Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Cerita Traumatis


__ADS_3

Walau Satria mengelak dan mengatakan tidak apa-apa, Indi nyatanya justru kepikiran sendiri dengan suaminya. Yang Indi tahu bahwa trauma itu berkaitan dengan masalah mental dan harus segera diselesaikan. Selain itu, Indi tentunya tak segan untuk menjadi support sistem terbaik untuk suaminya.


Selang sehari kemudian, ketika Nakula dan Sadewa sudah tertidur, Indi bertanya lagi kepada suaminya itu.


"Mas, aku mau tanya boleh?"


Merasa bahwa Indi sedang serius sekarang, Satria kemudian menganggukkan kepalanya. Dia menunggu pertanyaan apakah yang hendak ditanyakan oleh istrinya itu. Walau begitu, Satria yakin bahwa itu adalah pertanyaan yang serius.


"Boleh, Mama Indira mau tanya apa sih? Serius banget," balas Satria.


"Hm, Mas Satria kemarin bilang trauma kan? Itu trauma apa? Mas bisa bercerita ke aku. Kita bisa mencari solusi bersama-sama. Menyelesaikan masalah bersama-sama," kata Indi sekarang.


"Kamu masih kepikiran, Sayang? Kan aku udah bilang, gak usah dipikirin," balas Satria.


"Ya pastinya kepikiran dong. Aku kan menjadi bertanya-tanya, apa yang membuat suamiku menjadi trauma," balas Indi.


Mendengarkan pertanyaan Indi, nyatanya Satria justru tersenyum. Satria malahan senang itu artinya istrinya perhatian kepadanya. Istrinya ingin menjadi orang yang mendengarkan ceritanya.


"Gak apa-apa, paling nanti juga sembuh sendiri kok," balas Satria.


"Mas Satria gak pengen cerita sama aku? Kan aku selalu ada untuk Mas. Sama seperti Mas Satria yang selalu ada untukku," balas Indi.


Satria terdiam beberapa saat. Namun, memang dia merasa sedikit takut dan mungkin saja menjadi trauma. Setelah beberapa saat diam, akhirnya Satria mengangguk perlahan.

__ADS_1


"Trauma melihat kamu melahirkan secara langsung. Aku baru tahu kalau bersalin itu sedramatis dan traumatis itu. Memori itu kayak terekam dan tersimpan di otakku. Ada kalanya, aku meringis sendiri kala terbayang-bayang waktu kamu bersalin," cerita Satria ini.


"Benarkah? Bukan berarti Mas Satria sudah tidak menginginkanku bukan?" tanya Indi.


Sekarang, Indi mengatakan itu dengan berlinang air mata. Ada ketakutan mana kala suaminya bisa saja tiba-tiba tidak menginginkannya lagi. Semua wanita pasca bersalin dalam keadaan emosi kurang stabil, terlebih dengan kondisi badan yang belum sempurna sama seperti Indi. Hamil mengalami lonjakan berat badan hingga 20 kilogram, tapi sekarang turun setengahnya saja belum.


Satria justru bingung melihat istrinya yang menangis. Sekarang, Satria yang berusaha menenangkan istrinya itu.


"Yang tidak menginginkan kamu itu siapa? Aku selalu menginginkan kamu ... lebih dari yang kamu tahu, Sayang. Sungguh," balas Satria.


"Lalu, kenapa kemarin pusing dan terus mengalihkan pembicaraan? Aku tahu, sekarang aku udah gak menarik lagi. Bahkan badannya juga belum turun dengan signifikan," balas Indi.


Satria menggeleng perlahan, dia seka perlahan buliran air mata di wajah istrinya. Sekarang, Satria akan benar-benar jujur dengan istrinya itu. Sebab, Satria juga tidak ingin kalau istrinya menjadi salah paham.


Sekarang Satria sudah berkata jujur dengan istrinya. Melihat satu demi satu proses bersalin sangat traumatis untuk Satria. Benar, menyambut bayi sangat bahagia, tapi melihat momen demi momen itu butuh tekad dan nyali yang besar.


"Aku cerita ke temanku di kantor yang pernah kuliah psikologi dulu kan. Katanya aku kena Post-natal Post Traumatic Stress Disorder (PTSD), trauma menyaksikan proses persalinan secara langsung," kata Satria lagi.


Indi berhenti menangis. Dia sekarang tidak menyangka bahwa suaminya bisa terkena trauma pasca melihat persalinan secara langsung. Apakah memang bersalin semengerikan itu?


"Kata temanku itu aku kurang persiapan mental. Ya, kurang persiapan mental menghadapi kejadian tak terduga dan di luar perkiraan. Memang proses pembukaan kamu terbilang cepat, tapi tetap saja aku menyaksikan semua. Kadang suara gunting itu masih terngiang-ngiang di telingaku, bayangan bayi kita yang satu-satunya putih bersih di antara darah, semua masih terbayang dengan jelas. Memang pria bisa juga mengalami itu kok."


Mendengar suaminya dengan sepenuh hati, sekarang Indi malahan merasa kasihan dengan suaminya. Bayangkan saja Nakula dan Sadewa sudah hampir dua bulan, tapi Satria baru bisa berbicara dengan jujur sekarang. Selama dua bulan, dan Satria menyimpan semua sendiri.

__ADS_1


"Lalu, bagaimana lepas dari trauma itu?" tanya Indi.


"Aku nanti akan membaik kok," balas Satria.


Kondisi yang Satria ceritakan bukan mengada-ada, melainkan Post-natal Post Traumatic Stress Disorder itu benar-benar ada. Kondisi ini bisa dirasakan dan dialami baik pria maupun wanita, hanya saja dengan gejala yang berbeda. Untuk wanita, sumber traumanya lebih banyak karena rasa sakit, nyeri, dan semua rasa sakit yang ditimpakan kala bersalin. Ada luka juga pasca persalinan. Sementara untuk pria, cenderung teringat dengan semua suasana, momen demi momen yang terekam dengan otaknya. Suamilah yang melihat semuanya secara langsung, jadi gambaran persalinan secara langsung itu direkam oleh otak pria.


Kondisi traumatis, pendarahan serviks, hingga kondisi istri yang tak stabil memicu munculnya trauma untuk seorang suami. Rupanya Satria juga mengalami itu. Post-natal PTSD ini akan memicu perubahan perilaku. Beberapa pria menjadi super sensitif dan khawatir dengan kondisi istri serta anak-anaknya.


Respons bisa diterima dengan baik karena suami berubah menjadi sosok yang sensitif dan lebih perhatian dengan istri dan anak-anaknya. Atau secara negatif, justru pria bisa berubah menjadi sosok yang acuh dan tidak perhatian dengan istri dan anaknya. Sementara untuk Satria sendiri, terlepas dari karakternya yang baik, Satria juga sangat peduli dan perhatian dengan Indi, Nakula, dan Sadewa.


"Akhirnya ... aku takut menyentuhmu. Semua diperburuk dengan suara gunting yang kembali terngiang di telingaku, juga Dokter mengatakan punyamu diobras waktu itu. Serem, Sayang," kata Satria lagi.


"Kalau Mas Satria mau sembuh atau ke psikolog, ayo aku temenin," balas Indi.


"Enggak, nanti aku juga akan sembuh kok. Aku sudah lebih membaik sekarang. Kamu jangan berpikiran aneh-aneh. Aku takut saja, kalau makin membuat sakit itu menjadi-jadi," kata Satria sekarang. Sekarang, Satria bukan sekadar menyeka air mata Indi, tapi pria itu juga mencubit hidung istrinya itu.


"Sakit ...."


"Habis, kamu ini berpikiran aneh-aneh. Walau aku begitu mendamba, aku lebih baik menahan dulu. Sampai kamu benar-benar pulih dan membaik," kata Satria.


"Aku sudah sembuh kok. Sepenuhnya," balas Indi.


Satria menganggukkan kepalanya perlahan, dia sekarang justru memeluk Indi. Membawa sang istri ke dalam pelukannya. "Sembuh dulu, gak usah terburu-buru. Cintaku bisa menunggumu, cintaku bisa mengendalikan hasrat yang kadang kala muncul dengan sendirinya. Intinya jangan berpikiran aneh, aku selalu cinta kamu."

__ADS_1


Di pelukan suaminya, Indi kembali berlinang air mata. Dia benar-benar merasakan cinta yang sangat besar. Cinta yang mau menunggu, cinta yang mau mengesampingkan hasratnya. Sungguh besar cinta yang Satria tunjukkan kepada Indi sekarang.


__ADS_2