
"Bu ... Karti?"
Satria menanyai dengan lirih. Satria merasa mengenal sosok wanita paruh baya dengan kulitnya yang sawo matang itu. Jika tidak salah, wanita itu bernama Bu Karti.
"Den Satria yah?" tanya Bu Karti.
Sungguh mengejutkan rupanya Bu Karti juga mengenali Satria. Itu membuat Yudha sangat bingung tentunya. Ada hubungan apa di antara keduanya? Bagaimana bisa keduanya saling mengenal satu sama lain.
Ketika Satria ingin kembali menyapa, Yudha nyatanya berbicara terlebih dahulu dan pergi meninggalkan wanita paruh baya itu.
"Ngapain nyamperin Yudha ke sini! Yudha pergi!"
"Yud, Yudha ... tunggu Ibu, Yud."
Bu Karti berusaha mengejar Yudha, tapi sia-sia saja karena Yudha terlebih dahulu sudah pergi. Sementara Satria dan Indi kemudian menolong Bu Karti yang raut wajahnya hendak menangis karena ditinggal pergi oleh Yudha.
"Bu Karti, mohon maaf sebelumnya, Ibu mengenal Yudha?" tanya Satria dengan mengajak Bu Karti menepi dan berteduh.
Indi tentu mengikuti suaminya. Stand jamu dia pasrahkan kepada para pegawai yang ikut siang itu. Bu Karti duduk dengan napas terengah-engah dan nyaris menangis.
"Den Satria mengenal Yudha?" tanya Bu Karti dengan menoleh guna menatap Satria sejenak.
"Ya, tentu saja Satria mengenal Yudha. Kami satu angkatan dulu saat kuliah," jawab Satria.
Tak perlu memberitahu hubungan antara Indi dan Yudha dulu. Yang pasti Satria mengenal Yudha, mahasiswa satu angkatan hanya berbeda fakultas saja. Bu Karti sebelumnya terdiam.
__ADS_1
"Oh, jadi Den Satria satu angkatan yah dengan Yudha?"
"Benar, berbeda fakultas, Bu. Panggil saya Satria saja, Bu. Tidak perlu memakai Den atau Aden lagi," balas Satria.
Bu Karti tersenyum samar. Sudah menjadi kebiasaan baginya untuk memanggil Satria dengan panggilan Den atau Aden. Sebab, Bu Karti juga tahu bahwa Satria berasal dari keturunan ningrat. Bahkan Eyang buyutnya Satria masih berkerabat dengan pihak keraton di Solo.
"Bagaimana pun Den Satria ini kan keturunan Ningrat. Berbeda jauh dengan Ibu, yang istilahnya dulu adalah batur," balasnya.
Di dalam istilah bahasa Jawa, Batur adalah sebutan untuk pembantu. Dalam bahasa Ngoko (bahasa Jawa dengan tingkatan kasar, orang berpangkat kepada orang yang tidak memiliki pangkat) para pembantu sering kali disebut Batur. Sedangkan Tuan Rumah disebut Ndoro. Anak-anak tuan rumah, disebut dengan nama Den atau Aden.
"Sudah lupakan tentang masa lalu, Bu Karti. Ibu ini siapanya Yudha?"
Bu Karti terdiam sesaat kemudian dia menceritakan panjang lebar mengenai kisahnya dan kaitannya dengan Yudha. Indi dan Satria pun mendengarkan semuanya dengan penuh perhatian.
Menjeda sejenak ucapannya, Bu Karti kemudian bercerita lagi."Ibu hamil waktu itu, anak Ibu tetap Ibu lahirkan walau dia tak memiliki Bapak. Bagaimana lagi, Den ... pria itu tak mau bertanggung jawab. Yang Ibu syukuri anak Ibu itu pria. Setidaknya saat menikah nanti, dia tak perlu wali. Kalau anak Ibu perempuan, mau tidak mau harus membutuhkan wali. Kalau Bapaknya tak bertanggung jawab, harus memakai wali hakim. Namun, semuanya takdir yah. Ketika anak Ibu berusia 3 tahun, barulah pria yang menghamili Ibu itu mencari kami. Dia menikahi Ibu, supaya bisa bertanggung jawab untuk anak itu. Hingga akhirnya, pernikahan hanya sekadar upacara saja, karena setelahnya Ibu diceraikan dan hak asuh anak itu jatuh ke Bapak kandungnya. Anak itu adalah Yudha. Kami sudah dipisahkan sepuluh tahun lebih. Ibu datang mencari Yudha beberapa kali karena Yudha tak mau bertemu dengan Ibu."
Untuk Indi sendiri apa yang dialami Bu Karti ini jauh lebih sedih dibandingkan apa yang dialami Bunda Ervita. Jikalau Bunda Ervita segera bertemu Ayah Pandu dan setelah itu mencecap kebahagiaan. Namun, kisah Bu Karti lebih tragis. Hamil sendiri, melahirkan sendiri, dan setelah itu dinikahi hanya beberapa saat, lalu diceraikan dan hak asuh anaknya diambil. Itu sungguh-sungguh kisah yang tragis. Seolah tak ada kebahagiaan yang hinggap untuk dirinya.
"Jadi, Yudha adalah anaknya Ibu?" tanya Satria.
"Benar, Den Satria. Cuma Yudha mungkin malu karena ibunya hanya seorang batur. Ya, dulu batur ini pernah munggah kasur. Pernah naik ranjang si anak majikan. Namun, tak berlangsung lama. Setelah Ibu diceraikan, Ibu kembali bekerja. Ibu kembali menjadi pembantu di rumah keluarga Negara. Mengasuh Den Satria dan setelahnya mengasuh Den Sitha."
Rupanya begitulah kisah kelam Bu Karti. Dia sebelumnya pernah bekerja sebagai pembantu di rumah keluarga Negara. Selang beberapa tahun berlalu, usai pahit dan getir masalah di hidupnya, Bu Karti kembali bekerja di rumah majikannya dulu yaitu keluarga Negara dengan mengasuh Satria dan Sitha. Oleh karena itu, Satria mengenal Bu Karti, tapi tidak mengenal Yudha sama sekali.
"Ibu sudah lama keluar. Waktu Satria lulus SD waktu itu. Satria masih mengingat Bu Karti, masih ada fotonya Ibu yang mengasuh Satria dan Sitha di rumah," ceritanya.
__ADS_1
"Waktu itu, Ibu pulang lagi ke Cilacap karena Bapak dan Biyung (Ibu) sudah menua, Ibu merawat kedua orang tua dan tandur-tandur di sawah. Sembari mencari Yudha, putranya Ibu satu-satunya."
Indi sejak tadi hanya mendengarkan walau dia terlihat lebih emosional karena kisahnya sangat sedih bagi Indi. Sementara Satria senang juga bertemu pengasuhnya waktu kecil dulu.
"Den Satria sudah dewasa sekarang. Pasti sudah menikah?"
Satria menganggukkan kepalanya. "Sudah, Ibu. Yang duduk di sebelah Ibu itu adalah garwanya Satria."
Garwa dalam bahasa Jawa sebutan adalah untuk pasangan hidup kita. Kata Garwa ketika diurai berarti Sigaring Nyawa, atau Separuh Nyawa. Sebab suami atau istri adalah separuh nyawa untuk setiap pasangannya.
"Garwanya ayu tenan, Den," kata Bu Karti dengan memegang tangan Indi yang halus.
"Tepangaken, Bu. Istrinya Mas Satria," balas Indi.
"Ayu tenan. Tangannya Ibu kasar yah, Mbak. Terbiasa mengarit padi di sawah dan menanam di ladang," kata Bu Karti.
"Tidak apa-apa, Ibu. Yang penting Ibu sehat selalu nggih, Bu."
Mendengar ucapan Indi yang lembut, kedua mata Bu Karti berkaca-kaca. "Matur nuwun, Mbak. Pancen Den Satria iki pinter milih garwa." (Terima kasih, memang Den Satria ini pandai memilih pasangan hidup)
"Ibu ke sini naik apa? Apa biar kami antarkan pulang?" tanya Satria.
Bu Karti menggelengkan kepalanya. "Gak usah, Den Satria. Ibu menginap di dekat sini, di rumah saudara Ibu. Memang niatnya ingin mencari dan menemui Yudha dulu."
Cukup lama mereka mengobrol dan setelahnya Bu Karti berpamitan. Hendak berusaha mencari Yudha lagi. Semoga saja Yudha bisa melembutkan hatinya dan menemui Bu Karti yang sejatinya adalah ibu kandungnya sendiri.
__ADS_1