Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Terbayang Memiliki Anak Perempuan


__ADS_3

Malam itu karena Nakula dan Sadewa sudah tertidur lelap, Indi dan Satria akhirnya memilih untuk menginap di rumah Ayah Pandu dan Bunda Ervita. Akan tetapi, sekarang keduanya menikmati malam berdua dengan duduk di balkon yang berada di kamar Indi. Menikmati cahaya rembulan yang tersenyum simpul dan juga semilir angin malam yang bergemerisik di telinga mereka.


"Belum ngantuk emangnya Mas? Tumben ngajakin duduk-duduk malam di sini," kata Indi.


"Belum ngantuk, Sayang. Masih jam delapan malam. Hitungannya sih masih sore. Enak yah kalau anak-anak memiliki jam tidur secara rutin, jam segini sudah bisa nyantai. Bisa ngobrol sama kamu," kata Satria.


Memang sedari Nakula dan Sadewa masih bayi, mereka berdua sudah dibiasakan tidur secara rutin. Bagian dari sleep training yang berhasil dilakukan oleh Indi dan Satria. Sehingga setiap jam delapan malam, kedua putranya sudah tertidur. Ada waktu di malam hari yang bisa dimanfaatkan oleh Indi dan Satria untuk bonding bersama. Mengobrol, menonton film berdua, atau ngeteh bersama.


"Anak-anak sudah memiliki jam rutin sih, Mas. Seperti waktunya bobok kan udah rutin. Jadi, yah itu kebangun dengan sendirinya," balas Indi.


"Benar. Malahan enak. Nanti kalau Nakula dan Sadewa sudah sekolah mulai dibiasakan belajar, Sayang. Jam rutin untuk belajar," kata Satria.


"Siap, Mas. Semoga nanti bisa membiasakan Nakula dan Sadewa. Soalnya ada adik-adiknya juga. Kita harus kerja sama dan atur strategi lagi, Mas."


Indi mengatakan demikian karena kunci dalam mengasuh anak memang harus melibatkan pasangan. Perlu kerja sama dan juga mengatur strategi. Setiap momen, setiap masa ada tantangannya. Begitu juga ketika Nakula dan Sadewa sudah sekolah nanti, ditambah adik-adiknya sudah lahir, tantangannya juga pasti akan berbeda.


"Siap, Sayang. Nanti kita mengatur strategi bersama. Nanti kalau sudah memiliki anak-anak lagi, kita memakai babysitter aja, Sayang," kata Satria.


"Kenapa Mas?"


"Biar kamu enggak terlalu capek. Aku kasihan aja sih kalau kamu kecapekan," kata Satria.

__ADS_1


Indi kemudian tersenyum, setelahnya dia berbicara lagi kepada Satria. "Sebenarnya sih aku pilih mengasuh anak-anakku sendiri. Rasanya kalau dipegang tangan sendiri itu beda aja, Mas. Punya lebih banyak waktu untuk bonding dengan anak-anak."


"Hectic banget loh nanti dengan empat orang anak di rumah. Atau memiliki ART aja, urusan rumah biar dikerjakan ART, kamu fokus mengurus anak-anak aja," saran Satria.


Satria memang menyarankan demikian. Satria tahu bagaimana hecticnya memiliki empat anak di rumah. Oleh karena itu, Satria tidak ingin istrinya itu kecapekan hingga payah sendiri karena mengurus anak-anak.


"Aku coba mengasuh sendiri aja deh, Mas. Kalau ART untuk mengurus rumah sih oke. Tidak masalah yah. Kalau anak-anak mending aku urus sendiri. Biar bau tanganku," kata Indi.


Satria kembali lagi tertawa. Namun, Satria mengakui sosok keibuan istrinya itu. Seorang istri dan seorang ibu yang menginginkan untuk mengasuh anaknya sendiri. Walau anaknya banyak, nanti akan ada empat orang anak, tapi Indi terlihat tidak keberatan sama sekali.


"Aku jujur seneng banget mengetahui hasil USG anak kita adalah perempuan," kata Satria sekarang.


"Kenapa Mas?"


"Mas sampai ngebayangin kayak gitu?"


"Iya, seru dan lucu kali yah. Seperti memiliki boneka di rumah," kata Satria.


Indi tertawa dan menggelengkan kepalanya mendengar ucapan suaminya. Namun, terlihat jelas binar di mata Satria dan ekspresi yang dia tunjukkan karena hendak memiliki anak perempuan. Indi yang mendengarkan saja turut bahagia.


"Daddy's little girls nanti," balas Indi.

__ADS_1


"Iya, kalau anak perempuan itu kayaknya sampai mereka besar ada sisi manis dan manjanya ke Papanya," balas Satria.


"Baiknya Tuhan kepada kita berdua, Mas. Sudah memiliki anak laki-laki dan nanti diberi anak perempuan. Siapkan nama yang bagus, Mas ... artinya bagus dan unik kalau bisa," kata Indi.


"Berbau Jawa enggak?" tanya Satria.


"Optional aja, Mas. Kalau Jawa juga gak apa-apa. Seperti Nakula dan Sadewa itu kan khas Jawa gitu kan."


Satria menganggukkan kepalanya. Sudah ada tugas dari sang istri untuk memberikan nama bagi dua putri kembarnya nanti. Tentu Satria akan memilih nama yang tak sekadar bagus, tapi juga memiliki makna yang indah. Nama yang menyematkan doa dan harapan mereka untuk kedua putrinya.


"Aku siap menjadi kayak Ayah Pandu. Kamu dan Irene sampai dewasa kan dekat gitu ke Ayah. Aku pengen juga begitu," kata Satria.


"Ah, apa-apa pengennya kayak Yayah deh," cibir Indi.


"Kan ada contoh dan teladan yang baik di depan mata, jadi yah diteladani aja. Gak perlu mencari ke tempat lain. Ayah Pandu itu adalah seorang Ayah yang bisa menjadi sahabat untuk anak-anaknya. Jarang sekarang menemukan sosok seperti itu, Sayang."


Indi kali ini setuju dengan suaminya, memang Ayah Pandu adalah seorang ayah yang bisa menjadi sahabat untuknya dan Irene. Benar-benar seorang ayah idaman. Jika Satria menginginkan hal demikian, tentu itu adalah hal yang bagus.


"Semoga semua harapan kita akan tercapai nanti," kata Indi.


"Aamiin. Pastinya kamu dan twins sehat selalu. Aku akan memastikan kebahagiaan istri dan anak-anakku," balas Satria.

__ADS_1


Mendengarkan apa yang Satria sampaikan membuat Indi tersenyum. Dia sudah bahagia sejak menikah dengan Satria. Baginya suaminya itu bukan hanya memberikan janji, tapi juga bukti nyata.


__ADS_2