
Keesokan Harinya ....
Irene sudah mengambil keputusan untuk segera kembali ke Jakarta. Untungnya kali ini Bunda Ervita dan Ayah Pandu memberikan izin kepada Irene. Selain itu, ada pesan yang keduanya sampaikan kepada Irene.
"Semoga di lain waktu kalau liburan bisa benar-benar berada di Jogjakarta yah, Dek ... tidak buru-buru kembali ke Jakarta," kata Ayah Pandu kepada putrinya.
Irene pun menganggukkan kepalanya. Dia tahu pastilah Ayah dan Bundanya masih kangen kepadanya. Masih ingin menikmati liburan bersama mengingat Irene juga sekarang bekerja di Jakarta, sehingga waktu bersama keluarga di Jogjakarta terasa langka dan mahal.
"Maafkan Irene yah, Yah ...."
"Tidak apa-apa, Dek. Pesan Ayah sama seperti pesan Bundamu. Jangan berusaha menjadi pihak ketiga di kehidupan rumah tangga orang lain. Ayah dulu memperjuangkan Bundamu bukan sebagai pihak ketiga. Ayah berjuang karena Ayah sangat tahu bahwa Ndamu dan Mbak Indi memang adalah dua sosok yang harus Yayah perjuangkan," nasihat dari Ayah Pandu.
Irene terdiam. Mungkin kedua orang tuanya khawatir kalau dia menjadi pihak ketiga dalam kehidupan rumah tangga muridnya itu. Namun, sejauh ini juga Irene tak tahu bagaimana latar belakang keluarga muridnya itu. Yang Irene tahu, dia hanya khawatir kondisi kesehatan muridnya saja.
Sementara itu, Irene juga tidak berusaha mengulik kehidupan keluarga muridnya itu. Ada etika profesi sebagai seorang guru atau pengajar yang harus dia pegang.
"Irene tidak menjadi orang ketiga, Yah ... sejauh ini, Irene hanya berhubungan dengan Opa dan Omanya. Walinya yang aktif di sekolah, bukan dengan Papanya," balas Irene.
"Dia sudah tak memiliki orang tua dan hanya dibesarkan Opa dan Omanya?" tanya Ayah Pandu.
"Kurang tahu, Yah. Yang aktif mengantar Nia dan mengikuti rapat parenting di sekolah adalah Oma dan Opanya. Bukan Mama atau Papanya. Jadi, hubungan Irene sejauh ini adalah dengan Oma dan Opanya saja," balas Irene.
Ayah Pandu dan Bunda Ervita saling pandang. Merasa bingung juga dengan status murid Irene itu. Apakah memang tak memiliki orang tua, atau sebatas dibesarkan Opa dan Omanya? Namun, Ayah Pandu dan Bunda Ervita mengingat bahwa anak kecil itu masih memiliki orang tua. Ada Papa yang adalah ayah kandungnya, ada Daddy yang sejujurnya adalah Pamannya. Jadi, tidak mungkin anak kecil itu yatim piatu.
"Intinya pandai-pandailah membawa diri, Dek," kata Ayah Pandu.
__ADS_1
Membawa diri yang dimaksudkan oleh Ayah Pandu adalah bisa memahami keadaan. Memahami siapa yang dia hadapi, bisa menempatkan diri dengan baik. Supaya tidak salah langkah. Terlebih di Jakarta, Irene tinggal sendirian. Tentu segala keputusan akan banyak diambil oleh Irene sendiri.
"Baik, Ayah ...."
Setelah itu, Ayah Pandu dan Bunda Ervita mengantarkan Irene ke bandara. Indi dan Satria tentunya juga akan menyusul, tapi mereka memutuskan untuk langsung ke Bandar Udara Internasional Yogyakarta.
Menempuh perjalanan lebih dari satu jam, akhirnya mereka sekarang tiba di bandara. Sudah ada Indi, Satria, dan Nakula serta Sadewa yang menunggu Irene. Mereka tampak menunggu di depan pintu keberangkatan.
"Padahal masih ada beberapa hari lagi," kata Indi kepada adiknya itu.
"Maaf, Mbak. Liburan semester depan semoga tidak ada intervensi yang lainnya," kata Irene.
"Kita belum ke mall bersama. Biasanya dulu kita ke Mall bersama, dan meminta Yayah membayar apa yang kita beli. Sekarang, belum bisa lagi," kata Indi.
"Next time ya, Mbak ..., kita minta Yayah beliin kutek dan aksesoris lainnya," balas Irene.
"Ayah rindu masa-masa itu," kata Ayah Pandu.
Walau berusaha mengatakannya dengan tenang, tapi di dalam hatinya Ayah Pandu merasa sangat emosional. Ada masa yang seolah sukar untuk diulang. Indi sudah berkeluarga, sementara Irene bekerja di Jakarta. Sekarang, kalau pun harus ke mall, lebih sering berdua saja dengan Bunda Ervita.
"Yayah," balas Irene. Gadis itu segera memeluk Ayahnya. Bahkan di pelukan sang Ayah, Irene tampak berkaca-kaca.
"Tidak apa-apa, Dek. Semoga liburan semester depan bisa full liburan di Jogjakarta yah. Kali ini kamu kembali lebih cepat tidak apa-apa. Salam untuk muridmu, semoga segera sembuh," kata Ayah Pandu.
"Benar, Dek. Lain waktu semoga bisa sepenuhnya liburan. Bekerja itu penting, memberi waktu liburan dan berkumpul bersama keluarga juga ada baiknya. Kalau semuanya bisa berjalan sebaik, alangkah jauh lebih baik," timpal Bunda Ervita.
__ADS_1
Irene menganggukkan kepalanya. Dia sedih sebenarnya. Namun, setiap orang juga harus bertanggung jawab untuk keputusan yang sudah dia ambil.
"Ante Iyene, pulang lagi ke Jogja yah," kata Sadewa yang menatap Irene.
"Iya, Mas Sadewa. Enam bulan lagi, semoga Ante bisa pulang ke Jogja. Mas Sadewa dan Mas Nakula tidak ingin jalan-jalan ke Jakarta dan melihat Monas?" tanya Irene.
Sadewa pun justru menggeleng beberapa kali. "No, Ante ..., No. Sadewa mau lihat Candi aja," balasnya dengan menunjukkan ekspresi wajah yang lucu.
"Main ke Jakarta, Mas ... tengokin Ante," balas Irene.
"Ante, Mama da dedek," kata Nakula.
"Ho-oh, Ante. Mama da dedek, di rumah aja," balas Sadewa yang menyentuh perut Mamanya.
Cukup lama Si Kembar berinteraksi dengan Ante Irene. Hingga terdengar pemberitahuan bahwa penumpang pesawat udara dari Jogja menuju ke Jakarta dipersilakan berada di ruang tunggu. Irene pun berpamitan dengan keluarganya.
"Ayah dan Bunda, sudah waktunya Irene masuk ke dalam. Doakan Irene selalu. Irene percaya doa kedua orang tua akan selalu menerangi langkah kaki, Irene," katanya.
"Aamiin ..., Allah senantiasa menuntun kamu, menerangi langkah kakimu. Jangan tinggalkan Sholat, selalu lakukan yang baik dan benar," balas Ayah Pandu.
Irene menganggukkan kepala lagi. Tentu dia akan terus melakukan nasihat dari kedua orang tuanya. Irene memeluk keluarganya satu per satu. Berpamitan dengan Ayah, Bunda, Mbak, dan Mas Iparnya.
"Sehat-sehat yah, Mbak Indi. Kalau nanti baby twins 2.0 lahir jangan lengah."
"Kamu juga sehat selalu yah, Dek. Selalu kabarin kalau ada apa-apa."
__ADS_1
Hingga akhirnya, Irene benar-benar berpamitan. Dia peluk lagi Ayah dan Bundanya. Selalu saja kangen dengan orang tuanya dan momen kebersamaan dengan keluarga. Di dalam hatinya Irene mengatakan bahwa dia akan mengganti waktu ini di liburan berikutnya. Meluangkan waktu bersama dengan orang tua dan keluarga Kakaknya. Akan memprioritaskan keluarga terlebih dahulu, semoga saja itu akan terwujud di liburan semester selanjutnya.