perhatian pengunjung dan wisatawan dari mancanegara. Selain itu, bukan sekadar berbudaya, tapi terasa romantis juga.
"Untukku ini juga romantis banget sih, Mas," kata Indi.
Keluarga besar Hadinata juga takjub dengan Royal Heritage Dinner ini. Terlebih ada Rama Bima yang trah Ningrat bisa menjelaskan semuanya. Sehingga informasi yang diserap memang sangat banyak.
"Kalau ada event budaya seperti ini pengen diundang lagi, Pak Bima," kata Eyang Buyut Hadinata Kakung.
"Pasti, Eyang. Nanti saya kabari Satria. Bagaimana suka dengan event seperti ini?" tanya Rama Bima.
"Senang. Belajar budaya dan lebih kenal lagi dengan seni budaya Surakarta. Walau Surakarta dan Jogjakarta itu dekat, tapi ada perbedaan. Seninya juga beragam. Sudah sepuh seperti Eyang ini senang," balas Eyang Buyut lagi.
Rama Bima juga senang karena keluarga Hadinata yang diundang juga merespons dengan baik. Di lain waktu ketika banyak event budaya seperti ini pastilah Rama Bima akan mengundang keluarga besannya. Sehingga, bukan sekadar temu kangen dan menjalin silaturahmi, tapi sekaligus menikmati budaya yang adi luhung.
Sementara Satria juga senang ketika keluarga Negara dan keluarga Hadinata bisa semakin dekat. Ini yang dinamakan bahwa pernikahan juga menyatukan dua keluarga. Bukan hanya Indi dan Satria yang bersatu, tapi juga keluarga Negara dan keluarga Hadinata yang bersatu.
Rumaket, itu adalah kata dalam bahasa Jawa yang memiliki arti dekat dan erat. Keluarga yang sebelumnya tak mengenal, bisa menjadi dekat. Saling mengenal dan tumbuh rasa kekeluargaan.
"Habis ini pulang. Kamu pasti senang besok lihat sawah lagi," kata Satria.
"Lihat matahari terbit di sawah kayaknya romantis yah, Mas," kata Indi.
"Boleh, Sayang. Besok, ajak Nakula dan Sadewa mandi matahari dulu biar sehat," balas Satria.
Indi kemudian terkekeh kecil. Dia senang mengunjungi rumah mertuanya. Melihat sawah lagi. Pemandangan yang jarang bisa dia lihat ketika berada di Jogjakarta.
Usai itu, mereka berpisah. Ada yang menginap di hotel, ada yang pulang ke kediaman Eyang Agus, dan pastinya ada yang pulang bersama Rama Bima dan Bu Galuh. Ketika sudah berpisah masing-masing, dari jauh terdengar suara yang memanggil Rama Bima di sana.
__ADS_1
"Bim, Bima ...."
Suara siapakah itu?