Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Perubahan Mood


__ADS_3

Selang beberapa pekan kemudian, agaknya Satria mengalami perubahan mood. Pria itu sewaktu pulang dari kantornya wajahnya terlihat begitu lesu. Walau ketika diajak main Nakula dan Sadewa masih terlihat semangat, tapi kelesuan di wajah Satria tidak bisa sembunyikan. Beberapa kali si Papa muda itu tidak fokus dan juga ketika Nakula atau Sadewa bertanya justru tidak memberikan jawaban.


Akhirnya, Indi mendekati suaminya itu. Dia bertanya dengan lembut kepada suaminya.


"Kenapa Mas? Kamu sakit atau kecapekan? Kayak gak fokus gitu sih?" tanyanya.


"Kecapekan mungkin, Sayang. Sejak pagi sampai sore banyak sekali laporan yang harus aku cek. Otakku sampai penuh," balas Satria.


Mendengarkan cerita Satria kemudian Indi menganggukkan kepalanya. Tanpa banyak bicara dia menyeduhkan Teh dengan aroma melati kesukaan suaminya itu. Teh tubruk khas Jawa yang sepet, wangi, dan kental. Kemudian dia sajikan di hadapan suaminya.


"Ngeteh dulu, aku juga menggoreng ketela dan singkong. Udah, Papa rileks dulu aja. Biar aku yang main sama Nang-Nang," kata Indi.


Sebenarnya para istri ketika melihat suaminya itu ada perasaan senang, bisa bergantian mengasuh anak. Istri yang sudah berkutat dengan pekerjaan rumah sepanjang waktu bisa mendapatkan sedikit waktu istirahat. Akan tetapi, ketika suami kelelahan, apa daya ... istri harus mengajak anak bermain lagi. Selalu mengisi satu sama lain. Indi pun melakukan hal yang sama, karena Indi tahu suaminya tak pernah seperti ini sebelumnya.


Mendapatkan perhatian lebih dari istrinya, Satria kemudian menggenggam tangan istrinya untuk sejenak. "Benaran gak apa-apa? Kamu enggak capek emangnya?"


"Tidak apa-apa. Aku ya capek, tapi bercanda-canda sama Nakula dan Sadewa bisa bikin bahagia kok. Tidak apa-apa. Papa Satria rileks dulu aja," kata Indi.


"Makasih, Sayang ...."


Rasanya tidak ada kata lain yang bisa Satria ucapkan selain berterima kasih. Istrinya itu memang penyabar dan begitu pengertian. Bahkan memberikan waktu sebentar untuk lebih rileks. Ditemani secangkir teh dan gorengan ala rumahan, Satria menikmati itu dan memulihkan lagi moodnya. Satria sangat paham bahwa dia juga tidak boleh egois. Ada Indi yang harus dia cover untuk mengasuh Nakula dan Sadewa yang sekarang semakin aktif.


Kurang lebih lima belas menit berlalu, Satria sudah bergabung dengan Indi dan kedua putranya lagi.


"Halo lagi," sapa Satria dengan lebih bersemangat.


"Ppa, ana?" tanya Sadewa. Anak kecil itu sesungguhnya berbicara, Papanya dari mana?


"Papa abis minta teh di bawah, Nang. Tadi sedikit pusing dan haus."

__ADS_1


"Acih ucing?" tanya Sadewa lagi dengan memegangi kepala Papanya.


Satria kemudian menggelengkan kepalanya. "Enggak, sudah enggak pusing lagi. Yuk, main sama Papa. Mama gantian istirahat," kata Satria.


Indi kemudian bertanya lirih kepada suaminya itu. "Yakin, sudah tidak apa-apa?"


"Sudah jauh lebih baik. Thanks Sayang," balas Satria.


Indi tersenyum. Kalau suaminya sudah jauh lebih baik, tentu Indi juga lega. Namun, Indi juga tak beranjak. Dia memilih bergabung bersama suami dan anak-anaknya. Bermain bersama hingga waktunya jam tidur, keduanya juga kompak menidurkan kedua putranya.


Setelah anak-anak sudah tidur, Indi menanyai suaminya lagi. "Kerjaan di kantor emang lagi banyak banget yah Mas?"


"Banyak, Sayang. Laporan pada masuk, biasa akhir bulan. Ngreview laporan gak habis-habis rasanya," kata Satria.


"Mau aku pijit enggak?" tawar Indi sekarang.


"Kamu sudah melakukan banyak hal buat aku. Malahan aku seharian ini gak bisa bantu banyak," balas Satria.


"Rileks saja. Daripada Mas uring-uringan dan kelihatan enggak bersemangat gitu," kata Indi.


"Iya, moodku gak bagus tadi. Ditanyain Nakula dan Sadewa sampai enggak konek. Maaf yah," katanya lagi.


"Gak apa-apa. Orang juga ada capeknya kok, Mas. Aku pikir hanya cewek yang bisa merasakan perubahan hormonal dan mood. Ternyata pria bisa juga yah?" Indi mengatakan itu dengan terkekeh.


"Bisa, Sayang. Enggak dapat jatah aja banyak loh yang langsung bad mood dan uring-uringan," kata Satria sekarang.


Indi malahan tertawa lagi. Kalau selama ini palingan Satria hanya mengeluh pusing saja kalau acara berdua gagal. Namun, biasanya bukan Indi yang tidak mau, lebih ke anak-anak yang justru terbangun ketika hasrat suaminya itu sedang memuncak.


"Itu kan para pria di luar sana. Kalau Papa Satria palingan ngeluh pusing aja. Gak akan uring-uringan. Papa Satria kan sabar," kata Indi dengan terus memberikan pijatan kepada suaminya itu.

__ADS_1


"Kamu bisa aja, Sayang. Kalau aku uring-uringan gimana?" tanyanya.


"Ya boleh-boleh aja. Kan manusiawi juga, Papa. Penting jangan sepanjang hari, emosinya kan yang terpenting tersalurkan," balas Indi.


Satria menganggukkan kepalanya. Sekarang moodnya sudah jauh lebih baik dengan sabarnya Indi dan bisa bercerita dengan istrinya.


"Yang, kok tiba-tiba aku kayak masuk angin yah?" keluh Satria sekarang.


Indi menghentikan pijatannya. Tangannya meraba kening suaminya terlebih dahulu. Kala tangannya meraba di sana guna mengukur suhu, Indi pikir suaminya itu tidak demam. Akan tetapi, kenapa Satria justru mengeluh seperti masuk angin sekarang.


"Minum obat herbal yang buat masuk angin yah, Mas? Biar aku ambilkan," kata Indi.


Satria menganggukkan kepalanya. Perutnya terasa kembung sekarang. Oleh karena itu, Indi segera mengambilkan jamu herbal untuk penawar masuk angin itu.


"Diminum dulu," kata Indi.


Satria pun meminumnya. Semoga saja dia tidak apa-apa. Padahal tadi rasanya juga tidak kenapa-napa. Satria sampai heran sendiri dengan tubuhnya.


"Bobok dulu aja, Mas. Kamu kelelahan ... bobok cepet aja yah?"


"Aku masih kangen kamu padahal," kata Satria.


"Kan aku juga cuma di sampingmu. Gak akan ke mana-mana," balas Indi.


"Temani aku tidur yah?" pinta Satria.


Indi menganggukkan kepalanya. Dia membantu suaminya yang mode manja itu untuk tidur terlebih dahulu. Kemudian Indi berbaring di sisi Satria. Yang ada Satria tidur dengan begitu eratnya memeluk istrinya. Wajahnya hingga berada di dekat dada Indi.


"Aku padahal kangen sama kamu, malahan gak enak rasanya sekarang. Maaf, Sayang ...."

__ADS_1


"Gak apa-apa Papa Satria. Orang ya ada capeknya. Kamu pasti kelelahan mereview semua laporan yang masuk. Bobok dulu, istirahat biar lebih enakan badannya," kata Indi.


Satria menghela napas panjang. Di dalam benaknya dia sudah merencanakan ingin pacaran halal dengan Indi ketika anak-anak sudah tidur. Akan tetapi, tiba-tiba badannya merasa sangat tidak enak. Seperti tengah masuk angin rasanya. Satria kesal karena seharusnya banyak yang bisa dia lakukan dengan istrinya. Namun, efek kelelahan membuat Satria bad mood dan kurang fit seperti ini.


__ADS_2