
Masih menindih tubuh Indi, dengan kedua tangan menahan bobot tubuhnya sendiri. Satria menatap Indi yang masih memejamkan matanya, pemuda yang kini sudah menjadi pria itu mengecup kening Indi sesaat.
Cup.
"Aku cinta kamu, Sayang," katanya.
Indi membalas dengan memeluk suaminya itu. Seolah Indi sendiri kehabisan kata-kata. Dia hanya ingin memeluk suaminya itu dengan erat. Jika membuktikan cinta, Indi sudah memberikan mahkotanya hanya untuk Satria saja.
"Sakit banget yah?" tanya Satria.
"Iya, sakit," balas Indi.
Satria memahaminya karena memang ada darah tadi. Tanda bahwa selaput yang ada di dalam sana terkoyak. Selain itu, menjadi bukti bahwa dialah satu-satunya dan pertama untuk Indi. Pun, sama dengan Satria yang baru kali ini merasakan kenikmatan Swargaloka yang indah dan penuh cahaya.
"Mau minum dulu? aku ambilkan minum," tawar Satria.
"Iya, boleh," balas Indi.
Satria beringsut, pria itu masih polos maksimal dan mengambilkan air minum untuk Indi di atas nakas. Sementara Indi masih malu, dia menyembunyikan wajahnya, belum terbiasa dengan momen seperti ini. Sementara, kenapa suaminya sudah percaya diri dan tidak ada rasa malu.
"Mas, pake celananya," kata Indi dengan menunjuk celana suaminya yang ada lantai.
"Nanti sekalian, kita mandi dulu usai ini," kata Satria.
Satria duduk di tepi ranjang, dia membantu Indi untuk minum. Sementara Indi sudah menarik selimut dan menyembunyikan dirinya. Sebab, Indi sangat malu jika Satria sampai melihatnya. Bagaimana pun, dia belum terbiasa.
"Makasih, Mas," kata Indi usai meminum air putih yang diambilkan Satria.
"Iya, tenang dulu, Sayang. Habis ini kita mandi. Gerah yah, padahal ACnya sudah 19," kata Satria. Pria itu memperhatikan angka suhu ruangan yang berada di AC yang ada di kamar Indi.
Suhu 19 tentu sudah dingin, tapi Satria merasa gerah dan masih berkeringat. Sementara Indi lagi-lagi diam. Dia malu, dan melihat sekeliling kamarnya. Sungguh, Indi tak menyangka akan melakukan malam pertama di kamarnya.
"Mas Satria mandi dulu aja," kata Indi kemudian.
"Kamu?"
"Aku belakangan saja," balas Indi.
"Barengan gak bisa?"
"Malu," jawab Indi.
__ADS_1
"Aku sudah lihat semuanya. Cantik banget kamu, Sayang," balas Satria.
Bagaimana tak cantik, kalau Indi memiliki tubuh yang bagus dan pinggang yang ramping. Walau tidak terlalu tinggi, tapi memang Indi cantik. Kulitnya yang kuning langsat dan rambutnya yang hitam dan panjang sepinggang.
"Mas, udah ... malu," balas Indi.
"Yuk, mandi yuk ... biar kita bisa tidur dan istirahat," ajak Satria.
Namun, Indi menggeleng, dia menolak masih malu. Satria tak tinggal diam, dia menyingkap selimut istrinya dan kemudian mengendong Indi ala bridal style ke dalam kamar mandi. Tidak ada bath up di dalam kamar Indi, yang ada hanya shower box.
"Barengan yuk," ajak Satria lagi.
"Mas, jujur ... ada cermin sebesar ini di dalam kamar mandi. Satu-satunya dulu yah," pinta Indi.
Akhirnya Satria menunggu di luar sesaat. Dia biarkan Indi menggosok gigi dan mencuci wajahnya. Setelah itu, Indi masuk ke dalam shower box dan merasakan percikan air hangat dari shower yang mengalir. Air hangat yang membuat tubuhnya jauh lebih enak. Namun, baru beberapa menit Indi berdiri di bawah Shower, Satria sudah menyusul. Pria itu mendekap tubuh Indi dari belakang, dan kedua tangannya meremas perlahan bulatan indah sang istri.
"Mas ...."
Indi memekik karenanya. Tidak menyangka bahwa suaminya tiba-tiba menyusulnya. Indi sampai terkaget. Namun, di satu sisi Satria tersenyum.
"Kaget?" tanyanya.
"Iya, kamu ngagetin."
Namun, itu hanya sekadar mandi bersama. Walau jujur, Satria sangat terpukau dengan keindahan istrinya itu. Akan tetapi, Satria tidak akan melakukannya lagi. Dia tahu milik istrinya pastilah sakit karena tadi jelas-jelas dia melihat darah di sana.
Usai mandi, Indi mengeringkan rambutnya yang panjang. Dia menggunakan hair dryer untuk mengeringkan rambutnya. Sembari mengaplikasikan beberapa serum di wajahnya. Setelahnya, Indi membereskan pakaian kotor mereka. Sementara Satria duduk di tepi ranjang dan mengamati istrinya yang memang rajin dan menjaga kebersihan itu.
"Sudah selesai semuanya," kata Indi dengan tersenyum.
"Kamu rajin banget," pujinya.
"Kalau gak bersih gak bisa tidur, Mas," balas Indi.
"Biasanya Ayah dan Bunda bangun jam berapa, Sayang?" tanya Satria.
"Pagi, Mas. Bunda jam 05.00 sudah bangun kok," balas Indi.
"Baiklah, aku akan menyesuaikan. Malu kan kalau menantu bangun kesiangan," balas Satria.
Indi tersenyum, "Mas Satria biasa bangun siang?" tanyanya.
__ADS_1
"Enggak, sholat subuh sudah bangun, tapi biasanya nanti bobok lagi sebentar," balasnya.
"Oh, yah besok aku bangunin saja. Kita bobok sekarang?" tanya Indi.
"Sini, aku peluk. Makasih banyak yah. Aku janji, tidak akan meninggalkan kamu. Selamanya Satria hanya untuk Indira. Selalu," katanya.
Mendengarkan Satria berbicara demikian, Indi menganggukkan kepalanya. Dalam rumah tangga yang belum sempurna ini, tidak banyak hal yang Indi minta. Dia hanya ingin kehidupan rumah tangga yang rukun, adem ayem, seperti rumah tangga Ayah dan Bundanya.
"Pernikahan kita ini lebih dari indah, Sayang. Bukan akhir perjuanganku, tapi memberiku lecutan semangat untuk terus berjuang. Dukung aku yah," balas Satria.
"Pasti, Mas. Aku akan mendukung Mas Satria selalu," balas Indi.
"Makasih, Sayang. Kamu mau bulan madu ke mana? aku dapat cuti seminggu dari kantor. Kalau mau jalan-jalan bulan madu bisa," kata Satria.
Indi tersenyum, sebenarnya dia tidak memikirkan bulan madu. Sebab, dia harus segera menyelesaikan Oemah Jamu Sido Mulya dengan segera. Hanya tinggal satu setengah bulan saja.
"Senin nanti aku sudah bekerja tuh, Mas. Oemah Jamu milik Rama harus segera diselesaikan. Kalau bulan kita undur satu setengah bulan lagi gimana? Aku fokus mengerjakan ini dulu," tanya Indi.
"Baiklah. Butuh bantuanku enggak?" tanya Satria.
"Belum butuh," balas Indi.
"Ya sudah, seminggu ini aku bantu Bunda jualan batik aja. Toh, aku juga cuti itu. Aku akan kenalan dan lebih dekat dengan mertua dulu. Biar jadi menantu kesayangan," balas Satria.
"Ayah dan Nda itu adil, Mas. Nanti kalau Irene lepas masa lajang juga pasti suaminya disayang. Ayah dan Nda tidak membedakan mana anak sendiri dan mana anak menantunya. Keduanya sama-sama disayang," balas Indi.
Satria menganggukkan kepalanya. Dia sudah tahu sebenarnya. Terlihat dari kasih sayang kedua orang tua Indi yang sangat sayang dan tidak membedakan Indi dan Irene. Sungguh, itu adalah cerminan yang sangat bagus.
"Bagus, Sayang," balas Satria.
"Panggilan kamu sejak tadi berubah, Mas? Biasanya panggilnya kan Dik," tanya Indi.
"Iya, berubah. Jadi Sayang saja. Mau panggilan apa? yang unik juga boleh," tanya Satria.
"Aku belum terbiasa," balas Indi.
"Mau dipanggil Dinda ya aku panggil Dinda," balas Satria.
Dengan cepat Indi menggelengkan kepalanya. "Jangan, itu panggilan sayangnya Yayah ke Nda kok," jawab Indi.
"Iya, Nda ... itu dari Dinda," balas Indi.
__ADS_1
Pasangan muda itu tertawa bersama tidak mengira bahwa ada kehangatan dan romantisme yang terjadi di antara pasangan yang sudah berpuluh-puluh tahun membina rumah tangga. Kehidupan rumah tangga yang semarak. Di dalam hati, Satria juga menginginkan rumah tangga yang seperti itu.