Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Papa Satria Berbelanja


__ADS_3

Selang beberapa hari kemudian, kebetulan diapers dan juga tissue basah untuk Si Kembar sudah habis. Sekarang, Indi meminta tolong kepada suaminya untuk ke mini market yang jaraknya tidak jauh dari rumah untuk membelikan diapers dan tissue basah saja.


"Mas Satria, boleh minta tolong?" tanya Indi kepada suaminya itu.


"Selalu boleh, Sayangku," balas Satria.


"Minta tolong beliin diapers dan tissue basah untuk Nakula dan Sadewa dong, Mas," kata Indi.


Nakul kemudian tersenyum, "Kamu gak enakan minta tolong aku?"


"Iya, minta tolong suami dosa enggak sih, Mas?" tanya Indi.


Sebenarnya tadi Satria diam-diam memperhatikan bahwa Indi terlihat ragu-ragu saat meminta tolong kepadanya. Padahal Satria tidak mempermasalahkan sama sekali. Setiap pasangan adalah support sistem untuk satu sama lain.


"Gak dosa lah. Aku juga sering minta tolong kamu kok. Ya sudah, aku ke mini market dulu. Kalau mau pesan sesuatu kirim pesan saja yah, Sayang."


Satria akhirnya memilih berjalan kaki ke mini market yang tidak jauh dari rumahnya. Kemudian, begitu sudah di mini market, Satria mencari diapers untuk bayi-bayinya.


"Diapersnya Nakula dan Sadewa yang mana yah? Mereknya sih ini, yang perekat atau celana yah?"


Papa muda itu bergumam dan memegang-megang diapers tipe perekat atau celana. Biasa pria kalau diminta tolong pastilah tidak menyakinkan. Sama seperti Satria yang sekarang menjadi bingung.


Menimbang-nimbang sendiri dan merasa tidak yakin, akhirnya Satria memilih menelpon istrinya saja. Daripada nanti terlanjur beli malahan salah. Satria pun segera mengambil handphonenya dan menelpon istrinya.


"Halo, Yang ... diapersnya Babies yang tipe perekat atau celana yah?" tanya Satria.


Di sana Indi justru tertawa dengan menaruh handphone di telinga. "Tipe celana, Papa. Setelah lepas tali pusar, Nakula dan Sadewa memakai diapers tipe celana kok. Lebih pas di pinggang," balas Indi.


Satria kemudian menganggukkan kepalanya. "Oh, oke, Yang. Satu lagi, tissue basahnya yang mana yah?"


Lagi-lagi di seberang sana Indi tertawa. Geli malahan. Suaminya itu hanya berangkat dan tidak melihat terlebih dahulu mana diapers dan tissue basahnya. Oleh karena itu, Indi malahan mengalihkan ke panggilan video supaya dia bisa menunjukkan tissue basah milik Nakula dan Sadewa.

__ADS_1


"Papa," sapa Indi.


Melalui layar handphonenya terlihat Indi mengangkat tissue basah dengan bungkusnya berwarna pink. Indi malahan ketawa-tawa di sana.


"Ya, Mama," balas Satria.


"Yang ini ya, Pa. Kalau enggak ada yang lain gak apa-apa. Ada kan?"


Satria terlihat mencari-cari di mana ada tissue basah seperti yang dipegang istrinya, bahkan Satria sampai menunduk-nunduk. Akhirnya tissue basah itu ada di pojokan.


"Ini kan yah?"


"Iya, benar. Makasih Papa," balas Indi.


"Oke-oke, ya sudah, aku bayar dulu yah."


Satria mematikan teleponnya dan kemudian menuju ke kasir untuk membayar belanjaannya. "Hanya diapers dan tissue basah saja ya, Mas? Ada promo sekalian ini hanya sepuluh ribu rupiah," tawar petugas kasir di mini market itu.


Akhirnya belanjaan Satria dimasukkan ke dalam kantong plastik dan Satria segera membayarnya. Di depan mini market ada beberapa penjual, Satria malahan mampir membeli jajanan di sana. Ada Cilor dan Susu segar untuk istrinya.


Pria itu tersenyum sendiri sembari berjalan kaki menuju ke rumah. Rasanya bisa melakukan sesuatu untuk istri dan anak tercinta itu sangat membahagiakan hati. Walau itu hanya sekadar membeli diapers dan tissue basah saja.


"Papa pulang," sapa Satria dengan memasuki rumahnya.


Indi turun dengan menggendong Nakula dan Sadewa. "Lah, belanjaannya kok jadi banyak, Pa?" tanya Indi.


"Tergoda beli jajanan, Sayang."


Satria menaruh belanjaannya dan kemudian mencuci tangannya terlebih dahulu. "Sini, Nakula dan Sadewa ikut Papa dulu yah. Diminum dulu, Ma. Es Susu segar rasa cokelat kesukaannya Mama dan Cilor," kata Satria.


"Jajanan kita waktu kuliah yah, Mas. Di depan kampus," balas Indi.

__ADS_1


"Inget aja sih, Sayang," balas Satria.


"Semuanya ingat sih, Mas," balas Indi.


Indi kemudian menyerahkan Nakula dan Sadewa kepada suaminya. Dia duduk dan menikmati oleh-oleh yang dibelikan suaminya. Enak rasanya. Untuk Busui dan hanya menikmati makanan kesukaan itu sudah membuat bahagia. Break sejenak.


"Enak Cilornya, sausnya pedes gitu," balas Indi.


"Dimakan. Kan kesukaannya Mama tuh. Es Susunya diminum. Lucu yah, Yang. Kamu penghasil susu minum susu," balas Satria dengan absurdnya.


"Ish, Papa Satria. Didengarin Nakula dan Sadewa loh."


Keduanya tertawa sendiri. Indi kemudian menyelesaikan makannya dan mencuci tangan terlebih dahulu. Bergantian dengan suaminya, supaya suaminya bisa menikmati makanan dan minuman itu.


"Sini, Nakula dan Sadewa ikut Mama. Gantian biar Papa bisa makan," balas Indi.


Sekarang si Kembar di gendongan Mama Indi. Giliran Papa Satria yang memakan Cilor dan meminum susu cokelat segar. Lantaran orang tua baru dan tidak ada orang lain di rumah sehingga keduanya bergantian saja.


"Enak, Mas? Enak mana sama kita waktu kuliah dulu?" tanya Indi.


"Hm, enak ini sih. Sambalnya lebih pedas, Yang."


"Iya, ini memang pedas. Enak sih, jadi pengen jajan yang di depan kampus dulu yah," balas Indi lagi.


"Kapan-kapan kita ke sana deh. Di Solo juga ada, Yang. Di depan Sebelas Maret banyak yang jualan," balas Satria.


Indi kemudian tertawa. "Nunggu kalau ke Solo yah, Mas. Aku pengen beli Selat Solo kalau nanti ke Solo."


"Boleh, Sayang. Kalau Nakula dan Sadewa sudah tiga bulan yah, kita main-main ke Solo lagi. Biar Nakula dan Sadewa tahu kota kelahiran Papanya," balas Satria lagi.


Indi kembali menganggukkan kepalanya. Sekarang kalau keduanya diajak ke Solo masih terlalu kecil. Nanti saja kalau Nakula dan Sadewa sudah tiga bulan, bisa diajak menempuh perjalanan dua jam dari Jogjakarta menuju ke Solo.

__ADS_1


__ADS_2