
Dua bulan telah berlalu ....
Tidak terasa bahwa waktu benar-benar berjalan dengan begitu cepat. Sekarang bahkan sudah waktunya untuk Indi, Satria, serta si kembar Nakula dan Sadewa untuk menuju ke Negeri Kincir Angin yah mereka akan segera menuju ke Amsterdam, Belanda. Kali ini, Ayah Pandu dan Bunda Ervita mengantarkan putra dan putrinya ke Bandar Udara Internasional Yogyakarta. Jarak bandara itu memang lebih jauh, tapi Ayah Pandu tidak masalah. Dia ingin mengantarkan keluarga putrinya itu ke bandara.
"Di Belanda berapa lama nanti, Mbak Indi?" tanya Ayah Pandu.
"Dua hingga tiga pekan, Yah ... cepat kok, Yah. Nanti kami akan kembali lagi ke Jogja," balas Indi.
"Eyang bakalan kangen sama Nang-Nang loh," sahut Bunda Ervita.
Ini bahkan menjadi perpisahan pertama Bunda Ervita dan Ayah Pandu dengan cucu-cucunya dengan kurun waktu begitu lama. Bisa mencapai tiga pekan. Sekarang, tidak bertemu lama dengan Nakula dan Sadewa saja rasanya sudah begitu kangen. Bagaimana nanti kalau memang berpisah untuk tiga pekan?
"Nang-Nang juga bakalan kangen sama Eyang. Tunggu Nang-Nang kembali ke Jogja ya Eyang," balas Indi.
"Iya, duh ... cucu-cucuku masih kecil sudah mau ke luar negeri. Eyang Uthi aja takut naik pesawat, kalian malahan akan naik pesawat belasan jam. Hati-hati yah, Nang," kata Bunda Ervita.
Jika ada orang yang belum pernah menaiki pesawat udara itu adalaah Bunda Ervita. Dia mengaku selalu takut untuk menaiki pesawat udara. Lebih memilih bepergian dengan kereta api atau bus saja. Menurut Bunda Ervita, menaiki pesawat udara itu menakutkan. Oleh itu, sepanjang usianya Bunda Ervita belum pernah naik pesawat.
"Kita kapan-kapan bisa liburan bersama, Nda ... ke Bali atau Labuan Bajo gitu," kata Indi.
Bunda Ervita menggelengkan kepalanya. "Nda ini takut banget naik pesawat terbang, Mbak Indi. Kalian aja yang naik pesawat. Bunda di rumah saja."
"Harus dilawan rasa takutnya, Nda. Naik pesawat terbang tidak semenyeramkan itu kok," balas Indi.
Akhirnya Ayah Pandu tersenyum. "Tidak apa-apa kalau Bunda tidak berani. Mungkin saja nanti ada masa di mana Bunda memang harus naik pesawat. Siapa tahu Irene mendapat jodoh orang yang tinggalnya jauh, luar kota. Jadi, kita ke sana naik pesawat," balas Ayah Pandu.
__ADS_1
"Benar, Yah ... siapa tahu yah?" balas Indi dengan tertawa.
Akhirnya Bunda Ervita ikut tertawa juga. Sekarang sih merasa takut dan menyeramkan. Namun, siapa tahu nanti ada waktu di mana memang mereka diharuskan untuk menaiki pesawat. Sehingga mau atau tidak mau, takut atau tidak, harus menaiki pesawat udara.
Begitu sudah tiba di bandar udara, keluarga Hadinata bertemu dengan Rama Bima dan Bu Galuh. Kedua Eyangnya Nang-Nang ini juga ikut ke Belanda. Ada Sitha juga yang menyertai mereka.
"Kali ini bertemu lagi, tapi di bandara Bu Galuh dan Pak Bima? Bagaimana kabarnya?" sapa Bunda Ervita dengan berpelukan dengan Bu Galuh.
"Baik, Bu Ervi ... benar, baru kali ini bertemu di bandara. Indi, Satria, dan anak-anak kami ajak ke Belanda dulu yah, Bu Ervi," kata Bu Galuh.
"Iya, Bu ... silakan saja. Walau nanti kami Eyangnya kangen sama Nang-Nang," balas Bunda Ervita dengan jujur.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Bunda Ervita, Bu Galuh dan Rama Bima tertawa. Memang kalau sudah menjadi Eyang itu malahan sering kangennya dengan cucu sendiri. Rama Bima dan Bu Galuh juga merasakan itu. Ketika berada di Solo, rasanya sangat kangen dengan Nakula dan Sadewa.
"Nanti videocall, Bu ... biar enggak kangen," balas Bu Galuh.
Berada di bandara beberapa saat kemudian Rama Bima mengajak Satria untuk cek in dulu. Setidaknya koper-koper mereka akan dimasukkan ke dalam bagasi terlebih dahulu. Nanti tinggal membawa anak-anak saja ke ruang tunggu.
"Jaga kesehatan yah, Mbak Indi. Sering kabarin Ayah dan Bunda di Jogja yah. Nang-Nang juga sehat selalu, tiga minggu lagi Eyang jemput di bandara yah," kata Ayah Pandu.
Tak lupa Ayah Pandu dan Bunda Ervita menggendong Nakula dan Sadewa terlebih dahulu. Bahkan pasangan Eyang itu menciumi Nakula dan Sadewa beberapa kali. Bakalan benar-benar rindu dengan cucunya yang cakep itu.
Hingga akhirnya, kini waktunya untuk berpamitan. Indi menitikkan air matanya kala berpamitan dengan Ayah dan Bundanya.
"Indi, Mas Satria, dan Nang-Nang pamit dulu yah Yayah dan Nda. Nanti kami akan selalu mengabari Yayah," pamitnya.
__ADS_1
"Iya, Mbak Indi. Sehat-sehat selama di Bandara nanti. Semoga Nang-Nang enggak nangis yah," balas Ayah Pandu.
Begitu juga Rama Bima dan Ibu Galuh yang berpamitan dengan besannya. Hingga akhirnya, mereka berpisah. Indi dan keluarga besar Negara memasuki pintu keberangkatan. Perjalanan pertama Nakula dan Sadewa ke luar negeri. Semoga saja di pesawat nanti Nakula dan Sadewa tidak akan tantrum. Bisa tenang selama di dalam pesawat.
"Cucunya Eyang Rama ke luar negeri nih. Beruntungnya kalian ke Belanda waktu masih kecil. Dulu Eyang Rama waktu muda," kata Rama Bima.
"Kalau sekecil ini malahan mungkin tidak ingat, Rama," balas Satria.
"Setidaknya ada fotonya, Sat. Ada rombongan dari Solo juga. Pameran UMKM juga, sudah dua kontainer besar hasil UMKM Solo Raya akan dipamerkan di Amsterdam nanti," cerita Rama Bima.
"Jamu kita juga, Rama?" tanya Satria.
"Iya, jamu instans. Kalau yang kemasan botol, kita terbangkan khusus. Semoga bisa merambah pasar Eropa, Sat," balas Rama Bima.
Satria menganggukkan kepalanya. Semoga saja ini menjadi langkah awal jamu mereka bisa merambah ke pasar Eropa. Setidaknya ada jalan tersedia untuk melakukan promosi.
"Aamiin, Rama. Semoga ini menjadi jalan yang baik."
Menunggu di ruang tunggu hampir satu jam, akhirnya mereka dipersilakan untuk menaiki pesawat udara. Indi dan Satria sudah bersiap dengan ransel khusus yang berisi perlengkapan Nakula dan Sadewa mulai dari diapers, jaket, snack, dan penutup telinga untuk anak-anak. Selain itu, Indi dan Satria sendiri berusaha tidak panik supaya Nakula dan Sadewa juga tidak panik hingga berakhir tantrum nantinya.
"Yeay, Nang-Nang naik pesawat," kata Indi kepada kedua putranya.
"Masih kecil udah naik pesawat, Nang. Jangan rewel yah," kata Satria.
Usai itu, Satria bertanya lagi kepada istrinya karena Nakula dan Sadewa yang sekarang sudah 22 bulan masih meminum ASI eksklusif. "Nanti kalau mau ASI gimana, Yang?"
__ADS_1
"Aku memakai baju khusus Busui kok, Mas. Enggak perlu buka semua. Ada kain penutup juga, nanti bantuin yah Mas?"
Syukurlah, Satria merasa lega karena istrinya sudah prepare sejak awal untuk menggunakan pakaian khusus Busui yang menggunakan resleting di area dada. Sebab, Satria juga tidak ingin aset berharga istrinya itu akan dilihat orang banyak.