Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Opsi Terakhir


__ADS_3

Tidak terasa hari sudah berganti dengan hari. Irene juga berusaha mencari pekerjaan ke sana ke sini. Gadis itu selalu bersemangat untuk mencari kerja, bukan hanya karena ingin membalas kebaikan orang tua, tapi juga merasa ilmu yang sudah dia dapatkan dari bangku kuliah harus dikembangkan. Jika nanti terlalu lama menganggur yang ada justru Irene bisa menjadi lebih malas.


Sampai akhirnya, sekarang Ayah Pandu dan Bunda Ervita menanyai putri bungsunya itu.


"Sudah sebulan sejak kamu diwisuda. Bagaimana belum ada informasi atau kabar dari tempat yang kamu masuki lamaran kerja?" tanya Ayah Pandu.


"Belum, Ayah. Ada dua sekolah yang melakukan tes dan wawancara, tapi setelahnya juga tidak ada kabar," balas Irene.


Ayah Pandu dan Bunda Ervita menganggukkan kepalanya. Sebagai orang tua, mereka sangat tahu bagaimana perjuangan Irene mencari pekerjaan. Gadis itu memang terbilang rajin, tapi apa daya mencari pekerjaan memang tidak semudah itu.


"Apa cita-citamu masih sama, Rene? Masih ingin menjadi guru?" tanya Ayah Pandu.


Dengan cepat Irene menganggukkan kepalanya. "Iya, Ayah. Irene masih ingin mengajar anak-anak. Walaupun sampai sekarang Irene belum mendapatkan pekerjaan. Tidak apa-apa, Yah. Irene masih berusaha lagi untuk mendapatkan pekerjaan."


"Bukan maksud Ayah untuk menghalang kamu mendapatkan pekerjaan, tapi kalau kamu mau, kamu bisa bekerja di kantornya Ayah. Menjadi staf administrasi atau sekretaris juga tidak buruk, Rene. Bisa juga kamu fokus dengan usaha batik milik Bunda," kata Ayah Pandu.


Irene tersenyum. Memang kedua orang tuanya bermaksud baik. Akan tetapi, Irene sama sekali tidak berminat dengan jenis pekerjaan yang ditawarkan oleh Ayahnya itu. Irene masih memiliki mimpi untuk bisa mengajar anak-anak.


"Maaf, Ayah. Bukannya Irene tidak mau, tapi Irene memiliki cita-cita sendiri. Irene memiliki mimpi sendiri Oleh karena itu, izinkan Irene mengejar mimpinya Irene," balasnya.


Sekarang Ayah Pandu dan Bunda Ervita saling pandang. Keduanya tahu bagaimana caranya kalau ada keinginan yang dibelokkan. Rasanya tentu tidak enak. Namun, mencari kerja juga sangat sukar.


"Ayah dan Bunda hanya sekadar menawarkan saja, Dek. Bukan bermaksud untuk memaksa kamu. Bagaimana pun Ayah dan Bunda berhasil membuka lapangan kerja untuk orang lain. Oleh karena itu, kamu bisa bekerja dan meneruskan semua usaha keluarga ini, tentunya dengan Mbak Indi nanti," balas Ayah Pandu.


"Irene berterima kasih, Yah. Namun, setidaknya Irene masih ingin mencoba untuk bekerja sesuai lulusan Irene. Masih ingin mencoba mengejar passionnya Irene untuk mengajar."


"Lalu, apa kamu memiliki opsi terakhir?" tanya Ayah Pandu lagi.

__ADS_1


Setelah itu, Irene berusaha untuk berbicara kepada Ayah dan Bundanya. "Sebenarnya ada satu pekerjaan yang pasti menerima Irene, Yah. Hanya saja berada jauh di Jakarta. Tempat Irene KKN dulu, di sebuah Sekolah Internasional di Jakarta. Hanya saja, pasti Bunda tidak setuju."


"Bukannya tidak setuju, Dek ... Bunda hanya memikirkan rencana yang lain saja," balas Bunda Ervita.


"Kamu ingin mencobanya?" tanya Ayah Pandu.


"Iya, Yah. Irene pengen mencobanya. Setidaknya dalam hidup, Irene pernah mengejar mimpi dan cita-cita Irene sejak kecil. Itu saja, Ayah. Memiliki pengalaman, itu yang Irene cari."


"Baiklah, kamu boleh mendaftar dan mengikuti prosesi tesnya. Kalau sudah fixed diterima, barulah kamu boleh ke Jakarta," kata Ayah Pandu.


"Serius, Yah? Bunda bagaimana?"


Bunda Ervita kemudian menganggukkan kepalanya. "Yang penting jaga diri baik-baik. Jangan lupakan sholat, selalu menjadi Irene yang selalu menjaga nama baik Ayah dan Bunda," balas Bunda Ervita.


Irene senang sekali mendengarkannya. Dia kira sebelumnya Bundanya akan menggenggamnya erat. Tidak akan memberikannya kesempatan. Ternyata sekarang, Bunda Ervita sudah berubah pikiran. Itu adalah hal yang baik.


Hampir Setengah Bulan Kemudian ....


Irene dengan sungguh-sungguh mendaftar ke sekolah internasional untuk anak-anak usia dini di Jakarta. Selain itu, dengan memanfaatkan Internet, semua proses pendaftaran, hingga test dan wawancara dilakukan Irene secara jarak jauh, cukup menggunakan internet saja. Ini adalah kemudahan di masa kini.


Akhirnya pengumuman rekrutmen pun dilakukan hari ini. Irene membuka email yang sudah dikirimkan pihak sekolah kemudian membacanya dengan teliti. Alhamdulillah, akhirnya Irene mendapatkan pekerjaan dan diminta untuk segera ke Jakarta.


Sekarang waktunya Irene memberitakan kabar bahagia ini kepada Ayah dan Bundanya. Gadis itu menuruni anak tangga dan kemudian mencetak email yang sebelumnya sudah dia dapatkan.


"Yayah dan Nda, bisa Irene berbicara sebentar?" tanyanya.


Tentu saja Ayah Pandu dan Bunda Ervita menganggukkan kepalanya. Mereka selalu memiliki waktu untuk mendengarkan anak-anaknya. Mau bercerita apa pun, keduanya juga siap memberikan waktu, telinga, bahkan hatinya.

__ADS_1


"Tentu saja boleh ... ada apa, Dek?" tanya Bunda Ervita.


"Yayah dan Nda, akhirnya Irene mendapatkan pekerjaan. Sekolah tempat Irene melamar di Jakarta sudah memberikan pengumuman dan Irene diterima," katanya. Walau sebenarnya Irene sendiri merasa deg-degan.


"Alhamdulillah ...."


Ayah Pandu dan Bunda Ervita memuji kebesaran Allah untuk apa yang didapatkan putrinya. Kadang memang seperti itu adanya. Tidak bisa mendapatkan pekerjaan di kota sendiri, harus ke luar kota. Bahkan kali ini Irene harus pergi sampai ke Ibukota.


"Terima kasih doa, restu, dan dukungannya selama ini Yayah dan Nda. Nah, karena sudah diterima, pihak sekolah meminta Irene untuk ke Jakarta," kata Irene lagi.


Ayah Pandu menganggukkan kepalanya. "Tentu, Dek. Yayah dan Nda tahu konsekuensi selanjutnya. Kalau kamu tidak keberatan bolehkah Yayah dan Nda mengantarkan kamu ke Jakarta? Sekalian kami tahu di mana kamu bekerja, bagaimana tempat kostmu nanti. Biar kami orang tua tidak khawatir. Tentu kalau hal ini kamu pandang baik," balas Ayah Pandu.


Irene menganggukkan kepalanya. Diantar orang tua ke Jakarta bukan berarti dirinya anak-anak, melainkan bentuk perhatian dan kasih sayang kedua orang tuanya.


"Tentu saja boleh, Yah ... Irene malahan senang. Jadi, Ayah dan Bunda memiliki gambaran lingkungan tempat tinggal Irene nanti. Sekaligus di bulan pertama, mohon dukung Irene dulu yah, Yah. Kalau nanti Irene sudah mendapatkan gaji sendiri, Irene akan mandiri," katanya.


Maksud Irene setidaknya ada support orang tua untuk membiayainya di bulan pertama. Untuk tempat tinggal dan kebutuhan hidup sehari-hari.


"Kamu tenang saja, Rene. Yayah dan Nda pasti sudah memikirkan. Biaya sewa tempat tinggalmu biar Yayah saja yang membiayainya. Nanti kamu simpan gajimu itu."


"Eh, Yah ... kok begitu. Irene gak enak," balasnya.


"Dari orang tua. Tidak apa-apa. Kamu simpan gajimu nanti untuk masa depanmu. Pesan kami masih sama, jangan tinggalkan Allah ... jangan lupakan sholat. Selalu menjaga diri baik-baik yah, kamu putrinya Yayah," kata Ayah Pandu.


"Jangan sampai kehilangan mahkotamu yah, Dek. Bunda berpesan itu. Biarkan masa lalu dulu yang pahit, Bunda menanggungnya sendiri. Anak-anak Bunda tidak menerima karmanya," kata Bunda Ervita.


Irene menganggukkan kepalanya. Dia akan mengingat pesan Yayah dan Ndanya. Selain itu, Irene akan menjaga diri baik-baik. Sejauh apa dia pergi, Irene akan menjaga nama baik keluarga Hadinata untuk Yayah dan Nda yang sangat dia cintai.

__ADS_1


__ADS_2