Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Tidak Terusik


__ADS_3

Menjelang siang, Satria mengajak Indi ke salah satu Mall yang ada di kota Solo. Kali ini tidak ada tujuan khusus, tetapi Satria ingin membelikan sesuatu untuk Indi. Entah itu, skincare, make up, atau pakaian dinas. Siapa tahu Indi membutuhkannya. Jikalau tidak, yah sekadar jalan-jalan dan membeli jajanan pun tidak menjadi masalah.


"Ke Mall mana, Mas?" tanya Indi kepada suaminya itu.


"Solo Paragon, Sayang. Ada beberapa brand terkenal yang hanya ada di sana. Siapa tahu, kamu ingin beli sesuatu. Sejak jadi suamimu, rasanya aku belum membelikan apa pun," kata Satria.


"Semua barang dari seserahan saja bisa dipakai, Mas. Enggak beli. Mana kamu memberikan seserahan sendiri, terus Rama juga memberikan. Seserahannya menjadi dobel loh," balas Indi.


Seserahan lengkap mulai dari mahar pernikahan berupa uang dan perhiasan. Sementara ada personal care lengkap, sepasang sandal dan sepatu, tas, hingga pakaian luar dan dalam. Dengan seserahan yang dobel, Indi memang tidak membeli apa pun. Memakai yang diberikan suami dan mertuanya terlebih dahulu.


"Ya, sudah ... jalan-jalan saja. Kalau pengen sesuatu bilang saja, Sayang," kata Satria.


"Siap, Mas ... aku saja mahar pernikahan sampai dapat dua loh, Mas. Mana sama Ayah dan Bunda diberikan ke aku. Katanya untuk kita berdua saja," cerita Indi.


"Ya sudah, bawa saja, Sayangku. Kan memang harus dibedakan mahar nikah dan seserahan. Mahar itu bersifat sesuatu yang bernilai seperti logam mulia, uang tunai, dan bisa juga hewan ternak. Mahar memang hak pengantin wanita," kata Satria.


Apa yang Satria sampaikan memang benar adanya. Mahar pernikahan itu adalah sesuatu yang bernilai dan menjadi hak mutlak pengantin wanita. Jenisnya bisa berupa logam mulia, uang tunai, dan hewan ternak. Walau begitu dalam memberikan mahar tidak memberatkan pihak pengantin pria. Boleh didiskusikan bersama. Mahar juga tidak berlebihan tidak masalah, asal tetap memiliki nilai.


"Kok kamu pinter banget sih, Mas," kata Indi.


"Suaminya sapa dulu. Kan kadang di kajian dijelasin tuh, Sayang. Aku kan yah cuma belajar aja. Kalau Ayah dan Bunda menyerahkan ke kamu ya secara Hukum Islam itu benar adanya kan untuk pengantin wanita, haknya begitu. Justru aku salut ke Ayah dan Bunda," jawab Satria sekarang.


Beberapa saat berkendara, akhirnya mereka tiba di Mall Solo Paragon. Sebenarnya ini bukan kali pertama Indi mengunjungi Mall ini. Sekali lagi, kota Solo bukan tempat yang asing untuk Indi. Sehingga beberapa tempat sudah pernah dia datangi.

__ADS_1


"Pernah ke sini sebelumnya?" tanya Satria.


"Pernah dong, Mas," balas Indi.


"Sini, tangan kamu. Roro Ayu harus digandeng Mas Satria, biar gak hilang," kata Satria.


Indi terkekeh geli jadinya mendengar ucapan suaminya itu. Terdengar lebay, tapi Indi nyatanya tak keberatan mana kala Satria menggenggam erat tangannya. Jari-jari saling bertaut dan Indi merasa lengkap dan nyaman kala tangan suaminya menggenggamnya.


"Kalau kamu gandeng tanganku sekuat ini, pastinya aku gak akan hilang kok, Mas. Bertaut selamanya sama kamu," balas Indi.


Memasuki area Mall itu, seperti kebanyakan wanita pada umumnya Indi mengajak suaminya untuk melihat-lihat area store seperti store baju, make up, bahkan boneka yang lucu. Sekadar melihat saja. Untungnya Satria sabar dan mau menemani Indi kemanapun.


"Beli pakaian dinas, Sayang," bisik Satria.


Kala itu keduanya memang hendak melewati store pakaian dinas. Hanya ide nakal Satria saja. Walau, sebenarnya dengan pakaian dinas atau enggak, juga tidak bermasalah sama sekali.


Melihat Satria dan Indi, wanita itu pun berdiri dan kemudian menyapa. Masih sama seperti biasanya, dia menunjukkan bagaimana dia lebih cantik dan mempesona dibandingkan dengan Indi.


"Ck, bertemu penganten yang baru dapat restu di sini. It's so amazing," katanya.


Ya, itu adalah Karina. Putri Atmaja yang sebenarnya ingin dijodohkan Rama Bima dengan Satria. Sosok yang sengaja menata kotak dan panel kayu setinggi mungkin agar rubuh dan menimpa Rama Bima. Sayangnya, justru Indi yang menyelamatkan Rama Bima kala itu.


Satria tampak tenang seperti biasa. Dia hanya bersikap sewajarnya saja. Sementara Indi justru tersenyum. Toh, Indi tak terpengaruh sama sekali dengan ucapan Karina.

__ADS_1


"Gak berani jawab kan? Emang kalian itu pasangan berbeda kasta," kata Karina lagi.


"Benarkah begitu Mbak Karina Atmaja? Yang katanya berpendidikan dan lulusan Belanda. Ck, aku kok heran digandeng pria bersuami," balas Indi.


Seketika Karina membelakakkan matanya. Tidak mungkin pria yang baru memasuki store arloji di sana adalah pria beristri. Bagi Karina, Indi hanya mengada-ada saja.


"Tutup mulut kamu itu, jangan beralibi!"


Tidak mau kalah, Indi menunjukkan profil pengusaha itu yang memang ada di mesin pencarian dan menunjukkannya kepada Karina. Wajah Indi serasa full senyum sekarang.


Skakmat!


"Jelas kan? Walau beda kasta, aku gak pernah jadi simpanan pria bersuami. Oh, kamu harus tahu, istrinya pasca melahirkan tiga bulan yang lalu. Jadi, kamu tega merusak pagar ayu? Gak punya malu," balas Indi.


Pagar ayu adalah kiasan rumah tangga milik orang lain yang sejatinya sudah bahagia dan harmonis. Sudah indah. Sayangnya ada pihak-pihak bahkan pihak ketiga yang ingin merusaknya.


Karina seakan ingin marah saat itu juga. Dia berkenalan dengan pengusaha itu tanpa bertanya latar belakangnya, menikmati kebersamaan berdua.


Indi kemudian berbicara kepada suaminya. "Yuk, belikan aku baju dinas itu, Mas. Yang banyak," kata Indi.


"Siap, Roro Ayu," balas Satria dengan tersenyum.


Sebelum beranjak pergi, Indi berbisik lirih kepada Karina lagi. "Mbak Karina yang keturunan ningrat dan terhormat, lain kali merah di lehernya dikasih foundation dulu. Bye Mbak Karina," kata Indi.

__ADS_1


Emosi Karina benar-benar menaik sekarang. Dia merasa mendapatkan tamparan beberapa kali dari Indi. Hasrat ingin merendahkan Indi, tapi justru dia yang kena getahnya. Hal itu membuat Karina sangat kesal. Sementara, Indi dan Satria justru sekarang melenggang dan terkekeh geli karenanya.


Niat mencemooh orang lain, justru Karina yang terkena sendiri. Sekali lagi membuktikan Indi tidak semudah itu Karina hancurkan. Indi pun terkesan cerdik dan bisa membalikkan arah anak panah yang semula tertuju kepadanya kemudian menimpa Karina sendiri.


__ADS_2