Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Waktu Berdua


__ADS_3

Menjelang sore hari, kabut dari Gunung Merapi seolah turun. Hari pun menjadi berkabut dan suasana menjadi lebih dingin. Satria yang memang mengalami kehamilan simpatik tampak mengucek hidungnya, rasanya hidungnya merasa tidak nyaman.


"Pilek, Mas?" tanya Indi.


"Kayak mau pilek, Sayang. Efek Pamil nih," balas Satria.


"Pamil?"


"Iya, Papa yang hamil. Kamu kan yang sehat," balas Satria dengan tertawa.


Indi malahan tertawa, sebenarnya dia kasihan dengan suaminya yang mengalami gejala kehamilan. Sementara dia sendiri malahan begitu sehat. Walau sebenarnya, Satria agak berkurang mual dan muntahnya di pagi hari.


"Maaf yah, Pa. Mungkin debaynya maunya begitu," balas Indi.


"Tidak apa-apa. Penting Mama Indira dan Twins sehat selalu."


Usai itu, mereka memandikan Nakula dan Sadewa terlebih dahulu. Memang sengaja tidak memandikan keduanya terlalu sore supaya keduanya tidak kedinginan.


"Ujan, Maa ... ujan," tunjuk Nakula ke jendela di dalam kamar hotelnya. Memang di luar sana turun hujan.


"Gerimis itu, Mas Nakula."


"Gelimis bukan ujan?" tanya Sadewa yang tiba-tiba menyahut.


Indi tersenyum karena putranya itu sangat kritis. Selain itu, Sadewa juga banyak bertanya. "Gerimis itu hujan juga, Mas Sadewa. Cuma tidak begitu deras. Rintik-rintik. Air yang jatuh dari langit itu kan rintik-rintik," jelas Indi.


"Rintik-rintik ... tik-tik, Ma," balas Sadewa.


"Benar. Tik-tik bunyi hujan di atas genting," balas Indi.


Satria tersenyum mengamati kedua putranya yang memang begitu banyak bertanya ini dan itu. Kadang mereka memerlukan banyak penjelasan. Untung saja Indi adalah Mama yang sabar dan juga selalu menjelaskan pertanyaan anak-anaknya.


"Di sini dingin, Mama," kata Nakula kemudian.


"Benar, Mas Nakula. Di sini kan di gunung, udaranya lebih dingin. Kalau di rumah kita, di rumahnya Eyang itu di kota, lebih panas di sana," jawab Indi.


"Oh ... gitu, tapi cuka juga," balas Nakula.


Selesai memandikan dua putra kembarnya, Satria membuatkan susu hangat untuk Nakula dan Sadewa. Memang sudah menjadi kebiasaan Nakula dan Sadewa setiap kali usai mandi akan meminum susu. Sekarang pun sama, mereka duduk di ranjang sembari menonton kartun dan minum susu hangat.

__ADS_1


"Kalau gerimis gini, palingan kita cuma bisa pesan makan di hotel dong, Ma," kata Satria.


"Iya, Papa sudah lapar yah?" tanya Indi.


"Belum sih. Aku belum lapar kok. Kan harus menyuapi anak-anak dulu," balas Satria.


Indi menganggukkan kepalanya. Benar, mereka harus segera menyuapi Nakula dan Sadewa terlebih dahulu. Udara dingin dan gerimis bisa membuat kedua putranya itu mengantuk. Oleh karena itu, Satria berinisiatif mengajak istri dan anak-anaknya ke restoran yang ada di hotel, menyuapi Nakula dan Sadewa dulu.


"Ajak Ayah dan Bunda sekalian kalau mau, Ma," kata Satria.


"Oke, Mas ... aku telepon sebentar."


Sebelum Indi menelpon, Sadewa justru bertanya kepada Mamanya lagi. "Mas Papa yah, Ma? Itu Papa, Ma ... bukan Mas. Ini Mas Nakula dan Mas Sadewa," debatnya.


Dalam pemahaman Sadewa, Papa adalah Papa. Bukan Mas. Yang menjadi Mas adalah dirinya dan Nakula. Indi kemudian tertawa dan mengusapi puncak kepala putranya itu.


"Maafkan Mama yah. Iya, Mas Sadewa. Yang Mama maksud itu adalah Papa," balasnya.


Indi pun belajar bahwa Nakula dan Sadewa dalam fase mengenal peran. Dia tahu mana Mama, Papa, Eyang, Ante, atau yang lainnya. Oleh karena itu, Indi harus membiasakan memanggil suaminya dengan panggilan Papa kalau di hadapan Nakula dan Sadewa mulai sekarang.


"Oke Mama."


"Sudah pada mandi?" tanya Bunda Ervita.


"Udah, Eyang Nda. Mas Nakula dan Mas Sadewa sudah mandi," balas Indi.


"Benar, disuapin dulu. Takutnya nanti mereka mengantuk. Udaranya soalnya dingin."


Akhirnya Indi menyuapi kedua putranya terlebih dahulu. Sementara Satria memesan Wedang Uwuh, supaya dia tidak terkena pilek. Sembari mengobrol juga dengan mertuanya dan adik iparnya.


"Ma, Nakula anti bobok sama Eyang boleh?" tanya Nakula.


"Sadewa juga, Ma."


Justru Nakula dan Sadewa sekarang ingin bobok dengan Eyangnya. Indi belum menjawab, karena memang sebaiknya Nakula dan Sadewa tidak perlu bobok dengan Eyangnya.


"Boleh aja, Mama dan Papa biar berdua dulu," kata Bunda Ervita.


"Nanti penuh bed-nya loh, Nda," balas Indi.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Kalian menikmati waktu berdua dulu. Enggak tiap hari juga kan."


Akhirnya usai makan, justru Nakula dan Sadewa mengikuti Eyangnya. Sementara hanya Indi dan Satria yang kembali ke kamar. Tampak Satria tersenyum begitu sudah masuk ke dalam kamar.


"Kenapa senyam-senyum, Mas?" tanya Indi.


"Bisa berduaan sama kamu dulu, Sayang," balas Satria.


"Ah, pasti modus deh," balas Indi.


"Memanfaatkan waktu, Sayang. Mumpung Nakula dan Sadewa bobok sama Eyangnya," balas Satria.


Sebenarnya keduanya juga tak merencanakan. Lebih memilih menikmati semuanya dengan Nakula dan Sadewa juga. Tidak ingin kehilangan waktu bonding dengan Nakula dan Sadewa, terlebih sebelum bayi kembarnya lahir nanti.


"Peluk dulu, Sayang," kata Satria sekarang.


Indi menganggukkan kepalanya. Dia berjalan mendekat ke suaminya, dan kemudian memeluk suaminya. Dia mendekatkan wajahnya di dada suaminya, dengan kedua tangan yang melingkari pinggang suaminya itu. Pun dengan Satria yang memeluk Indi dengan begitu eratnya.


"Kangen kamu," kata Satria.


"Padahal sudah bersama seharian," balas Indi.


"Tetap saja kangen. Kalau malam ini, kita melepas rindu boleh enggak, Sayang?" tanya Satria.


Dia tidak ingin terburu-buru. Lebih baik bagi Satria bertanya dulu kepada istrinya. Mumpung ada waktu yang bisa dihabiskan oleh keduanya bersama. Sembari menikmati momen baby moon tentunya.


"Ya boleh aja, penting hati-hati, Mas. Kan di sini ada baby twins kita," balas Indi dengan mengusap perutnya.


"Kalau itu sih pasti, Sayang. Setiap kali kamu hamil kan, aku lebih berhati-hati. Tidak sepenuh tenaga, kamu juga tahu itu," balas Satria.


"Iya, Papa. Aku sangat tahu kok," balas Indi.


"Ya sudah, nanti malam aja. Sekarang kan masih terbilang sore, takut kalau Ayah, Bunda, atau Irene tiba-tiba mengetuk pintu kamar hotel kita. Walau Nakula dan Sadewa sudah bersama Eyangnya, kita harus mencari waktu yang tepat juga," kata Satria.


"Setuju, Mas. Jangan sampai panik sendiri," balas Indi.


Satria menganggukkan kepalanya. "Makanya itu, kalau panik, aku malahan ambyar, Sayang. Mau menikmati waktu berdua aja sama kamu kok."


Mendengarkan Satria, Indi malahan tertawa. Dia memberikan cubitan kecil di pinggang suaminya. Walau begitu, yang disampaikan oleh Satria juga sah-sah saja. Kalau panik, semuanya justru bakalan Ambyar. 😆

__ADS_1


__ADS_2