Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Kelulusan Sitha


__ADS_3

Esok hari pun tiba, pagi di kediaman keluarga Negara sudah lebih hectic. Indi tentu dengan dua bayi kecilnya yang pagi itu dimandiin, kemudian Sitha yang harus bersiap untuk menghadiri wisuda di salah satu area gedung pertemuan di Solo. Sehingga, pagi-pagi sudah ada penata rias yang datang ke kediaman keluarga Negara.


"Cantiknya Ante Sitha," kata Indi kepada adik iparnya yang sudah selesai dirias.


"Warna kebayanya cocok enggak, Mbak? Aku takut enggak masuk di warna kulitku," tanya Sitha.


Kala itu, Sitha mengenakan kebaya berwarna biru. Sitha sendiri memiliki warna kulit sedikit coklat. Dia sedikit tidak percaya diri saja dengan warna kebaya yang sekarang dia kenakan.


Sekarang, Indi mengamati adik iparnya itu. Riasan, kebaya, hingga sanggulan di rambut Sitha semuanya Indi perhatikan sesaat. Kemudian, Indi mengangguk dan tersenyum.


"Udah, cantik kok," balas Indi.


"Seriusan Mbak?" tanya Sitha lagi.


"Iya, cantik kok Sitha. Yang percaya diri dong."


Gadis itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya perlahan. Merasa percaya dengan apa yang disampaikan oleh Kakak iparnya. Setelah itu, Sitha tersenyum lebar.


"Makasih, Mbak. Aku jadi lebih percaya diri. Nanti datang yah, Mbak. Biar bisa foto bersama," katanya.


"Iya, aku nyusul yah. Ante Sitha ikutin acaranya dulu, nanti disusul Nang-Nang yah," kata Indi.


"Harus dong, mau foto sama Nang-Nang. Yang cakep loh, Mbak," kata Sitha lagi.


Keduanya kemudian tertawa berdua. Bahkan ketika hendak berangkat, Sitha juga menciumi keponakan kembarnya itu sampai pipinya Nakula dan Sadewa terkena lipstiks adik iparnya itu.


"Heh, jangan cium-cium anak lanangku," kata Satria kepada adiknya.


"Abis, cakep dan wangi sih Nang-Nang," balas Sitha.


"Udah, Tha. Ini pipinya kena lipstiks kamu. Duh, kamu ini," balas Satria dengan kesal.


Sementara Sitha malahan tertawa. Dia masih gemas dengan dua keponakannya. "Ditunggu Ante yah, Nang ... Ante dan Eyang duluan yah," pamitnya kemudian.

__ADS_1


Bu Galuh kemudian berbicara kepada Indi. "Disempatkan hadir yah, Mbak. Rama, Ibu, dan Sitha duluan yah," kata Bu Galuh.


Kemudian Indi menganggukkan kepalanya. Memang Indi dan Satria sudah kepikiran untuk datang. Hanya saja mereka menyusul saja, sehingga tidak terlalu lama mengikuti acaranya. Sebab, Nakula dan Sadewa masih full ASI, sehingga Indi memikirkan waktu untuk memberikan ASI untuk anak-anak juga.


Selang satu setengah jam kemudian, barulah Indi dan Satria berangkat dari rumah menuju ke gedung pertemuan yang digunakan untuk acara kelulusan dan pelepasan sekolah Sitha. Dalam perjalanan, Satria bertanya kepada istrinya itu.


"Sudah memakai breast pad belum, Yang?" tanyanya.


Breast pad sendiri adalah alat bantu supaya ASI tidak merembes hingga mengenai pakaian. Sebab, ketika menjadi Busui bisa saja ASI merembes hingga ke pakaian dan itu benar-benar membuat tidak nyaman. Oleh karena itu, Satria menanyai apakah istrinya sudah mengenakan breast pad.


"Sudah ini kok, Mas. Sudah aku pumping juga, seharusnya lebih nyaman dan tidak begitu penuh," jawab Indi.


Satria kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, semoga aman. ASIP dan dodot juga sudah?" tanyanya.


"Sudah semuanya Papa ... aman kok," balas Indi.


Akhirnya, Satria segera melajukan mobil menuju gedung pertemuan yang berbentuk Joglo itu. Ya, rumah khas suku Jawa atau Joglo menjadi bentuk bangunan itu, tempat yang biasanya digunakan acara pelepasan sekolah Sitha ini juga termasuk gedung pertemuan yang sering disewa masyarakat di Solo untuk menggelar resepsi pernikahan.


"Iya, ini menjadi gedung pertemuan untuk menggelar resepsi pernikahan di Solo, Sayang. Biasanya keluarga yang berada di area Solo, sering menggelar acara pernikahan di sini," cerita Satria.


Indi menganggukkan kepalanya. Baru tahu juga kalau memang ada tempat-tempat tertentu di Solo yang disewa keluarga berada untuk menggelar resepsi pernikahan anak-anak mereka. Namun, bangunan berbentuk Joglo itu memang begitu besar dan bisa menampung kurang lebih seribu undangan. Selain itu, tempatnya asri.


"Acaranya sekarang baru apa, Mas?" tanya Indi.


"Sudah selesai, tinggal pengumuman siswa berprestasi," balas Satria.


"Kamu dulu dapat dong, Mas? Kan kamu pinter," tanya Indi lagi.


"Ya, begitu, Sayang. Peraih nilai UAN terbaik di Solo sih waktu itu," balas Satria.


Wah, Indi bangga mendengar pengakuan suaminya itu. Dia bahkan diam-diam berharap putra-putranya nanti bisa sepinter Papanya. Memang nilai bukan segala-galanya, tapi jika mendapat nilai yang baik itu adalah hal yang baik.


"Kamu enggak gak dapat?" tanya Satria.

__ADS_1


Indi kemudian tersenyum. "Ya, dapat ... tapi bukan terbaik pertama. Tiga besar aja sih," jawabnya.


Satria kemudian tersenyum dan melirik istrinya. "Tuh, Mamanya Nang-Nang juga pinter. Ikuti jejak Mama, Nang. Mama Indira juga pinter kok."


Memasuki Joglo ageng itu, Satria dan Indi mencari di mana Rama Bima dan Bu Galuh duduk. Sebelumnya Satria bersalaman dengan guru-gurunya dulu. Rupanya beberapa guru di sana masih ingat dengan Satria, bahkan gemas juga melihat Nakula dan Sadewa yang dinilai begitu mirip dengan Satria.


Maklum karena Sitha juga bersekolah di SMA Negeri salah satu yang terbaik di Solo tempat Satria sekolah dulu. Sehingga beberapa guru masih mengingat Satria. Hingga akhirnya, Satria dan Indi sudah duduk bersama Rama Bima dan Bu Galuh. Para Eyang sigap menggendong cucunya.


"Sini, ikut Eyang Ibu," kata Bu Galuh.


"Iya, Eyang."


Terlihat Bu Galuh dan Rama Bima gemas karena baju yang dikenakan Nakula dan Sadewa begitu lucu dengan mode baby suit dengan dasi kupu-kupu di lehernya. Nakula menggunakan warna Navy, sementara Sadewa menggunakan warna Gray. Model bajunya sama, hanya warnanya saja yang dibedakan.


"Masih lama tidak Rama?" tanya Satria.


"Tidak, paling setengah jam lagi," balas Rama Bima.


Akhirnya tibalah diumumkan untuk siswa berprestasi rupanya Sitha mendapatkan peringkat dua terbaik. Tentu saja itu membuat keluarga Negara bahagia dan bangga dengan pencapaian Sitha.


"Itu Ante Sitha, Nang," kata Rama seolah menunjukkan Sitha kepada cucunya.


"Ante pinter yah, Nang," kata Bu Galuh.


"Nanti Nakula dan Sadewa sekolah yang pinter yah. Sampai ke luar negeri tidak apa-apa. Rama mendukung dan siap menyokong pendidikan kalian," kata Rama Bima dengan sungguh-sungguh.


"Boleh enggak sekolah di luar negeri sama Papa dan Mamanya?" tanya Bu Galuh.


Indi dan Satria sama-sama tertawa. "Boleh saja, Bu. Kami berpikiran terbuka. Menimba ilmu dan pengalaman sampai ke luar negeri tidak ada salahnya. Biar Satria dan Indi bisa mengunjungi mereka ke luar negeri juga," jawab Satria.


"Iya, boleh kok, Eyang. Kalau memang Nakula dan Sadewa juga bisa belajar bertanggung jawab," balas Indi.


Memang Satria dan Indi lebih berpikiran terbuka. Mendapatkan pendidikan di luar negeri kalau memang ada kesempatan tidak masalah. Menimba ilmu dan pengalaman berharga hingga ke negeri seberang pun akan selalu didukung keduanya untuk putra dan putrinya kelak.

__ADS_1


__ADS_2