
Selang beberapa hari kemudian, Satria tengah duduk bersama dengan Indi. Pria itu tampak mengusapi rambut panjang Indi yang sampai ke pinggang. Menurut Satria, rambut istrinya itu sangat panjang. Hitam, lebat, dan panjang. Hingga, tiba-tiba Satria berbicara kepada istrinya itu.
"Sayang, rambut kamu sepinggang ini enggak kepanjangan yah? Panjang banget loh ini," kata Satria.
"Iya, memang panjang, Mas. Ini enggak seberapa, waktu aku SMP pernah lebih panjang dari ini," kata Indi.
Yang dikatakan Indi benar adanya karena sewaktu SMP, rambu panjangnya pernah hampir se pantat, itu paling panjang yang pernah Indi ingat. Satria sampai geleng kepala sendiri mendengarkan cerita istrinya itu.
"Kalau dipotong bagaimana, Sayang? Dipendekin aja," tanya Satria.
"Gak suka cewek rambut panjang yah Mas?" tanya Indi.
"Bukan begitu, aku cuma ingin kamu lebih fresh saja, Sayang. Gak usah pendek-pendek, sepunggung aja," kata Satria.
Tangan Satria bergerak lagi dan menyentuh bagian punggung Indi. Mungkin memberikan petunjuk rambutnya sepanjang itu saja. Bukannya tak menyukai rambut panjang, Satria hanya ingin melihat istrinya itu lebih fresh saja.
"Dulu pernah ditawar orang loh, Mas ... ada yang mau beli rambutku. Katanya untuk buat sanggulan atau rambut pasangan gitu, tapi gak mau. Dibayar mahal dulu," kata Indi lagi.
"Emangnya bisa?" tanya Satria bingung.
"Iya, katanya untuk membuat hair extension itu kalau dari rambut asli hasilnya lebih baik. Selain itu bisa didonasikan untuk mereka yang terkena kanker. Kadang efek kemoterapi kan membuat rambut rontok. Bahkan ada yang sampai botak, jadi disambung. Di beberapa Rumah Sakit dan Rumah Kanker menerima donasi rambut," kata Indi.
Sekarang barulah Satria tahu karena cerita dari istrinya itu. Kemudian Satria mengutarakan permintaannya. Mungkin ini aneh, tapi Satria merasa bahwa perlu berbicara dengan Indi terlebih dahulu.
"Mau enggak potong rambut kamu, Sayang?" tanya Satria.
"Hm, dipotong? Kenapa dulu dong?" tanya Indi lagi.
"Gak apa-apa. Pengen lihat kamu lebih fresh saja. Yah, sepanjang ini sudah sangat cantik. Cuma mencoba sesuatu yang baru kan enggak apa-apa. Jangan marah dulu, aku cuma meminta, tidak harus kamu lakukan," balas Satria.
Yah, walau Satria meminta, tapi apa yang dia minta tidak harus dilakukan. Yang penting sih Indi merasa nyaman saja.
__ADS_1
"Permintaan kamu aneh deh, Mas. Tumben, nyuruh aku potong rambut," kata Indi.
"Gak tahu juga, Sayang. Atau jangan-jangan kamu mau hamil kali, aku yang ngidam. Yang meminta aneh-aneh," balas Satria dengan terkekeh geli.
Indi juga tertawa, bisa-bisanya suaminya berbicara seperti itu. Akan tetapi, Indi akan mempertimbangkannya. Selain itu, Indi hanya ingin sekadar bertanya kepada Bundanya saja.
...🍀🍀🍀...
Selang Beberapa Hari ....
Sore ini Satria menjemput Indi pulang dari tempat kerjanya, Satria sudah bersiap di luar kantor konsultasi Interior desain dan masih menunggu Indi pulang. Biasanya, memang Satria yang menunggu sehingga Indi baru keluar ketika sudah melihat mobil suaminya.
"Nungguin lama, Mas?" tanya Indi sekarang kepada suaminya.
"Enggak, gak lama kok. Pulang sekarang?" tanya Satria.
"Antar aku ke salon bisa, Mas? Kalau enggak capek," tanya Indi.
"Bukannya beberapa hari yang lalu ada yang pengen istrinya tampil baru lebih fresh. Jadi enggak?"
Mendengarkan ucapan Indi, Satria tersenyum. Itu artinya Indi sudah bersedia untuk potong rambut. Tidak menunggu lama, Satria segera menganggukkan kepalanya.
"Buat Roro Ayu apa sih yang enggak," balasnya.
Akhirnya, Satria mengantar Indi ke sebuah salon kenamaan yang ada di sebuah mall. Di sana Satria menunggu dengan tenang, sesekali bermain handphone. Dia tahu kalau wanita sedang mengunjungi salon itu pastinya akan lama. Oleh karena itu, Satria juga belajar bersabar. Toh, yang meminta Indi untuk potong rambut juga dia sendiri.
Hampir satu setengah jam Indi selesai, Satria itu tampak terpukau dengan istrinya itu. Rambut yang semula sepanjang pinggang, kini dipotong se punggung. Ada poni juga yang sengaja Indi buat. Biar lebih fresh dan lebih muda.
"Sudah, Mas," kata Indi dengan senyum-senyum sendiri menatap suaminya.
"Putrinya Yayah Pandu, cantiknya," puji Satria.
__ADS_1
"Jadi, kalau istrinya Mas Satria gak cantik?" tanya Indi dengan sedikit manyun.
"Ayu, Sayang. Cantik banget. Benar kan, kamu jadi semakin cantik," balas Satria.
Usai itu, Satria berdiri dan membayar ke kasir untuk potong rambut dan perawatan lain yang Indi lakukan di salon. Sebenarnya Indi ingin membayar sendiri, tapi Satria menolak. Satria mengatakan biar dirinya saja yang membayari Indi.
"Mampir makan sekalian yah, Sayang. Aku lapar," keluh Satria yang sudah merasa lapar.
"Iya, Mas. Biar begitu tiba di rumah bisa istirahat," balas Indi.
Akhirnya keduanya memilih untuk mencari restoran sesuai selera mereka. Menikmati makan berdua, sehingga di rumah yang pastinya sudah malam hanya tinggal istirahat saja.
"Kok kamu tiba-tiba mau potong rambut?" tanya Satria.
"Ya, seperti perkataannya Mas Satria. Sapa tahu habis ini hamil. Lagian kalau hamil dan melahirkan nanti gak punya waktu untuk mengurusi rambut juga, Mas," kata Indi.
"Siap punya baby, Sayang?" tanya Satria.
"Siap menikah ya siap memiliki anak, Mas. Sejak malam pertama itu harus siap. Kan dikeluarkan di dalam. Jadi, kan harus bersiap dengan segala kemungkinan yang ada," balas Indi.
Mendengarkan jawaban Indi, Satria menganggukkan kepalanya. Dia setuju dengan apa yang baru saja Indi sampaikan. Benar adanya memang harus bersiap, Satria juga berharap tidak lama lagi kebahagiaan itu akan menambah kebahagiaan keduanya.
"Setuju, Sayang. Aku juga siap kok kalau punya baby. Toh, kita juga gak menunda sama sekali kan?"
"Iya, tapi menunggu saja sedikasihnya Tuhan yah, Mas. Kan kita manusia hanya bisa berusaha, tapi yang mengabulkan semua kan Allah," balas Indi.
"Siap, Sayangku. Yah, banyakan usaha dan ikhtiar, Sayang. Biar Allah percayakan keturunan yang sholeh dan shalehah kepada kita berdua," balas Satria.
"Aamiin."
Indi mengaminkan apa yang disampaikan suaminya. Sudah menikah hampir tiga bulan juga. Memang tidak bermaksud menunda, tapi mereka memilih menunggu waktu ketika Allah akan mengabulkan doa mereka.
__ADS_1