
Sore itu kediaman Satria dan Indi begitu penuh dan ramai tentunya. Semua itu karena kedatang Eyang Rama, Eyang Ibu, Eyang Nda, dan Eyang Pandu. Juga tawa Nakula dan Sadewa yang terdengar begitu riang. Para Eyang pun senang bisa berkumpul di Jogja saat hari ulang tahun kedua cucunya itu.
Sebenarnya memang tak ada perayaan ulang tahun, tapi memang para Eyang selalu berkumpul di rumah Indi dan Satria ketika cucunya berulang tahun. Sekadar memberikan kue dan memberikan hadiah. Seakan ini sudah menjadi tradisi untuk keluarga itu.
Sama seperti tahun ini, para Eyang kompak memberikan kado mobil-mobilan yang bisa dinaiki. Tentu Nakula dan Sadewa senang sekali mendapatkan mobil mainan itu. Mereka menaikinya dan memainkan kemudinya. Merasa seperti Papanya yang sedang mengemudikan mobil sungguhan.
"Papa ... Mpa," kata Sadewa dengan menunjuk Sang Papa yang mengawasi kedua anaknya itu.
Satria tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Sadewa nyetir mobil sama seperti Papa?" tanya Satria.
"Ya ... ya, Mpa."
Semua yang ada di sana pun menjadi tertawa. Sekaligus melihat Sadewa dan Nakula yang sudah bisa berimajinasi. Seolah keduanya tahu kalau menyetir mobil itu akan seperi Papanya.
"Kalau Mama ngapain?" tanya Indi sekarang.
"Ndong, Ma ...."
Nakula menjawab dan meminta gendong Mamanya. Berarti yang terpikirkan oleh Nakula tentang Mamanya adalah Mamanya yang suka menggendong. Indi pun mengangkat putra kecilnya itu dan memangkunya.
"Makin pinter yah cucu-cucunya Eyang," kata Rama Bima.
Kedua bocah itu kompak menganggukkan kepalanya. Kemudian Sadewa turun dari mobil dan meminta pangku Eyangnya. Tentu saja Eyang Rama senang sekali bisa memangku cucunya itu.
"Itu hadiah dari Eyang semua untuk Nakula dan Sadewa. Kalau Nakula dan Sadewa pengen hadiah apa sebenarnya?" tanya Eyang Rama kemudian.
"Au Dedek," kata Sadewa mendahului Nakula.
"Hm, aby," kata Nakula.
__ADS_1
Wah, tawa para Eyang menggema di ruang tamu itu. Mereka merasa cucunya lucu dan pintar. Sudah tahu mana itu Adek Baby. Bahkan Nakula turun dan mengambil boneka, yang dikiranya Adek.
"Dek, Yang ...."
Rama Bima tertawa terbahak-bahak jadinya. Imajinasi cucunya itu kadang melampaui batas. Boneka disangkanga sebagai adek.
"Sudah ada permintaan dari Nang-Nang tuh, Mbak Indi ... mau adek. Kalau selisih tiga tahunan, ya nanti kurang dari usia empat tahun adik bayinya sudah lahir," kata Bu Galuh.
"Waktunya menambah momongan ini," balas Bunda Ervita.
Kalau Bunda Ervita sendiri sejak dulu sudah mendukung. Sejak Irene mulai bekerja di Jakarta. Bahkan sejak itu, Bunda Ervita selalu saja mau mengasuh Nakula dan Sadewa, untuk menyalurkan rasa rindunya kepada putri tercinta. Ketika ada Nakula dan Sadewa, rasa sedih itu bisa teralihkan. Kalau Indi memiliki momongan lagi, Bunda Ervita juga sudah berkata akan siap membantu untuk mengasuh nanti.
"Sedikasihnya. Sama seperti jawaban kami sebelumnya bahwa Indi dan Mas Satria kalau memang diberi lagi tidak menolak," jawabnya dengan mengulas senyuman.
"Kalau mengasuh jangan takut, Mbak. Nanti Bunda dan Ibu bisa bantuin. Nakula dan Sadewa menginap di Solo juga tidak apa-apa, biar Ibu dan Rama mengasuhnya," kata Bu Galuh.
"Jangan dibawa pulang ke Solo, Ibu. Nanti Indi sedih malahan," balas Indi.
Bu Galuh tersenyum. "Hati para ibu memang begitu, Mbak. Gak bisa berpisah dari anak-anak. Setelah memiliki anak, begitu membuka mata yang dipikirkan adalah anak. Perut masih kosong saja, yang dipikirkan pertama adalah mengisi perutnya anak-anak dulu. Ya sudah, nanti Ibu yang menginap di Jogja. Biar Ibu bisa bantuin kamu."
"Benar itu, Bu. Saya sudah merasakannya. Dulu, waktu Indi dan Irene itu masih kecil-kecil, paling gak bisa berpisah dengan keduanya. Malahan sekarang, Irene yang bekerja begitu jauh di Jakarta," cerita Bunda Ervita.
Di dalam hatinya rasa rindu kepada Irene kembali dibangkitkan, tapi harus kuat karena putrinya di Jakarta adalah bekerja. Ayah Pandu yang mendengarkan cerita istrinya juga tersenyum, sama sebenarnya orang tua paling tidak bisa jauh dari anaknya. Begitu juga dengan Ayah Pandu yang selalu rindu dengan Irene.
"Ya, kita doakan bersama biar Mbak Indi dan Mas Satria diberi momongan lagi. Kalau Allah kembali memberi, berarti Allah merasa bahwa Mbak Indi dan Mas Satria ini mampu dan dipercaya oleh Allah. Kita para Eyang biar kegiatannya bertambah. Tambah cucu, tambah sehat," kata Ayah Pandu.
"Benar sekali Pak Pandu. Tambah cucu, tambah sehat yah. Kegiatan makin beragam, hati tambah bahagia. Benar sekali Pak Pandu," balas Rama Bima.
Hingga malam suasana di rumah keluarga Indi dan Satria begitu ramai. Sampai akhirnya para Eyang berpamitan untuk pulang. Namun, keesokan harinya para Eyang sudah memiliki agenda piknik bersama, ingin mengajak cucu-cucunya ke Kebun Binatang yang berada di Kali Urang, Jogjakarta.
__ADS_1
Begitu para Eyang sudah pulang, Indi membersihkan kedua putranya dengan mencuci tangan dan kaki, serta gosok gigi terlebih dahulu. Setelah itu, Indi dan Satria sama-sama menidurkan Nakula dan Sadewa terlebih dahulu.
"Sudah malam, Nang ... sekarang bobok yah," kata Indi dengan mengusapi kening Nakula.
"Mma, De ... dek," kata Nakula.
"Nakula mau Adek?" tanya Indi lagi.
Rupanya Nakula menganggukan kepalanya. Ya, Nakula mengaku mau adek. Dia sendiri saja masih kecil, tapi sudah mau kalau memiliki adik lagi.
"Nakula dan Sadewa berdoa dulu sama Allah biar Allah memberikan adik di perutnya Mama. Kalau sudah punya Adik, harus saling sayang loh yah," kata Satria.
Anak kembar itu kompak menganggukkan kepalanya. Setelah itu, keduanya juga kompak memejamkan matanya, dan tak berselang lama Nakula dan Sadewa sudah tertidur. Waktu Indi dan Satria untuk menuju kamar mereka sendiri.
"Heran deh, darimana coba anak tiga tahun bisa minta adik?" tanya Indi dengan menggelengkan kepalanya.
"Otak anak juga berkembang, Sayang. Dia membaca buku, melihat chanel YouTube yang ada adik bayinya. Jadinya, ya tahu. Kan anak bisa belajar dan mendapatkan informasi dari mana saja. Mungkin juga waktu Posyandu melihat anak seumuran dia yang sudah memiliki adik, jadinya tahu," kata Satria.
Indi menganggukkan kepalanya. Benar yang disampaikan oleh suaminya bahwa anak bisa belajar dan mendapatkan informasi dari mana saja. Oleh karena itu, Nakula dan Sadewa mungkin saja mendapatkan pengetahuan tentang adik dari apa yang mereka lihat.
"Jadi, mau tambah momongan?" tanya Satria.
"Mas Satria sendiri gimana?"
Pasangan itu akhirnya tersenyum bersama. Masih lucu membayangkan putranya yang tiba-tiba meminta adik di hari ulang tahunnya. Ekspresi lucu dan polosnya seorang anak yang menginginkan adik kadang membuat orang tua tertawa sendiri.
"Anakku, anakku ... bisa-bisanya minta adik," kata Indi dengan geleng-geleng kepala.
Begitu juga dengan Satria yang tersenyum. Satria menyadari anaknya semakin besar, semakin banyak informasi dan pengetahuan yang mereka serap. Rasanya geli, tapi juga senang itu bukti Nakula dan Sadewa juga bertambah pintar.
__ADS_1