Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Walau Bukan Malam Pertama


__ADS_3

Menyelesaikan seluruh prosesi Ngunduh Mantu dan berfoto bersama hadirin, terutama mitra bisnis atau kerabat Keluarga Negara menghabiskan waktu begitu lama. Total serangkaian acara Ngunduh Mantu itu baru selesai kurang lebih tiga jam.


Indi sendiri begitu capek karena kebaya yang terbuat dari kain beludru itu cukup berat. Sanggulan rambut dan beberapa sunduk menthul atau penghias kepala yang berada di kepalanya menjadi bagian yang berat juga. Walau begitu, Indi selalu tersenyum dan menerima setiap tamu dengan ramah.


Usai acara, Indi menemui Rama Bima dan Bu Galuh, tujuannya hendak mengenalkan secara pribadi kepada Bapak Firhan dan keluarganya. Terlihat Rama Bima menganggukkan kepalanya.


"Beliau datang juga?" tanya Rama Bima.


"Iya, Rama. Mari Indi kenalkan dengan Bapak," balas Indi.


Kemudian Indi dan Satria turun dari pelaminan dan menyapa Bapak kandungnya. Dia memberikan salam takzim, dan kemudian Bapak Firhan memeluk putrinya itu.


"Bapak," sapa Indi.


"Mbak Indi ... selamat berbahagia yah. Terima kasih sudah mengundang Bapak dan keluarga ke acara resepsi ini. Bapak sangat senang. Bapak doakan kamu dan Mas Satria bahagia selalu yah," kata Pak Firhan.


"Terima kasih banyak Bapak. Bapak, perkenalkan ini adalah Rama dan Ibunya Mas Satria," kata Indi.


Kemudian Rama Bima dan Bu Galuh bersalaman dengan Pak Firhan dan Bu Wati. Saling memperkenalkan diri satu sama lain.


"Tepangaken Rama nipun Satria," kata Rama Bima dalam bahasa Jawa halus yang artinya adalah 'Perkenalkan Ramanya Satria.'


"Bapaknya Indi," balas Pak Firhan.


"Bekerja di mana Pak Firhan?" tanya Rama Bima.


"Saya manajer di bank, Pak Negara. Hanya pegawai bank saja," kata Pak Firhan.


Rama Bima menganggukkan kepalanya, kemudian bertanya juga di mana tempat tinggalnya. Sejauh ini pembicaraan berjalan lancar. Bapak Firhan sendiri merasa senang, walau dirinya tidak dilibatkan dalam acara, tapi terlihat Indi yang menaruh hormat kepadanya dan keluarga Negara yang mau menghampiri terlebih dahulu dan berkenalan dengan mereka.


"Kita juga menjadi kerabat, Pak Firhan. Di lain waktu kalau bertemu bisa saling menyapa. Bapak Firhan jika suatu saat hendak memiliki hajatan tolong saya juga diundang," kata Rama Bima.


"Baik Pak Negara. Terima kasih banyak," balas Pak Firhan.


Di kala itu juga, Indi meminta fotografer untuk memotretkan mereka, foto sebagai kenang-kenangan tentunya untuk keluarga Bapak Firhan. Bapak Firhan pun merasa senang dan terharu.


"Terima kasih Mbak Indi," kata Bapak Firhan.


"Indi yang berterima kasih, Bapak. Mohon doa dan restunya untuk Indi dan Mas Satria ya, Bapak," kata Indi.


Akhirnya Bapak Firhan memeluk Indi dan Satria bersamaan, memberikan doa dan restu, serta mendoakan kebahagiaan dan keturunan untuk Indi dan Satria. Indi dan Satria menganggukkan kepalanya. Keduanya sangat bersyukur karena banyak doa yang diberikan untuk keduanya.


...🍀🍀🍀...

__ADS_1


Malam Harinya ....


Siang hingga sore dihabiskan Indi dan Satria untuk membersihkan riasan, dan beristirahat sejenak. Sementara keluarga Hadinata sudah pulang ke Jogjakarta. Rama Bima dan Bu Galuh juga masih menginap di hotel itu semalam. Akan tetapi, Rama Bima memberikan waktu dua malam bagi pasangan pengantin menikmati istirahat di hotel.


"Pernah menginap di Solo sebelumnya, Sayang?" tanya Satria.


"Pernah, di rumah Eyang. Kan Eyangku dari Solo, Mas. Bunda itu asli Solo," cerita Indi.


Satria menganggukkan kepalanya. "Oh, iya. Sampai lupa. Makanya istriku ini lemah lembut khas Putri Solo," kata Satria.


"Biasa aja, Mas. Jangan begitu, malu," balas Indi.


"Kamu kecapekan enggak malam ini, Roro Ayu?" tanya Satria. Dalam budaya Jawa, Roro Ayu sebutan untuk memanggil wanita yang cantik. Rupanya Satria menggunakan itu untuk sesekali memanggil istrinya.


"Enggak begitu, kan tadi usai resepsi sudah bobok sebentar. Kenapa Mas?" tanya Indi sembari melirik suaminya itu.


"Walau bukan malam pertama, maukah kamu melewati malam ini bersamaku?" tanya Satria.


Ada rasa geli ketika Satria mengatakan itu. Akan tetapi, sejak Indi cidera tertimpa kardus dan panel kayu, memang keduanya urung melakukannya lagi. Sehingga, walau sekarang memang bukan malam pertama, tapi Satria menanyakan bagaimana jika mengisi malam berdua.


"Iya, Mas," jawab Indi singkat.


Satria seolah mendapatkan akses tanpa batas dari istrinya. Ada senyuman tipis di sudut bibir Satria. Begitu lama berpuasa dan sekarang berada di kamar hotel yang berbintang seolah memberikan kesempatan kepadanya untuk menikmati malam ini. Walau sebenarnya itu memang bukan malam pertama untuk mereka berdua.


Satria pun memangkas jarak wajahnya yang tidak seberapa, dengan hati-hati pria itu melabuhkan kecupan yang disertai dengan kecupan yang lainnya di bibir Indi. Walau masih sama-sama duduk di sofa, tapi Satria tak ragu memulai atmosfer panas yang sebentar lagi akan membara di sofa itu.


Satria seakan senang dengan Indi yang berusaha mengimbanginya, itu artinya Indi sudah membuka diri, bisa beradaptasi dan sama-sama menikmati kembang api yang begitu indah di angkasa. Sedikit mengubah posisi Indi, masih di sofa itu ada dorongan yang Satria lakukan hingga punggung Indi bersandar di sofa, dan dada Satria yang sedikit menindih Indi.


Pria itu memiringkan wajahnya, dia memberikan tekanan dari gerakan bibirnya. Lidahnya tak segan untuk mendobrak masuk dan membelit dan merasai kedalaman rongga di dalam sana. Satria tak ragu untuk membebaskan dirinya, memberikan pagutan, hisapan, dan lu-matan yang benar-benar membakar suasana malam itu.


Sedikit membawa wajahnya turun, Satria menjelajahi leher Indi yang jenjang dengan bibir dan lidahnya. Indi kian memejamkan matanya. Dirinya merasakan gelenyar asing, tapi itu menimbulkan sensasi yang sangat indah.


"Mas Satria ...."


Dengan napas terengah-engah, Indi menyebut nama suaminya karena Indi merasa perlahan-lahan dirinya melayang. Hal itu terjadi mana kala tangan Satria mulai bergerak nakal dan meremas perlahan dengan gerakan memutar bulatan indah milik istrinya. Dada Indi terasa berat, wanita itu seakan merasa betapa lihainya suaminya itu.


Akan tetapi, Indi mengingat bagaimana kebaikan Satria selama dia sakit beberapa pekan lalu dan bagaimana Satria sangat telaten merawatnya, maka kali ini Indi seakan hendak melakukan terlebih dahulu, pelan-pelan dia menyingkirkan tangan Satria di area dadanya, matanya yang terpejam, perlahan terbuka.


"Kamu lebih dahulu, Mas," kata Indi.


Seketika Satria merasa bingung, terlebih ketika Indi mendorongnya perlahan. Indi tak segan turun hingga kakinya menyentuh lantai, sementara Satria mengamati setiap tindakan yang Indi lakukan.


"Sayang," kata Satria seakan tak percaya.

__ADS_1


Wanita itu menganggap ini adalah bentuk terima kasih dan cintanya karena suaminya sudah begitu baik kepadanya. Lagipula, Indi berusaha membuang rasa malu, dia berusaha mengambil kendali terlebih dahulu. Tak segan untuk menggenggam perlahan pusaka suaminya, menggerakannya naik dan turun, dan kemudian menenggelamkannya dalam rongga mulutnya yang hangat. Gerakan peristaltik yang Indi lakukan beberapa kali.


Satria menggila, dia benar-benar tak percaya istrinya berani mengambil kendali terlebih dahulu. Satria sampai memejamkan matanya. Sungguh, luar biasa rasanya.


"Sayang ... Astaga, Sayang ...."


Mendapatkan kesempatan pertama terlebih dahulu, sungguh luar biasa bagi Satria akan tetapi, Satria brrjanji akan melakukan semua secara bertahap. Sebab, wanita juga menginginkan menaiki wahana, bukan sekadar menggapai angkasa dalam durasi singkat.


Beberapa saat lamanya, Satria menggeram. Luar biasa rasanya, tapi Satria menahan. Dia menarik Indi, dengan mencium bibir istrinya itu.


"Sudah, Sayangku ... makasih banyak," kata Satria.


Pria itu tersenyum nakal dan kemudian menarik kaos yang dikenakan Indi. Bukan sekadar kaos, hal yang lain pun Satria lepaskan.


Lantas, Satria membopong Indi menuju ke ranjang. Dia menempatkan Indi di posisi yang nyaman, kemudian mulai meremas perlahan bulatan indah istrinya dan menenggelamkannya dalam rongga mulutnya yang hangat. Hisapan, gigitan, dan lu-matan Satria berikan dengan bertubi-tubi. Hanya beberapa saat saja puncak di sana sudah menegang.


"Mas Satria ...."


Indi merasa gelisah dengan tangan meremas sprei perlahan. Kakinya pun bergerak gelisah dengan sepuluh jari kakinya yang menekuk ke dalam. Luar biasa rasanya, dua bulatan indah yang mendapat perlakuan sama dari suaminya.


Satria bergerak semakin ke bawah, dia mulai menginvansi lembah di bawah sana dengan usapan lidahnya. Berpadu dengan tusukan, dan hisapan. Sungguh, itu adalah tindakan yang membuat Indi memekik berkali-kali.


"Mas Satria," kata Indi lagi.


"Yah, Sayang. Nikmati saja."


Indi memekik keras dan kemudian dia merasa tubuhnya bergetar hebat. Pelepasan yang indah. Pun demikian, Satria yang kini segera mengambil kendali. Dia mulai menyatukan dirinya dengan sang istri. Satu hentakan yang membuat Indi terasa penuh.


"Sayang ...."


Pria itu bergerak seirama dengan memegangi pinggang istrinya. Memadukan tusukan, hentakan, gerakan keluar masuk dan maju mundur. Sungguh keduanya berpacu dalam nuansa yang indah. Nuansa yang mereka kecap bersama sebagai pasangan suami istri.


Tangan Indi bergerak meremas helai demi helai rambut suaminya dengan napas yang kian terengah-engah. Dia benar-benar mencapai langit ketujuh sekarang. Desakan keluar dan masuk yang sangat indah. Berbalutan sensasi erat, basah, dan hangat.


"Aku cinta kamu, Sayang," kata Satria.


"Aku juga ... cinta kamu," balas Indi.


Maka tak ada yang Satria tahan sekarang. Dia memacu gerakan maju dan mundur. Hujaman dan tusukan yang tak terkendali. Semakin dalam, semakin terdengar benturan. Hingga, akhirnya Satria merasa tubuhnya meringan, matanya kian terpejam, dan dia meledak sekarang.


Tumpah.


Pecah.

__ADS_1


Tanpa kendali.


Sepenuhnya letupan larva pijar yang memenuhi cawan surgawi istrinya. Berpadu nikmat, meninggalkan sensasi dahsyat. 🥰


__ADS_2