Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Sosok Karina Atmaja


__ADS_3

Akhir pekan pun tiba. Sekarang, Indi menuju ke bangunan baru yang harus dia desain dan juga kerja samanya dengan PT. Sido Mulya. Dari rumah, gadis ayu sudah menata hatinya. Sebenarnya, tidak masalah untuk Indi bekerja tanpa Satria justru membuatnya lebih fokus. Namun, kalaupun nanti akan bertemu dengan Satria yang pasti itu bukan salahnya.


"Kalau nanti aku sampai bertemu denganmu, apa yang harus aku lakukan Mas Satria? Rama sudah berkata bahwa aku harus menolakmu. Kenapa rasanya mencintaimu membuatku serasa menggenggam sekam?"


Masih berada di dalam mobil, Indi menghela napas beberapa kali untuk menenangkan dirinya. Setelah tenang, barulah Indi turun dari mobilnya. Gadis itu tampil anggun mengenakan celana panjang hitam, dalaman hitam, dan dikombinasikan dengan balazer batik. Sementara rambutnya dia kuncir dengan rapi. Walau gugup, Indi tetap percaya diri untuk memasuki bangunan baru itu.


"Selamat siang," sapa Indi kepada pihak sekuriti yang ada di sana.


"Ya, selamat siang ... bisa dibantu?"


"Saya desainer interior untuk tempat ini. Apakah sebelumnya sudah ada perwakilan dari PT. Sido Mulya yang ke sini?" tanya Indi.


"Oh, iya ... Bapak Bima sudah hadir," balas sekuriti itu.


Akhirnya, sekuriti itu jugalah yang mengantarkan Indi untuk masuk ke dalam. Dia dipertemukan dengan Rama Bima Negara lagi. Namun, kali ini suasananya tidak canggung. Melainkan, ada beberapa karyawan yang berada di sana.


"Selamat siang," sapa Indi.


"Oh, yah ... ini desainer kita sudah datang. Silakan perkenalan dulu," balas Rama Bima.


Akhirnya Indi diperkenalkan dengan beberapa staf di sana. Ada Tedja yang akan mengurusi administratif, ada Jaya, dan juga ada beberapa staf yang lain juga. Hingga akhirnya, dari arah pintu masuk ada seorang gadis cantik, dengan tinggi sekitar 170 cm. Gadis yang kala itu mengenakan midi dress itu turut bergabung dengan Indi dan staf yang lain, termasuk Rama Bima.

__ADS_1


"Siang Rama ... maaf, aku terlambat," sapanya.


"Siang ... dimaklumi," balas Rama Bima dengan tersenyum cerah.


"Nah, kenalkan ... dia adalah Karina Atmaja, dia yang akan bertanggung jawab untuk gedung ini. Oh, iya ... Karina, kenalkan juga dia adalah Indira, desainer untuk interior di sini," kata Rama Bima.


Karina dan Indi pun sama-sama saling berjabat tangan. Keduanya menyebutkan nama masing-masing. Sekadar perkanalan formalitas saja.


"Nah, Indi perlu tahu juga bahwa dia adalah calon tunangannya Satria. Ya, Karina yang adalah masih putri bangsawan dan lulusan dari Universitas Leiden di Belanda."


Deg!


Indi benar-benar tidak mengerti. Kenapa sekarang ada gadis lain yang diperkenalkan kepada dirinya sebagai calon tunangannya Satria. Sedih? Tentu saja. Kesal? Pasti iya. Namun, biarkan hati Indi rasa yang merasakannya. Sementara, di wajahnya Indi masih bisa tersenyum dan menganggukkan kepalanya samar.


"Sama-sama. Semoga nanti bisa bekerja sama untuk gedung ini," balas Karina dengan logat campuran bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.


Usai itu, Rama Bima menunduk dan tersenyum. Dia merasa menang sekarang. Gadis baik-baik yang jelas bibit, bebet, dan bobot lah yang cocok untuk Satria. Cantik, pintar lulusan Leiden, Belanda, dan tentunya masih trah bangsawan seakan pria paruh baya itu ingin memkomparasikan Karina dengan Indi. Bahwa keduanya sangat berbeda. Ibarat kata bumi dan langit.


"Jadi, boleh aku pinjam rancangan desainnya?" tanya Karina.


"Ya, tentu saja," balas Indi.

__ADS_1


Indi mengeluarkan file dari tasnya. Lalu, menyerahkan file dalam bentuk print out itu kepada Karina. Untuk sesaat Karina mengecek beberapa file itu, kemudian menyerahkannya kembali kepada Indi.


"Oh, bagus sih. Terkadang hasil rancangan desainnya baik, belum tentu hasilnya bagus. Jadi, aku nantikan hasilnya saja yah," kata Karina.


"Tidak perlu khawatir Bu Karina, 90% akan menyerupai kok," balas Indi.


"Nah, nanti kamu bisa komunikasi saja dengan Karina ya, Indi. Laporan berapa persen progressnya bisa ke Karina saja," balas Rama Bima.


"Baik, Pak."


Walau hati mendidih, tapi bekerja harus jalan terus. Toh, dia sudah pada keputusannya untuk menunggu Satria. Sejauh dan sebatas apa Indi bisa menunggu biarlah nanti akan terjawab. Jika masih bisa bertahan, dia akan bertahan.


Hingga dari luar masuklah seseorang, terdengar derap langkah kaki di sana. Sosok itu tidak lain dan tidak bukan adalah Satria. Satria berdiri tepat melihat Indi dan Karina yang saling berhadap-hadapan. Di saat bersamaan, Rama Bima tersenyum tipis, dengan memasukkan satu telapak tangannya ke saku celananya.


"Nah, ini Satria ...."


Mendengar nama Satria disebut, Karina pun menoleh. Gadis itu menatap Satria dan berjalan mendekat ke arah Satria.


"Hei, Sat ... lama tidak bertemu," sapa Karina.


"Hmm, iya," balas Satria dengan wajah yang dingin. Walau menjawab, tapi retina mata Satria sepenuhnya hanya menatap kepada Indi yang beberapa meter saja di hadapannya.

__ADS_1


Tanpa aba-aba, Karina memeluk Satria. Praktis, Indi menundukkan wajahnya. Gadis itu membuang wajahnya. Dadanya terasa sesak. Drama apa lagi yang harus dia lihat.


Benar Mas Satria ... mencintaimu membuatku seperti menggenggam sekam. Sekam yang penuh bara api, terasa panas. Hingga akhirnya sekam itu akan melukai, bahkan membakarku sendiri. 😢


__ADS_2