Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Kembali Bekerja


__ADS_3

Setelah mengambil cuti kurang lebih dua pekan, Satria akan bersiap untuk kembali bekerja. Walau begitu, semalam sebelumnya Satria justru tampak mellow. Papa muda itu berkali-kali menatap wajah kedua putranya dan juga mencium keningnya.


"Kenapa sih, Pa? Mau Papa lihatin berapa lama pun, Nakula dan Sadewa juga tetap gundul, Pa. Gak akan tumbuh rambutnya," kata Indi dengan bercanda.


Mendengarkan ucapan istrinya Satria kemudian tersenyum tipis. "Kan Papa besok kembali bekerja, Mama Indira Sayang. Biasanya 24 jam sama Nakula dan Sadewa. Harus kembali bekerja, bakalan kangen sama Gundul-Gundul Pacul," balas Satria.


Terdapat sebuah lagu dolanan dalam bahasa Jawa yang berjudul Gundul-gundul pacul yang sering diilustrasikan sebagai bocah pria yang kepalanya gundul, tidak memiliki rambut tengah membawa bakul di atas kepalanya. Berdasarkan lagu dolanan itulah, Satria memanggil kedua putranya yang sekarang memang berkepala plontos.


"Walau gundul, tetap cakep kok, Pa," balas Indi.


Satria tersenyum. "Iya, cakep seperti Papa Satria. Ya kan Nak?"


Indi malahan tertawa. Sementara Nakula dan Sadewa melakukan babbling (suara khas bayi) dengan badannya bergerak-gerak, kakinya seolah hendak menendang dan tangannya juga bergerak-gerak. Satria pun akhirnya tertawa.


"Nah, Nakula dan Sadewa udah semangat banget ini. Iya yah, Nak ... cakep kayak Papa yah," kata Satria dengan penuh percaya diri.


"Iya-iya. Kan cowok, jadi yah kayak Papa," balas Indi.


"Besok bisa enggak ngurus Nakula dan Sadewa sendiri? Soalnya aku bekerja dari pagi hingga sore hari," kata Satria lagi.


Indi kemudian menganggukkan kepalanya. "Bisa kok, Mas. Aman. Aku sudah terlatih. Yah, walau pengalaman dua minggu terhitungnya belum banyak sih," balas Indi.


"Apa memakai babysitter di weekdays aja, Yang. Soalnya baby nya dua, takut kamu kecapekan. Kalau nanti aku libur kan pasti aku temenin dan bantuin," saran dari Satria.

__ADS_1


Akan tetapi, Indi justru menggelengkan kepalanya. "Enggak, aku bisa kok. Mau ngasuh anak sendiri. Mas Satria bekerja saja. Nakula dan Sadewa akan terurus kok. Pernah dengar enggak Mas, seorang Ibu selalu punya kekuatan penuh untuk anak-anaknya. Aku yakin, aku bisa kok."


Satria akhirnya mengangguk. Dia percaya kepada istrinya. Walau nanti malam hari pastilah Indi akan kelelahan.


...🍀🍀🍀...


Keesokan Harinya ....


Satria terbangun lebih pagi. Usai melaksanakan sholat subuh seorang diri, Satria segera memasukkan pakaian kotor Nakula dan Sadewa ke dalam mesin cuci. Niatnya Satria, dia ingin meringankan beban pekerjaan rumah istrinya ketika nanti dia bekerja.


Menunggu mesin cuci yang memproses semua pakaian kotor bayinya. Satria kemudian mencuci dodot dan peralatan pumping milik istrinya. Setelah itu, Satria memilah ASIP di lemari es. ASIP yang dipumping baru saja disimpan agak belakang, lalu yang disimpan sebelumnya dimajukan ke depan. Dengan demikian semua ASIP akan diminum sesuai tanggal pumpingnya terlebih dahulu.


Sementara Indi pamit berbelanja sayur yang tak jauh dari rumahnya. Setelah itu, Indi juga segera membuat sarapan. Walau pagi pasti lebih hectic, tapi Indi tak ingin perut suaminya kosong saat berangkat kerja.


Indi mulai memasak dan Satria sekarang menjemur baju-baju bayi putranya. Lantaran, bayinya dua sehingga yang dijemur cukup banyak. Walau begitu, Satria tidak mengeluh. Bahagia malahan bisa berbagi tugas dengan istrinya.


"Pagi, Putranya Papa ... Mama sedang di dapur. Gendong Papa dulu yah," kata Satria.


Menyelesaikan membuat sayur dan memasak nasi, Indi akhirnya ke kamar. Waktunya memberikan ASI terlebih dahulu untuk kedua putranya. Sementara, Satria memilih mandi, nanti Satria juga akan mempersiapkan air hangat untuk mandi kedua putranya.


"Giliran Nakula dan Sadewa mandi yah. Yuk, Yang. Biar nanti kalau aku kerja, Nakula dan Sadewa udah cakep maksimal," kata Satria.


Akhirnya pasangan orang tua muda itu bersama-sama memandikan Nakula dan Sadewa. Semua kerjaan rumah dan juga pengasuhan anak dikerjakan bersama-sama. Tidak saling mengeluh. Terlebih memiliki dua bayi, harus lebih menambah kerja sama di antara keduanya.

__ADS_1


"Sudah cakep dan wangi nih, sekarang Papa sarapan dulu," kata Indi.


Keempatnya kemudian menuju ke meja makan. Rupanya Nakula dan Sadewa masih ingin meminum ASI. Akhirnya Indi, harus memberikan ASI kedua putranya. Satria akhirnya sembari sarapan, dia sembari menyuapi istrinya.


"Kamu juga sarapan, Yang. Aku aja yang suapin pelan-pelan," kata Satria.


"Mas Satria makan dulu aja," balas Indi.


"Udah begini aja. Kita sama-sama kenyang nanti."


Sebenarnya Indi tidak enak dengan suaminya. Namun, suka-duka orang tua baru memang seperti ini. Kelak momen seperti ini akan menjadi kenangan yang indah untuk selalu diingat.


"Aku tinggal bekerja tidak apa-apa, Sayang?" tanya Satria.


"Iya, Mas. Tidak apa-apa. Papa malahan harus bekerja kan sekarang Mama udah enggak penghasilan," balas Indi.


"Tidak apa-apa. Mama resign kan karena sayang ke Nakula dan Sadewa. Tidak masalah sama sekali. Papa yang harus bekerja keras untuk kalian," balas Satria.


Akhirnya Indi mengantarkan suaminya hingga ke depan pintu. Masih menggendong Nakula dan Sadewa. "Semangat bekerjanya yah, Papa Satria. Nakula dan Sadewa tungguin yah, nanti sore digendong lagi yah," kata Indi.


"Makasih, Sayangku. Nanti sore aku pulang. Semoga hari inu terlewati dengan baik yah. Nakula dan Sadewa, Papa bekerja dulu yah. Jangan rewel yah. Bantuin Mama, nanti kalau kalian udah besar, kalian yang jagain Mama Indira."


Mendengarkan ucapan suaminya Indi tersenyum. Walau sebelumnya hendak menitikkan air mata. Sebab, suaminya itu sangat baik. Bahkan sejak membuka mata, Satria sudah begitu sibuk membantunya, meringankan pekerjaan rumah tangga.

__ADS_1


"Iya, Papa. Hati-hati di jalan yah, Papa. Sore nanti ketemu lagi."


Akhirnya Satria melambaikan tangannya kepada istrinya dan dua putranya itu. Walau seorang pria, berat juga kembali bekerja setelah dua pekan lebih berada di rumah dan selalu bersama dengan istri dan dua putranya. Sekarang harus memulai kebiasaan di mana Satria harus kembali bekerja di hari Senin hingga Jumat.


__ADS_2