
Setelah duduk bersama di tepi Sawah, Indi dan Satria kembali berkumpul dengan Rama Bima, Bu Galuh, dan kedua putranya. Sore itu angin bertiup cukup kencang. Indi dan Satria berpikir untuk segera masuk ke dalam rumah saja supaya kedua putranya juga tidak sakit.
"Kita masuk yuk, anginnya kencang sekali," ajak Satria.
"Memang musim bediding ini, Sat. Kalau sore gini anginnya kencang. Menjelang pagi itu bisa dingin banget," balas Rama Bima.
Musim bediding sendiri dikatakan orang Jawa untuk menyebut musim dengan angin kencang. Pada musim ini beberapa jenis buah akan berbunga hingga akhirnya berbuah, saat ini baru berakhir ketika musim hujan tiba. Sore angin kencang, malam pun hembusan angin juga kencang, sedangkan menjelang pagi akan sangat dingin. Namun, siang hari terasa panas dan begitu terik. Tak jarang, di musim seperti ini banyak orang yang sakit influenza, demam, batuk, dan pilek.
"Anginnya kencang di Solo yah, Mas," kata Indi kepada Satria.
"Iya, kenceng banget. Dingin di sini," balas Satria.
"Kenapa Mbak Indi?" tanya Bu Galuh kepada menantunya itu.
"Dingin, Bu. Kelihatannya anginnya kencang di sini daripada di Jogja," balas Indi.
Mendengar apa yang Indi katakan, Bu Galuh lantas tertawa. "Rumah ini pekarangannya luas dan dekat sawah, Mbak. Jadi, kalau ada angin biasanya akan masuk rumah," balas Bu Galuh.
Sekarang Indi baru tahu karena pekarangan rumah mertuanya begitu luas dan letaknya yang mepet sawah. Sehingga ketika ada angin, pastilah hembusannya sampai ke dalam rumah. Berbeda dengan area perumahan yang lebih banyak bangunan rumah dua lantainya.
Malam itu, akhirnya Bu Galuh membuatkan Sekoteng untuk keluarganya. Sekoteng sendiri adalah minuman khas Jawa Tengah yang terbuat dari air jahe. Bahan yang biasanya ditambahkan dalam Sekoteng adalah kacang hijau, kacang tanah, pacar cina, dan potongan roti tawar. Rasa hangat dari air jahe bisa menghangatkan badan ketika sedang musim dingin seperti ini.
"Yuk, hangat-hangat dulu. Ibu bikin Sekoteng," kata Bu Galuh menyajikan Wedang Sekoteng dalam mangkok-mangkok kecil.
"Kesukaannya Rama ini, Bu. Terima kasih banyak," kata Rama.
"Sama-sama Rama. Mumpung dingin juga, enaknya menghangatkan badan," balas Bu Galuh.
Indi dan Satria juga turut menikmati Wedang Sekoteng itu. Menurut Indi rasanya enak, hangat juga di badan. Indi kagum dengan Bu Galuh yang memang pandai membuat aneka minuman tradisional. Semua yang dibuat Bu Galuh rasanya juga sangat enak.
"Enak banget, Bu. Jahenya kerasa," kata Indi.
__ADS_1
"Memang jahenya Ibu banyakin. Biar hangat. Ayo, nambah."
Malam itu, usai menikmati Wedang Sekoteng sembari berbincang-bincang, Indi dan Satria kemudian masuk ke dalam kamar. Nakula dan Sadewa sudah tertidur lelap.
"Yuk, kita juga istirahat, Sayang," ajak Satria.
"Iya, Mas ... badan udah hangat minum Sekoteng, waktunya bobok nyenyak sambil dipeluk Papa," balas Indi.
Satria segera membawa istrinya itu ke dalam pelukannya, sembari mendaratkan beberapa kecupan di kening istrinya. Setiap kali tidur dan memeluk Indi seperti ini rasa cinta Satria meluap-luap rasanya. Hatinya menghangat, dan merasa benar-benar mencintai istrinya itu. Hingga malam berlalu, keduanya terlelap bersama. Udara dingin yang masuk dari ventilasi di atas jendela membuat kamar Satria juga terasa dingin.
Satria sedikit menggeliat, dia melihat sekarang jam berapa rupanya jam 03.00 pagi. Kenapa rasanya begitu dingin, dengan angin yang masuk hingga menggerakkan tirai yang menggantung di jendela. Langit dalam gelap, sementara Indi juga masih tertidur. Satria menarik selimut untuk menyelimuti dirinya dan Indi. Pria itu menatap istrinya yang tengah tertidur. Rasanya Indi begitu cantik, matanya yang terpejam, bibir dengan warna pink alami yang mengatup sempurna. Beberapa kali tangan Satria mengusapi puncak kepala Indi, lantas dia kecup perlahan kening itu. Cup.
"Kenapa kamu begitu cantik sih, Roro Ayuku," kata Satria dengan lirih.
Beberapa saat waktu berlalu, Satria tidak bisa tertidur. Berusaha memejamkan mata, justru membuatnya gelisah. Kalau mengikuti kata hati dan membangunkan Indi juga kasihan sebenarnya dengan istrinya itu. Satria galau sendiri di pagi-pagi buta. Terlebih udara dingin yang memicunya untuk mereguk kehangatan yang datang dengan tiba-tiba.
Akhirnya, kali ini Satria mengikuti kata hatinya. Semoga saja Indi tidak menolaknya. Sebab, hasrat itu tiba-tiba sudah di ujung tanduk. Satria mulai mengecupi bibir Indi dengan lembut. Sebisa mungkin tidak akan mengusik istrinya. Biarkanlah dia melakukannya sembunyi-sembunyi. Setelah itu, Satria mulai memasukkan tangannya ke dalam kaos yang Indi kenakan mengusapi punggung istrinya yang terasa hangat. Dari sana, tangan itu merayap lagi dan meremas perlahan bulatan indah milik istrinya.
Ah, Satria kian gelisah. Ingin melakukan semuanya, tapi dia ragu. Hanya tangannya saja yang bergerak dan meremas perlahan bulatan indah di sana. Berusaha menembus batas, tangan itu menyusup masuk ke wadah berenda yang menangkup dua bulatan indah itu. Telapak tangan Satria mulai membelai dan mengusapnya perlahan. Hangat rasanya di tangan Satria.
"Mas," sapa Indi lirih dengan suara serak karena baru bangun tidur.
"Aku membangunkanmu yah?" tanya Satria.
"Hm, iya," jawab Indi.
"Maaf, mungkin karena udaranya dingin. Aku menjadi gelisah," kata Satria dengan jujur.
Indi tersenyum tipis. Tidak menunjukkan tengah marah dan sebagainya. Indi malahan mengusap perlahan sisi wajah suaminya hingga ke rambut suaminya. Satria bersyukur sekali, istrinya itu tak pernah menolak. Bahkan di pagi-pagi buta sekali pun. Tidak ada pertanyaan verbal, tapi cara Indi menyentuhnya sudah membuktikan ada lampu hijau sekarang. Maka dari itu, Satria tidak ingin menunggu lagi. Dia mulai menarik ke atas kaos yang dikenakan Indi. Dalam keremangan cahaya di dalam kamarnya, Satria mulai membuka kait-kait besi yang tersembunyi di balik punggung istrinya. Bulatan indah itu tanpa penghalang sama sekali, Satria mulai menundukkan wajahnya. Dia puja bulatan indah di sana dengan caranya.
Membelainya, mengusapnya dengan ujung lidahnya yang bergerak memutar, juga menghisapinya. Satria bahagia sekali rasanya. Ini adalah kehangatan yang dia cari dan dia inginkan. Sementara untuk bulatan yang lain, Satria berikan remasan dan cibutan di puncaknya. Seketika Indi melambung tinggi. Tubuhnya meremang dengan begitu cepat. Tangan Indi bergerak refleks mengusapi helai-helai rambut suaminya, bahkan Indi mengangkat wajahnya sesaat, dia kecup kening suaminya.
"Nikmat, Sayang ...."
__ADS_1
Indi memekik karenanya. "Hh, Mas ... Satria."
Pekikan lirih karena Indi takut sekarang berada di rumah mertuanya. Satria kian membuainya. Paduan hisapan dan gigitan yang Satria berikan membuat Indi kehilangan kesadaran dirinya.
"Jangan digigit, Mas," kata Indi dengan terengah-engah mana kala Satria menggigit puncak perbukitannya.
"Gemes, Yang. Nikmat banget," balas Satria.
Sekarang Satria bergerak semakin turun. Sisa-sisa busana di tubuh istrinya dia lepaskan. Lantas, Satria mulai menginvansi lembah di bawah sana. Hangat, itu yang Satria rasakan. Indi menikmati semua perlakuan suaminya dengan memejamkan mata. Kalau boleh jujur, selama mereka menikah begitu jarang keduanya menikmati perpaduan kala pagi saja masih buta. Akan tetapi, sekarang rasanya begitu syahdu. Indi memekik dan menarik wajah suaminya, karena dia mengalami pelepasan akibat invansi yang dilakukan suaminya di area lembah yang berada di bawah sana.
"Enak, mau lagi?" tanya Satria.
"Lemes, Mas," aku Indi dengan begitu lirih.
Satria tersenyum, dia lantas memerosotkan sendiri celananya. "Punyaku dibasahi saja. Aku sudah memuncak, Yang."
Indi menganggukkan kepalanya. Sedikit duduk, Indi mulai membasahi sang pusaka yang sudah tegak berdiri kokoh itu. Tampak Satria memejamkan matanya dengan mengusapi perlahan wajah Indi. Rasanya luar biasa, sensasinya dahsyat. Siapa sangka bisa merasakan kehangatan di pagi buta seperti ini.
Hanya beberapa saat, Satria sudah menghentikan Indi. "Sudah, Yang. Bisa keluar nanti."
Sekarang Satria merebahkan Indi, dia mulai merapatkan dirinya dalam satu hentakan kuat. Indi seperti menahan napas rasanya. Perpaduan itu begitu erat dan hangat. Indah sekali. Mulailah Satria menggerakkan pinggangnya perlahan dalam ritme cepat dan terarah. Keluar dan masuk, menghujam dan menusuk. Luar biasa indahnya. Cengkeraman otot-otot di bawah sana erat, memabukkan. Satria sampai menggeram beberapa kali karenanya.
"Sa ... yang!"
Indi merengkuh tubuh suaminya dengan sama kuatnya. Luar biasa, sampai Indi kian memejamkan matanya. Sementara Satria beberapa kali membuka matanya. Dia memuja sang istri yang sekarang benar-benar begitu cantik di matanya. Sangat cantik. Dengan geliat sensual yang indah di mata Satria.
Gerakan pinggul Satria kian menjadi-jadi. Indi sampai lemas rasanya, tapi Satria masih begitu tangguh. Lecutan kian dalam, dalam, dan dalam. Melesak tanpa hambatan, meluncur masuk. Indah. Semua yang Satria lakukan benar-benar terarah.
Hingga akhirnya tiba juga Satria di batas pertahanannya. Darahnya berdesir, dentingan dia rasakan di telinganya seakan pendengarannya hilang untuk beberapa saat. Pecah!
Ya, Satria meledak dalam sensasi dahsyat yang memenuhi Indi dengan setiap bagian dirinya. Pagi dalam kegilaan dan menciptakan atmosfer yang hangat. Puas rasanya. Setelah kegelisahan melanda, sekarang Satria bisa mereguk nikmatnya.
"I Love U, Sayang. Indah banget. Kamu luar biasa," kata Satria dengan memeluk tubuh istrinya itu erat-erat.
__ADS_1
"I Love U too, Mas! I love u!"
Indi membalas dengan memejamkan matanya. Sungguh indah dan begitu padu. Pagi yang indah dan hangat, Indi tak akan melupakan momen gila dan penuh gelora ini dengan suaminya.