Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Harus Menunda


__ADS_3

Satria dan Indi dalam perjalanan pulang juga sudah membahas bersama bahwa dia akan memberitahu Ayah Pandu dan Bunda Ervita terlebih dahulu. Bagaimana orang tua yang dekat adalah Ayah Pandu dan Bunda Ervita. Oleh karena itu, keduanya berniat untuk berbagi kabar dengan Ayah Pandu dan Bunda Ervita terlebih dahulu.


"Yayah dan Nda dikasih tahu enggak, Mas?" tanya Indi.


"Dikasih tahu tidak apa-apa, Sayang. Kan beliau orang tua kita yang dekat," jawab Satria.


Indi menganggukkan kepalanya. Setelah itu, Indi bertanya lagi kepada suaminya. "Kalau memberitahu Rama dan Ibu kapan, Mas?"


"Kemungkinan minggu depan Rama dan Ibu akan ke Jogjakarta. Pas itu aja kita bagikan kabar baik kepada Rama dan Ibu. Diberitahu secara langsung aja, Sayang. Tidak perlu menelpon."


Satria berpendapat demikian bahwa lebih baik memberitahu orang tua saat bertemu langsung. Bisa melihat ekspresi kegembiraan di wajah setiap orang tua. Namun, memang lebih baik sekarang memberitahu Ayah Pandu dan Bunda Ervita terlebih dahulu.


"Oke deh, Mas. Aku manut aja sama kamu kok," balas Indi.


"Kamu ini memang manut kok, Sayang. Taat jadi istri. Gimana aku enggak makin cinta sama kamu."


"Hh, Papa Satria seharian bicaranya manis melulu bikin kadar gula dalam darahku naik loh."


Keduanya tertawa bersama. Selalu saja ada perbincangan kala keduanya bersama. Di mobil pun selalu saja ada candaan atau hal-hal lainnya yang selalu mereka lakukan. Sehingga perjalanan beberapa kilometer menjadi tidak terasa, dan sekarang mereka sudah sampai di rumah Ayah Pandu dan Bunda Ervita.


Tadi, saat menitipkan Nakula dan Sadewa, ekspresi dan mood Ayah Pandu dan Bunda Ervita masih baik-baik saja. Namun, sekarang ada yang berbeda di raut wajah orang tuanya itu. Tanpa berbicara, Indi juga sudah tahu bahwa memang orang tuanya berbeda.


"Assalamualaikum Ayah dan Bunda," sapa Indi dan Satria bersamaan.


"Waalaikumsalam," balas Bunda Ervita.

__ADS_1


Baru saja Indi melangkahkan kakinya ke dalam rumah, Bunda Ervita sudah menangis dan memeluk putrinya itu. Indi merasa kaget. Kenapa Bundanya itu tiba-tiba menangis.


"Kenapa Nda?" tanya Indi.


Bunda Ervita masih saja menangis sementara Ayah Pandu juga diam. Ayah Pandu memang tipe ayah yang tenang. Memberikan waktu untuk istrinya terlebih dahulu. Nanti kalau Bunda Ervita sudah lebih tenang barulah mereka akan berbicara kepada Indi dan Satria. Selain itu Indi melihat tidak ada kedua putra kembarnya, jadi Indi berpikir mungkin saja kedua putranya sudah tidur sekarang.


"Sudah, Nda ... ada apa sebenarnya? Indi benar-benar bingung dan tidak tahu kenapa Nda bersedih seperti ini," kata Indi berusaha menenangkan hati Bundanya.


Lantaran Bunda Ervita masih terisak-isak dalam tangisannya. Sekarang, Indi yang bertanya kepada Yayahnya, menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Yah, sebenarnya ada apa, Yah?"


Ayah Pandu juga diam. Namun, kemudian Bunda Ervita bisa sedikit lebih tenang dan mulai berbicara kepada Indi.


"Tentang Irene, Mbak ... adikmu," kata Bunda Ervita dengan suaranya yang bergetar dan bercampur dalam isakan.


"Apa Irene sakit? Kalau sakit, Ayah dan Bunda bisa ke Jakarta menjenguk Irene," kata Indi.


Analisa Indi, mungkin saja adiknya di Jakarta sedang sakit. Tangisan Bunda Ervita bisa berarti bahwa Irene sakit dan di Jakarta tidak ada yang merawat putri bungsunya. Biasanya orang tua akan memiliki kekhawatiran lebih kepada anaknya yang bungsu.


"Tidak, Irene tidak sakit kok," balas Bunda Ervita.


Indi mendengar jawaban dari Bundanya. Akan tetapi, jikalau adiknya itu tidak sakit apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Bunda sampai menangis seperti ini?


"Lalu, ada apa dengan Irene, Nda?" tanya Indi.

__ADS_1


"Barusan tetangga kita memberitahu Nda dan Yayah. Dia baru saja pulang dari Jakarta dan kebetulan saat di Jakarta itu bertemu dengan Irene. Kabarnya dia melihat Irene jalan-jalan bersama pria dan membawa anak. Tetangga itu mengatakan Irene jadi simpanan pria itu. Bahkan dia memberikan fotonya Irene."


Sedih Bunda Ervita mendengar kabar kurang baik mengenai anaknya yang berada di Jakarta justru dari tetangganya. Bunda Ervita kemudian menunjukkan kertas print yang di sana tercetak Irene bersama anak kecil dan seorang pria. Indi mengamati foto itu. Satria juga melihatnya, tapi Indi sendiri tak mau berpikiran negatif.


"Nda, kan Irene bekerja sebagai guru anak-anak, guru PAUD. Bisa saja dia sedang bersama salah satu muridnya dan satu lagi pengajar di sekolah itu. Yang menjadi guru kan bukan hanya cewek, bisa juga cowok. Jangan ditelan mentah-mentah informasi yang belum jelas kebenarannya, Nda," kata Indi.


Bukan berniat menggurui Bundanya, tapi Indi berusaha menjelaskan bahwa memang mungkin foto ini diambil dengan anak murid dan guru yang lain. Terlebih mungkin sedang ada acara outing class atau sebagainya, sehingga bisa saja.


"Entahlah, Mbak. Tetangga kita itu terlanjur mengatakan kalau di Jakarta, Irene menjadi simpanan pria ini karena anak kecil ini akrab sekali dengan Irene," kata Bunda Ervita.


Hati seorang ibu, ketika anaknya dikatai bukan-bukan di luar sana pastilah sangat sedih. Selain itu, memang Bunda Ervita tidak tahu sendiri kondisi Irene di Jakarta. Selama ini komunikasi terjalin hanya melalui whatsapp dan panggilan video. Namun, keseharian Irene seperti apa, siapa saja yang Irene temui tentu saja Bunda Ervita tidak tahu.


"Yayah sendiri bagaimana?" tanya Indi.


"Ayah sedih, Mbak. Hati orang tua mana yang tidak sedih mendengar anaknya diberitakan yang tidak-tidak. Namun, Ayah berusaha percaya Irene," kata Ayah Pandu sekarang.


"Jangan meragukan Irene, Yah. Setidaknya sampai kita mendengar sendiri dari Irene. Ayah dan Nda sudah menelpon Irene?" tanya Indi.


Pasangan paruh baya itu sepakat menggelengkan kepalanya. "Belum, kami belum menelpon Irene. Rencananya baru besok akan menelpon. Ini sudah malam."


"Sarannya dari Indi, jangan sedih, Nda. Jangan sampai berpikiran aneh-aneh dan nanti Nda bisa jatuh sakit. Kita tanyain Irene dulu kebenarannya bagaimana. Indi percaya kok sama Irene," balasnya.


"Iya, Mbak. Bunda emosional. Hati Bunda sakit saat orang lain menyebut putri bungsu malahan menjadi simpanan pria di Jakarta sana. Semua orang tua juga akan sedih mendengar kabar miring seperti ini."


Indi menganggukkan kepalanya, berusaha melihat dari sudut pandang Bunda dan Ayahnya. Terlebih kabar miring yang dikatakan tetangga itu bisa dengan mudah menyebar dan tahu-tahu beberapa warga bisa mengetahui dan mengatakan yang tidak-tidak.

__ADS_1


"Ya sudah, jangan sedih dulu, Nda. Tanyakan kepada Irene baik-baik dulu," balas Indi.


Setelah itu Indi dan Satria saling pandang. Agaknya tidak mungkin berbagi kabar baik mengenai kehamilannya di saat Ayah dan Bundanya sedang sedih dan sedang kepikiran Irene. Keduanya sepakat menunda terlebih dahulu, semoga saja kabar miring ini tidak benar adanya.


__ADS_2