
Dua bulan kemudian ....
Tidak terasa waktu sudah berlalu, dua bulan sudah terlewati. Jika sebelumnya pabrik jamu milik Rama Bima diundang mengikuti acara di Seoul, tapi nyatanya sekarang ada perubahan jadwal. Tempat acara yang semula akan digelar di Seoul, dialihkan ke Amsterdam, Belanda.
Satria yang mendapatkan kabar dari Ramanya juga kaget kala tahu bahwa acara dipindahkan ke Amsterdam. Tentu itu adalah tujuan yang lebih jauh. Perjalanan lintas benua.
"Sayang, semula pabrik jamunya Rama mendapatkan undangan ke KBRI Seoul kan? Ternyata diubah, Sayang. Tempatnya dialihkan bukan ke Seoul, tapi ke Amsterdam," cerita Satria.
Indi yang mendengarkan cerita dari suaminya juga merasa kaget. "Kok jauh banget jadinya ke Belanda, Mas?" tanyanya.
"Iya, katanya rempah-rempah itu dulu kan rempah-rempah kita diambil Belanda melalui VOC. Jadi ada pekan budaya juga di Amsterdam dan Leiden, Belanda," cerita Satria.
Seakan mengingatkan dengan pelajaran sejarah di masa lalu bahwa tujuan awal penjajahan bangsa Belanda adalah menguasai rempah-rempah di Nusantara. Sekaligus adan pekan budaya juga di Belanda. Catatan sejarah atau kedekatan dengan rempah-rempah tentu lebih dekat dengan Belanda.
"Lalu, kapan akan digelar acaranya, Mas?" tanya Indi.
"Mundur, Sayang. Satu setengahan bulan lagi. Rama sudah mulai menyiapkan visa dan mencari tiket untuk kita," kata Satria.
"Kita enggak bayar tiketnya, Mas? Enggak enak kalau semuanya yang bayarin Rama. Habis banyak loh, Mas."
__ADS_1
Indi menyampaikan demikian karena tidak enak hati dengan Rama Bima. Pesawat dan akomodasi tentu sudah menghabiskan uang banyak. Kalau mereka membayar tiket pesawat sendiri juga tidak masalah sebenarnya.
"Aku sudah berkata kepada Rama kok, katanya gak usah. Memang Rama berniat mengajak liburan anak dan cucu," balas Satria.
Indi terdiam. Sebenarnya memang mertuanya itu kaya raya, memiliki pabrik jamu bahkan jamu keluarga Negara sudah dipasarkan hingga ke mancanegara. Hanya saja untuk wisata dan dibiayai itu rasanya tidak enak. Walau tetap semuanya uang mertua.
"Kita ikutin saja maunya Rama gimana. Katanya Rama sekaligus mengajak kita jalan-jalan ke Belanda. Dulu, waktu muda kan Rama pernah diundang ke Belanda juga, Yang. Festival Jamu juga," cerita Satria.
Indi benar-benar tidak menyangka bahwa seseorang bisa keluar negeri melalui festival seperti ini. Ya, walaupun memang ada beberapa hari untuk menyampaikan presentasi dan mengikuti jalannya festival di Kedutaan Besar Republik Indonesia.
"Keren yah, Mas," balas Indi.
Yang diceritakan oleh Satria memang benar adanya. Bahwa ada pendidikan Sastra dan Bahasa Jawa di Leiden, Belanda. Selain itu, benda-benda bersejarah Nusantara banyak yang dibawa ke Belanda. Salah satunya seperti Keris Pangeran Diponegoro yang baru saja dipulangkan ke Indonesia beberapa waktu lalu.
"Kalau kuliah Sastra dan Bahasa Jawa nanti jadi apa, Mas? Ehm, maksudku ... bekerja itu profesinya apa?" tanya Indi.
"Ya, jadi guru atau dosen bahasa Jawa. Bisa kerja sebagai kurator di Museum, atau pemandu wisata gitu. Translator teks-teks dalam Bahasa Jawa juga dibutuhkan, walau peluangnya kecil," balas Satria.
"Kalau waktu itu kamu kuliah di Leiden, enggak ketemu aku dong ... ketemunya Karin," balas Indi.
__ADS_1
Mendengar apa yang Indi ceritakan Satria kemudian tersenyum. Dia kemudian merangkul istrinya itu. "Kok malahan ingatnya yang enggak-enggak. Udah jangan cemburu gitu," balas Satria.
"Enggak cemburu kok, cuma teringat aja. Kan dia kuliah di Leiden, Belanda. Faktor kedekatan kan bisa berpengaruh ke masa depan," balas Indi.
Satria kemudian menggelengkan kepalanya. "Enggak gitu juga. Toh, aku kan memang enggak ke Belanda. Alih-alih ke Belanda, aku ke Jogjakarta loh. Biar ketemu Roro Ayu di Jogja yang istimewa ini," balas Satria.
Usai itu barulah Indi bisa tersenyum. Gombalan suaminya kadang-kadang membuatnya tersenyum sendiri.
"Sudah digariskan Allah yah, Mas?"
"Benar. Semuanya kan kalah dengan apa yang Allah sudah takdirkan. Manusia hanya sekadar menjalani apa yang Allah sudah gariskan sebelumnya. Tujuannya Allah mulia, biar aku bertemu kamu, dan akhirnya memiliki Nakula dan Sadewa. Sudah, jangan ngambek. Kan cuma menceritakan Belanda aja. Yang pasti Satria kan hanya buat Indira," katanya.
Indi kemudian menganggukkan kepalanya. Dibandingkan memikirkan sesuatu hal yang bisa merusak mood, lebih baik memang memikirkan hari ini saja, dekat dengan kenyataan. Tidak memikirkan apa yang tidak pernah terjadi.
"Iya, Mas Satria ...."
Kini Satria menggenggam tangan istrinya itu. "Bulan madu kita nantinya ke Amsterdam, bukan ke Seoul. Aku tahu padahal kamu suka dengan Korea-Korea gitu. Next time, kita nabung kalau kamu pengen kita bisa ke Seoul sendiri. Dua bulan lagi, kita ke Amsterdam dulu yah?"
"Iya, Mas. Ke Amsterdam juga tidak apa-apa kok. Kapan lagi aku memiliki kesempatan ke luar negeri kalau enggak sama Rama. Iya, nabung yang banyak dulu ya, Mas. Kalau sudah mungkin kita bisa jalan-jalan ke Seoul sendiri," balas Indi.
__ADS_1
Memang tempat yang mereka kunjungi berganti, tidak ke Seoul, melainkan ke Amsterdam. Akan tetapi, melihat secara positif bahwa di Amsterdam pun banyak pelajaran yang bisa mereka dapatkan, juga menikmati keindahan di Negeri Ratu Juliana itu.