Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Ada Maksud Tuhan


__ADS_3

Apabila menilik ke masa lalu, banyak kejadian yang terjadi dan sering kali membuat manusia merasa kecewa. Sama seperti yang dialami Indi sewaktu kecilnya. Lahir tanpa nasab, bahkan dia baru tahu kebenaran itu ketika hendak menikah, pernah membuatnya kecewa. Pernah juga ada rasa iri dengan adiknya sendiri. Semua itu adalah hal yang sangat manusiawi.


Akan tetapi, kini semuanya menjadi lebih jelas. Dalam pahitnya masa lalu atau jalan hidup manusia ada maksud Allah yang luar biasa. Di balik bencana, ada kebesaran Allah. Itu yang Indi yakini sekarang.


"Jadi mellow kan," kata Satria kepada istrinya itu.


Seketika Ayah Pandu dan Bunda Ervita tersenyum menatap Indi. Sebab, Indi masih berlinang air mata. Kalau membahas ikatan dengan Ayah Pandu, selalu bisa mengetuk hati Indi hingga air mata berlinang begitu saja.


"Sudah, jangan menangis. Nih, Nang-Nang lihatin Mamanya loh," kata Ayah Pandu kepada Indi.


"Terharu aja kok, Yah. Di bumi ini masih ada orang sebaik Yayah," balas Indi.


"Masih banyak orang baik di muka bumi ini, Mbak Indi. Yang Yayah lakukan tidak seberapa. Sudah, kayak ini Superhero yang menyelamatkan dunia aja," balas Ayah Pandu dengan tersenyum.


Indi kemudian berbicara lagi kepada ayahnya. "Untuk Bunda dan untuk Indi, Yayah itu superheronya kami. Makasih, Yah ... dari Indi kecil membuat Indi merasakan kasih sayang ayah, menjadi teladan terbaik untuk Indi."


Satria mengangguk, dia sangat tahu bahwa sosok Ayah Pandu memiliki peran yang sangat besar untuk Indi. Satria justru menyelipkan harapan dalam hatinya, bahwa kelak kalau Nakula dan Sadewa sudah dewasa kedua putranya itu bisa menganggap dirinya juga sebagai sosok yang penting. Agaknya Satria harus pandai-pandai meneledani Ayah Pandu. Semua Ayah akan sangat bahagia ketika anak-anaknya kelak menganggapnya Superhero.


"Sebenarnya sejak Bunda kamu hamil kala itu, Yayah ingin menikahi Bunda, Mbak. Namun, tetap saja itu tidak membuat kamu memiliki nasab atas nama Yayah. Nasab itu garis keturunan. Andai Bapak kamu menginginkan tanggung jawab, kamu tetap akan dianggap di luar nasabnya. Anak yang hadir di luar pernikahan, sebelum Akad, pada dasarnya akan disebut tanpa nasab. Walau begitu, ketika ketahuan hamil dan kemudian pihak pria baru bertanggung jawab, tetap sebenarnya dalam iman kita si anak ini tidak mengikuti nasab ayahnya," jelas Ayah Pandu.


"Jadi, yang mengikuti nasab itu ketika hamil di dalam pernikahan, usai akad yah, Yah?" tanya Satria.

__ADS_1


"Benar, Mas Satria. Dalam fikih Islam, anak yang lahir di luar pernikahan tidak memiliki nasab dengan ayah biologisnya, meskipun ayah tersebut mengakuinya atau bertanggung jawab kemudian hari setelahnya," jelas Ayah Pandu.


Mendengar apa yang disampaikan Ayah Pandu, Satria kembali menganggukkan kepalanya. Banyak hukum pula yang berlaku, termasuk mengenai hamil di luar nikah dan tentunya anak tanpa nasab seperti istrinya. Walau si ayah mengakui dan mau bertanggung jawab sekalipun, si anak tidak memiliki nasab dengan ayah biologisnya.


"Kalau Ayah menikahi Bundamu kala masih mengandung Indi itu juga tidak boleh. Haram hukumnya menikahi wanita yang mengenai anak pria lain. Harus menunggu ketika wanita tersebut usai melahirkan. Pun kalau menikah, juga pria tidak boleh menyentuhnya sampai pasca bersalin dan usai masa nifas. Semuanya tercatat dalam fikih Islam," kata Ayah Pandu lagi.


"Rupanya banyak sekali aturan yang terkadang tidak kita ketahui ya, Yah," kata Satria.


"Benar, Satria ... tidak ada salahnya kita belajar. Jadi masa lalu yang pelik ini menjadi pembelajaran di masa depan juga. Menjaga diri baik-baik kala berhubungan, kala berpacaran itu baik adanya. Hubungan suami dan istri untuk kali pertama itu adalah berkah dalam pernikahan. Lebih baik kan menikmati berkah itu dalam kondisi sama-sama halal untuk satu sama lain," kata Ayah Pandu.


Satria sangat setuju dengan apa yang disampaikan oleh Ayah Pandu. Menikmati berkah utama dalam pernikahan sebagai pasangan yang halal untuk satu sama lain justru mendatangkan pahala. Anak-anak yang dilahirkan dalam pernikahan juga tercatat jelas nasabnya. Hingga di kemudian hari juga tidak akan menimbulkan masalah yang baru lagi.


"Itu yang bikin jatuh cinta setiap hari dengan Yayahmu, Mbak Indi," kata Bunda Ervita dengan terus-terang.


"Sebaik-baiknya pria adalah mereka yang menghargai pasangannya. Memuliakan pasangannya. Dalam 25 tahun pernikahan kami, Yayah kamu selalu memuliakan Bunda. Masalah ini juga hanya diketahui intern keluarga saja. Menutupi masa lalu Bunda yang jelek dan penuh dosa. Bahkan orang-orang juga mengenalnya kamu adalah putrinya Yayah Pandu. Indira itu anaknya Pak Pandu," kata Bunda Ervita.


"Benar, Nda. Indi sendiri juga tahunya Indi adalah putrinya Ayah Pandu."


Indi juga mengakui dengan jujur bahwa dalam hidupnya, pada mulanya sosok ayah yang dia kenal adalah Yayah Pandu. Jika, tidak mengetahui kebenaran itu mungkin sampai kapan pun, Indi juga hanya tahu bahwa ayahnya adalah Yayah Pandu.


"Semua peristiwa ada maksud Tuhan, Sayang. Lika-liku masa lalu Bunda, mempertemukan kamu dengan figur ayah yang sangat baik. Duka menjadi anak yang berbeda itu Allah hapus. Allah berikan figur dan teladan seorang ayah yang sangat luar biasa," kata Satria.

__ADS_1


"Benar banget, Mas Satria. PR kita, untuk menjadi figur dan teladan untuk Nakula, Sadewa, dan adik-adiknya nanti," kata Indi.


"Aamiin ...."


Sekarang Bunda Ervita dan Ayah Pandu mengaminkan ucapan putrinya. Berharap juga kelak anak-anaknya bisa menjadi figur yang baik untuk anak-anak dan keturunannya.


"Adiknya Nang-Nang kapan launching ini? Eyang biar tambah cucu," kata Ayah Pandu sekarang dengan tertawa.


"Atur jarak kehamilan dulu, Yah ... biar Nakula dan Sadewa selesai ASI eksklusif dulu," jawab Indi.


"Jangan lama-lama, Mbak ... Yayah dan Nda mumpung masih muda, masih sehat, bisa bantu mengasuh cucu," balas Ayah Pandu.


"Kalau Indi dikarunia anak kembar lagi, cucunya Yayah dan Nda langsung empat loh ini," kata Indi dengan tertawa.


"Hamil tiga kali, cucunya udah setengah lusin yah, Sayang," kata Satria.


Ayah Pandu, Bunda Ervita, Indi, dan Satria sama-sama tertawa. Benar, kalau terus-menerus mendapatkan anak kembar, hamil tiga kali saja keturunan mereka sudah setengah lusin. Benar-benar akan menjadi keluarga besar.


"Ingat, ada maksud Allah. Itu artinya kalian dipercaya Allah untuk mengasuh anak-anak," balas Ayah Pandu.


"Aamiin ...."

__ADS_1


Dengan tertawa dan membayangkan jikalau itu benar adanya Indi dan Satria tertawa. Benar dalam segala sesuatu di bawah kolong langit ini pastilah ada maksud Allah. Dalam sedih dan kesusahan, Allah menginginkan hambanya untuk percaya dan berserah. Sedangkan dalam kebahagiaan, Allah ingatkan untuk bersyukur. Selalu saja ada maksud dari Allah sebagai Pencipta untuk semua ciptaan-Nya.


__ADS_2