
Usai kajian Al'Quran, acara dilanjutkan dengan acara keluarga yang lebih santai. Di sana keluarga berkumpul. Ada keluarga Negara, keluarga Hadinata, keluarga Eyang Agus, dan keluarga Bapak Firhan.
"Saya berterima kasih sekali, sudah mau datang ke sini dan memanjatkan doa untuk Mbak Indi," kata Rama Bima.
"Terima kasih sudah diundang juga, Pak Bima," balas Bapak Firhan.
"Terima kasih Pak Negara, kami yang sudah sepuh masih diundang dan bisa mengikuti acara empat bulanannya cucu kami," kata Eyang Hadinata.
Rupanya, di momen kumpul keluarga ini juga, Eyang Agus menceritakan mengenai mimpinya yang dahulu sempat diceritakan kepada Satria dan Indi saat keduanya main ke Solo dulu. Siapa tahu, ada yang disampaikan melalui mimpi. Sebab, orang-orang sepuh zaman dulu kadang percaya bahwa mimpi bukan sekadar bunga tidur. Akan tetapi, ada lambang yang sengaja Allah berikan melalui mimpi.
"Waktu Indi dan Satria main ke rumah dulu, saya itu bercerita kepada Indi dan Satria kok saya mimpi ada dua ayam jago yang berkokok di depan rumah. Dalam hati saya sudah mendapat mimpi itu, mungkinkah ada bayi laki-laki yang hadir untuk keluarga kita. Waktu itu, kehamilan Indi masih kecil yah ... belum kelihatan jenis kelaminnya. Sekarang, sudah kelihatan belum Cah Ayu janinnya laki-laki atau perempuan? Kalau dari mimpinya Eyang sih, dua ayam jago bisa saja kamu mengandung dua bayi laki-laki," kata Eyang Agus.
Indi dan Satria kemudian tersenyum. Sementara keluarga yang lain memang belum mengetahui jenis kelamin dari bayi yang dikandung Indi. Walau begitu, jika bisa memiliki kembar Fraternal atau anak laki-laki dan perempuan itu akan jauh lebih baik. Sekali melahirkan dan memiliki anak sepasang. Orang Jawa biasanya menyebutnya Kendhini dan Kendhana. Sudah lengkap laki-laki dan perempuan. Walau demikian, kembar fraternal sering disebut juga kembar emas karena sangat jarang sekarang mendapatkan anak kembar laki-laki dan perempuan sekaligus.
"Sudah kelihatan belum Mbak Indi?" tanya Bu Galuh. Yang dimaksud kelihatan tentu adalah jenis kelamin calon bayinya. Keluarga memang sudah tahu Indi hamil anak kembar, tapi belum mengetahui jenis kelamin bayinya.
"Sudah kelihatan Ibu ... kemarin waktu pemeriksaan terakhir sudah kelihatan jenis kelaminnya kok," balas Indi.
"Iya, Ibu, Rama, Nda, Yayah, dan Bapak ... sudah kelihatan nanti cucu-cucunya akan berjenis kelamin apa," balas Satria.
"Benar seperti mimpinya Eyang enggak, Mas Satria?" tanya Eyang Agus menegaskan.
Satria akhirnya tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya. "Benar ... seperti mimpinya Eyang Agus. Dua ayam jago, dua jagoan di dalam rahimnya Indi," jawabnya.
"Alhamdulillah ...."
Seluruh keluarga yang berada di sana memanjatkan syukur. Baik itu laki-laki atau perempuan tetap adalah berkah dari Allah. Anak laki-laki juga adalah berkah dan anugerah dari Allah.
__ADS_1
"Diberi kekuatan sama Allah yah, Mbak Indi ... menjadi wanita sendiri di rumah nanti. Yang sabar, mengayemi suami dan anak-anak," kata Eyang Hadinata.
"Nggih, Eyang. Semoga bisa sabar dan mengayemi," balas Indi.
"Dalam rumah tangga itu, suami itu mengayomi. Orang yang bisa memimpin dan melindungi. Sementara istri itu mengayemi, yang memberi rasa ayem, adem itu di dalam rumah adalah istri, seorang ibu. Jadi, Mbak Indi yang bisa mengayemi. Di kelilingi tiga pria nanti di rumah," nasihat Eyang Hadinata.
Eyang Negara yang mendengarkan petuah yang bijak dari Eyang Hadinata pun menganggukkan kepalanya. Sangat setuju dengan apa yang baru saja disampaikan oleh Eyang Hadinata.
"Benar sekali. Saya juga setuju. Mbak Indi dan Mas Satria sekarang sudah harus belajar dan dipersiapkan jadi orang tua. Jadi, orang tua itu tidak ada sekolahnya, tapi kalian harus langsung praktik dengan anak-anak nanti. Selalu mengutamakan kata saling dalam berumahtangga. Itu kunci supaya langgeng," imbuh Eyang Negara.
Indi dan Satria menganggukkan kepalanya. Keduanya justru senang mendapatkan berbagai nasihat dan petuah seperti ini. Menimba ilmu dari anggota keluarga yang lebih tua juga menyenangkan. Seperti menimba air, mendapatkan sedikit demi sedikit hingga memenuhi satu ember.
"Wah, nanti kalau main ke Solo dengan dua baby boy yah, Mas?" Sitha pun ikut berbicara. Dia juga senang nanti memiliki dua keponakan kembar dan keduanya laki-laki.
"Iya, tambah rame. Biar mengacak-acak kamarmu yah," balas Satria dengan tertawa.
"Ya, enggak apa-apa, kan punya Tantenya sendiri," balas Satria.
"Digendong nanti keponakannya loh, Tha. Belajar nanti gendong bayi," kata Bu Galuh.
Sitha nyatanya buru-buru menggelengkan kepalanya. "Gak bisa, Bu ... takut."
"Coba tanya Mbak Irene tuh berani menggendong bayi enggak?" tanya Bu Galuh.
Irene yang sejak tadi diam dan senyam-senyum sekarang bingung ketika tiba-tiba ditanyai oleh Bu Galuh. Namun, Irene pun menganggukkan kepalanya. "Bisa menggendong, Bu ... berani juga. Kan duku waktu di kampus penyuluhan ke anak-anak kecil di Panti Asuhan," jawab Irene.
"Mbak Irene ambil jurusan apa sih?" tanya Sitha kemudian.
__ADS_1
"Ambil Pendidikan Anak Usia Dini sih, Dik ... jadi ya banyak berhubungan langsung sama anak-anak," balas Irene.
"Wah, calon guru TK ini," balas Rama Bima.
Irene kemudian menganggukkan kepalanya. "Aamiin, doanya nggih, Pak. Masih satu tahun lagi untuk wisuda," balas Irene.
"Doa itu pasti, Mbak Irene. Namun, Mbak Irene ya harus berusaha dan bekerja keras untuk lulus, menyelesaikan wisuda. Doa tanpa usaha kan sia-sia. Semangat yah Mbak Irene," kata Rama Bima.
Irene tersenyum. Dia senang juga mendapatkan semangat dari keluarga Kakak iparnya. Jujur, dulu Irene berpikir keluarga kakak iparnya juga keluarga ningrat yang kaku dan sukar diajak berbicara. Akan tetapi, sekarang keluarga kakak iparnya itu ternyata baik, dan bisa diajak berbicara juga.
"Kita sekalinya menjadi Eyang, langsung memiliki cucu dua sekaligus, Bu," kata Bu Galuh kepada Bunda Ervita.
"Benar, Bu ... tidak satu, sama Allah langsung diberi dua cucu. Semoga nanti semuanya lancar. Kita doakan juga, Indi sehat dan kuat sampai persalinan nanti. Satria juga sabar dan bisa mengayomi istri dan anak-anaknya," balas Bunda Ervita.
"Didengarkan, Satria. Kalau orang tua memberikan nasihat. Dilakukan yang baik, dibuang yang tidak baik," kata Eyang Kakung Negara dengan menepuk bahu cucunya itu.
"Nggih, Eyang."
Cukup lama, seluruh keluarga berbincang-bincang di pendopo depan rumah. Hingga akhirnya, Bu Galuh menyuruh Indi untuk istirahat terlebih dahulu. Takut tidak nyaman mengenai kebaya terlalu lama.
"Mbak Indi istirahat dulu saja, sudah malam. Ibu hamil harus istirahat yang cukup," kata Bu Galuh.
Sebenarnya Indi juga sungkan. Ketika semua keluarga masih berkumpul, tapi dia harus istirahat terlebih dahulu. Di pendopo, dengan angin yang sepoi-sepoi dan diiringi langgam Jawa seakan membangun momen kekeluarga yang indah dan rekat.
"Ditemanin dulu istrinya, Satria. Kasihan memakai kebaya sejak tadi. Takutnya sesak di perut," kata Bu Galuh.
Seakan mendapatkan lampu hijau untuk istirahat dan bisa nempel dengan istri tentu tidak akan disia-siakan oleh Satria. Pria itu langsung berdiri dan mengulurkan tangannya kepada istrinya. Siap menemani istrinya yang tengah hamil untuk beristirahat.
__ADS_1