Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Tangisan Seorang Ibu


__ADS_3

Masih di Oemah Jamu sepeninggal Farel yang turun ke bawah, Satria kemudian menatap istrinya yang sejak tadi hanya diam. Rasanya Indi tak tertarik terlibat dalam obrolan itu. Satria sangat tahu karena sudah lama mengenal Indi, artinya istrinya itu memang kesal. Namun, bukan Satria namanya kalau tidak bisa memperbaiki moodnya Indi.


"Sudah, jangan cemberut terus. Kamu kesel banget yah?" tanya Satria.


"Hm, lumayan sih. Kekanak-kanakan banget sih. Kenapa enggak bisa memikirkan dari sisi yang lain bahwa mungkin saja Bapak sedih dan menyesal, dihibur dan dialihkan sedihnya. Malahan mengatakan faktanya seperti itu adanya," balas Indi.


Tetap saja Indi menilai bahwa Farel termasuk kekanak-kanakan. Padahal ada cara lain untuk mendapatkan perhatian dari Bapaknya sendiri. Satria pun menganggukkan kepalanya.


"Ya, benar sih ... mungkin saja Bapak menyesal. Secara sudah lama, anaknya tidak mengakuinya. Tidak jelas hubungan kalian itu bagaimana. Kalau aku di posisi Bapak, aku juga akan menyesal. Cuma, tidak boleh mengabaikan anak yang berada di rumah juga," kata Satria.


Sekarang Satria berusaha untuk mengatakan pandangannya sendiri. Bersedih dan menyesal boleh saja, tapi tidak boleh mengabaikan anak yang berada di rumah. Namun, bagaimana pun respons seseorang bertahap satu masalah yang terjadi juga beragam. Tidak bisa menyamakan satu dengan yang lainnya.


"Aku sendiri juga tidak tahu bagaimana, yang aku tahu sejak kecil kan ayahku cuma Ayah Pandu aja, Mas. Semua masa lalu tertutupi dan juga aku sungguh baru mengetahuinya ketika rencana pernikahan kita batal waktu itu," balas Indi.


"Pelik juga ya, Sayang ... ya sudah, jangan sebel lagi. Nanti cantiknya hilang loh," goda Satria.


Indi kemudian tersenyum. "Apaan sih, Mas. Gombalan kamu kayak anak ABG aja," balasnya.


Satria lega karena sudah bisa membuat istrinya itu kembali tersenyum. "Nah, senyum gitu. Mamanya Nang-Nang kalau senyum gitu kan tambah cantik."


"Kita malahan sekarang dapat kesempatan berdua lebih banyak loh, Mas. Bunda maunya mengasuh Nang-Nang, dan sering banget bantuin kita," kata Indi sekarang.


"Benar, Sayang ... katanya biar enggak kangen sama Irene dan sedih terus. Yah, gimana lagi, Yang," balasnya.


"Ya sudah, kalau sudah selesai ... kita pulang yah, Mas. Biar Nda bisa istirahat."


Satria kembali fokus mengecek pembukuan di Oemah Jamu. Sekaligus memberikan koordinasi untuk para karyawan yang ada di sana. Setelah itu, Satria mengajak istrinya itu untuk kembali pulang.


Turun ke bawah, dia melihat ada seperti perdebatan di tempat parkir. Walau sedikit terhalang mobil. Lalu, Satria mengajak Indi keluar. Rupanya sosok di luar sana adalah Yudha dan ibunya Bu Karti. Tanpa berniat menyela, Satria nyatanya seolah menolong Bu Karti yang saat itu nyaris jatuh tersungkur karena didorong oleh Yudha.

__ADS_1


"Astaghfirullahaladzim," kata Bu Karti dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


"Astaghfirullahaladzim," ucap Indi dan Satria bersamaan. Keduanya benar-benar tidak menyangka akan melihat Yudha dan Bu Karti di sana. Terlebih dengan Yudha yang tampak mendorong ibunya sendiri.


Terlepas dari penampilan ibunya yang sangat sederhana layaknya wanita desa, kulit yang cokelat seperti sawo matang, atau penampilannya yang tidak seperti orang kaya. Namun, tidak diperkenankan seorang anak melakukan tindakan seperti itu kepada ibunya sendiri.


"Yudha, kamu sudah keterlaluan," kata Satria.


"Ngapain kamu ikut-ikutan, Sat? Urusin aja dirimu sendiri dan istrimu yang tanpa nasab itu!"


Satria benar-benar tidak tahu harus memperlakukan Yudha seperti apa. Sebenarnya, Yudha pun juga tanpa nasab. Akan tetapi, Yudha sangat kasar dan justru menuding Indi dengan cara melukai perasaan Indi.


"Jaga mulutmu, Yud ... selama ini aku tenang bukan berani aku berani, melainkan aku tidak mau menyelesaikan masalah dengan kekerasan," balas Satria.


"Lalu, apa ... kamu mau memukulku? Ha, pukul aja kalau berani!"


"Apa? Aku tidak salah dengar? Den? Den apa?" tanya Yudha. Dia benar-benar tidak tahu ketika Bu Karti memanggil Satria dengan sebutan Den.


"Ibu ...." Satria berbicara dan menggelengkan kepalanya.


"Jangan-jangan kamu mengenal seorang petani ini yah?" tanya Yudha kepada Satria.


Deg!


Hati Ibu Karti sangat pedih rasanya. Anak yang dia lahirkan sendiri, dia perjuangkan, menahan aib pun Bu Karti lakukan. Rupanya, kini anak itu justru mengatainya seorang petani. Air mata Bu Karti tak bisa ditahan lagi. Ya, bulir bening itu membasahi wajahnya.


"Apa, mau menangis! Dasar petani miskin! Berani-beraninya mengakuiku sebagai anak. Tak tahu diri!"


"Hei, jaga mulutmu, Yud!"

__ADS_1


Satria tidak terima ketika ada seorang anak yang berkata sedemikian kasarnya kepada ibunya sendiri. Seorang ibu adalah wanita yang mulia. Walau dia hanya seorang petani dan miskin, tapi dari rahimnyalah seorang anak dikandung selama sembilan bulan dan dilahirkan. Sikap Yudha benar-benar durhaka.


"Apa? Jangan-jangan petani ini dulu batur di rumahmu yah?"


Sekarang tangan Satria benar-benar terangkat. Dia memukul wajah Yudha. Memang bukan dia atau Indi yang direndahkan. Namun, merendah Ibu sendiri rasanya sangat tidak beradab.


"Sialan kamu, Sat!"


"Apa, kamu mau membalasku? Lakukan saja, tapi aku akan menempuh jalur hukum, Yud. Kenapa malu mengakui? Ck, pria sampah!"


Satria saking kesalnya sampai berkata demikian. Dia merasa bahwa Yudha tak lebih dari seorang sampah saja. Tidak tahu sopan santun, dan malu mengakui ibunya sendiri.


"Den, sudah ... Den. Sudah," balas Bu Karti.


Yudha akhirnya pergi. Dia bergumam kesal dalam hatinya. Tidak hanya kepada Satria, tetapi juga kepada Bu Karti yang masih saja berusaha mengejarnya dan mengatakan bahwa dia adalah putranya.


"Sialan, mana ada aku anak seorang petani dan wanita miskin kayak dia!"


Yudha memukul stir di mobilnya. Dia sungguh-sungguh tak terima. Yudha dari keluarga berada dan dia sudah memiliki Mama dan Papa di rumah, sehingga mana mungkin ada wanita miskin yang mengaku-aku sebagai ibunya.


Sementara Satria dan Indi menolong Bu Karti terlebih dahulu. Indi bergegas membelikan air mineral terlebih dahulu untuk menenangkan Bu Karti. Tak lupa Indi mengambil tissue dan menyeka air mata Bu Karti. Pedih hatinya sekarang melihat seorang ibu yang menangis dalam ratapnya. Seorang ibu yang menangis karena perilaku putranya sendiri.


"Ibu ini jelek, miskin, tak berpendidikan tinggi ... sampai anak kandung Ibu sendiri tidak mau mengakui Ibu," kata Bu Karti dengan terisak-isak.


"Sabar Ibu ... sabar," kata Indi dengan merangkul Bu Karti.


Masih terisak-isak kemudian Bu Karti berbicara lagi. "Sekarang anakku sudah menjadi bagian dari orang kaya. Malu memiliki ibu perempuan desa seperti ini. Malu memiliki ibu yang hanya petani rendahan."


Indi dan Satria menghela napas panjang. Keduanya juga sedih, tapi bagaimana lagi kalau memang Yudha bersikap demikian. Yang bisa mereka lakukan sekarang adalah menenangkan Bu Karti terlebih dahulu. Berharap tangisan Bu Karti akan segera reda.

__ADS_1


__ADS_2