
Usai pulang dari Dokter Kandungan, Indi dan Satria memilih untuk langsung pulang. Sekarang, di dalam kamarnya Indi duduk dan mengamati foto pertama babynya. Ini sungguh kejutan untuk Indi, karena bisa ada dua kantung janin di dalam rahimnya. Begitu baiklah Allah yang langsung mengaruniakan dua orang janin sekaligus.
"Baru ngapain, Sayang?" tanya Satria.
"Lihatin foto perdananya Babies kita, Mas," balas Indi.
Satria tersenyum, kemudian dia mengambil tempat duduk di samping istrinya. Dia turut mengamati foto USG yang sekarang dipegang oleh Indi. Kemudian Satria merangkul istrinya itu.
"Bentuknya masih titik yah, mirip kecambah," kata Satria.
Indi tertawa ketika Satria menunjuk bentuk janinnya yang memang mirip kecambah. Sangat begitu kecil. Akan tetapi, walau kecil sesungguhnya ada kehidupan di dalam sana.
"Kamu lucu sih, Mas. Bisa-bisanya bilang mirip kecambah, tempo hari bilangnya Malika. Duh, kasihan babies kita disamain sama biji-bijian," balas Indi.
"Kan cuma analogi, Sayang. Cuma bercanda saja," balas Satria.
Indi kemudian membelai perlahan sisi wajah suaminya itu. Gemas sebenarnya dengan candaan dari suaminya itu. Namun, Indi tahu sebenarnya itu hanyalah analogi saja.
"Foto pertamanya memang belum jelas, tapi aku sudah sayang banget sama dua anak kita. Jangan-jangan kamu terlalu bersemangat, Mas. Jadi ada dua deh," balas Indi.
"Ya jelas bersemangat, Sayang. Namanya juga pengantin baru. Semua pengantin baru pastinya akan semangat banget menyemai benih. Cuma sekarang, aku harus fase bersabar lagi. Gak boleh sering-sering sama Bu Dokter, kasihan babiesnya pusing," balas Satria.
__ADS_1
"Benar, nanti Adik Bayi pusing, Mas," balas Indi.
Satria kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, cobaannya suami ternyata banyak yah, Sayang. Hamil muda saja gak boleh sering-sering ternyata. Nanti hamil tua disarankan, tapi aku yang takut. Takut nyakitin adik bayi," balas Satria.
Satria baru tahu. Dulu, dia kira perihal bersabar tidak boleh menyemai benih itu ketika istrinya pasca bersalin. Ada masa nifas yang bisa sampai 40an hari. Bagi Satria, itu saja sudah menjadi periode terpanjang dan terlama. Rupanya ketika Trimester awal kehamilan juga tidak boleh terlalu bersemangat. Adik bayinya bisa pusing terkena cairan Papanya lebih sering.
Rupanya menikah dan menikmati setiap fasenya membuat Satria juga belajar. Setidaknya sekarang Satria juga belajar hal-hal baru. Belajar untuk menahan diri juga tentunya.
"Dilema yah, Mas?" tanya Indi.
"Iya, dilema Sayang. Namun, inilah yang namanya belajar kan? Menikah kan juga belajar. Sekarang saja aku sudah merasakan namanya belajar. Aku akan menikmati prosesnya, Sayang," balas Satria.
"Benar, Mas. Aku juga sama kok. Aku juga dalam fase belajar. Sekarang akan persiapan menjadi seorang Ibu. Semoga aku bisa menjadi ibu yang baik yah, Mas."
"Pasti bisa, Sayang. Aku yakin itu. Kamu tenang saja. Aku akan mendampingi kamu. Selain itu, pastinya kita akan bersama-sama belajar," balas Satria.
"Benarkah?"
"Iya, aku juga sangat yakin. Kamu akan menjadi Mama yang baik, dan aku akan menjadi Papa yang baik juga. Dijaga baik-baik ya, Sayangku. Jangan kecapekan, biar Babies kita sehat selalu. Tahu enggak, Sayang ... sejak kamu memberi kejutan kepadaku itu, aku sudah sayang banget dengan calon buah hati kita. Foto itu memang belum jelas, diameternya masih sangat kecil. Akan tetapi, aku memiliki kasih sayang yang sangat besar untuk dia," kata Satria.
Indi tersenyum perlahan, dia kemudian menyandarkan kepalanya di dada suaminya. Rasanya senang sekali ketika dia mendengar ungkapan sayang dari suaminya untuk anak-anaknya. Hatinya terasa begitu hangat.
__ADS_1
"Makasih sudah menyayangi Babies, Mas," kata Indi.
"Jangan berterima kasih. Menyayangi kamu dan anak-anak kita adalah kewajibanku. Oleh karena itu, jangan berterima kasih. Seumur hidupku, aku akan menyayangi kalian. Kalian adalah harta dan hidupku," kata Satria.
"Kan gak salah kalau aku bilang berterima kasih," balas Indi.
"Iya-iya, gak salah, Sayangku. Cuma jangan begitu. Untuk kalian, kasih sayangku selalu tulus dan tidak terbatas," balas Satria.
Indi kemudian menganggukkan kepalanya. Dia senang sekali rasanya. Kehamilan ini agaknya bisa dijalani Indi dengan sangat baik. Toh, Indi sendiri merasa juga tidak mengidam apa pun.
"Kalau ngidam apa pun bilang ke aku, Sayang. Aku akan belikan apa pun yang kamu inginkan. Biar Babiesnya juga bahagia," kata Satria lagi.
"Iya, Mas. Nanti kalau pengen sesuatu, aku akan bilang kok. Cuma sekarang belum ngidam apa pun," balas Indi.
"Tidak apa-apa. Doaku kamu sehat yah, Sayangku. Kalau kamu sehat, aku sudah sangat bahagia. Akhir pekan nanti ke Solo mau?" ajak Satria.
"Memberitahu Rama dan Ibu yah, Mas?" tanya Indi.
"Iya, kamu keberatan enggak kalau kita ke Solo dulu nanti baru ke Jogja? Yah, menurutku sih begitu, Sayang," balas Satria.
"Ya sudah, boleh, Mas. Nanti ke Solo dulu. Beliin Es Kapal yang ada di Solo yah Mas?" pinta Indi sekarang.
__ADS_1
Satria tertawa dengan mengusapi puncak kepala istrinya itu. Akhirnya istrinya itu ngidam juga. Satria senang ketika istrinya ngidam, dan dia bisa membelikannya. Sudah pasti sewaktu di Solo nanti, Satria akan memberikan es kapal sesuai yang diminta istrinya itu.