Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Rencana Masa Depan


__ADS_3

Usai diwisuda, Ayah Pandu mengajak keluarganya ke studi foto. Momen kelulusan putri bungsunya yang memang harus diabadikan. Dulu saat Indi wisuda, foto keluarga mereka hanya berempat. Ayah Pandu, Bunda Ervita, Indi, dan Irene sendiri. Sekarang difoto yang diambil tidak berempat, melainkan bertujuh. Ada juga Satria, Nakula, dan Sadewa. Foto yang akan menghiasi salah satu sudut dinding di rumahnya nanti.


"Yuk, kita foto dulu," ajak Ayah Pandu.


Mulailah mereka diarahkan tukang potret di sana untuk berpose. Dimulai dengan Irene yang berpose sendiri terlebih dahulu. Tidak lupa membawa boneka dan balon yang dihadiahkan keluarga kakaknya.


"Senyum, Rene ... jangan diem," goda Indi kepada adiknya sendiri yang sebenarnya sejak tadi sudah senyam-senyum.


"Udah loh, Mbak. Nanti kalau aku senyam-senyum sendiri dikira akunya kurang," balas Irene.


Kedua kakak adik itu tertawa. Kadang memang ada saja yang mereka perdebatkan bersama. Kadang seru juga mengingat bagaimana dulu mereka sering berdebat satu sama lain. Namun, semuanya berubah ketika Indi sudah menikah dan tinggal bersama suaminya.


Selanjutnya Ayah Pandu dan Bunda Ervita berfoto dengan Irene terlebih dahulu. Diapit Ayah dan Bundanya, Irene tersenyum lepas. Di dalam hatinya, Irene juga bahagia bisa memberikan semua pencapaian di bidang pendidikan ini untuk Ayah dan Bundanya.


Lalu dilanjutkan dengan keluarga Indi dan Satria. Kemudian ditutup dengan foto bersama semuanya. Ada Satria yang menggendong Nakula, dan Ayah Pandu menggendong Sadewa.


"Mau dicetak berapa Pak?" tanya pegawai studio foto itu.


"Empat saja. Nanti sisanya minta filenya yah. Dieditkan sekalian," kata Ayah Pandu.


"Baik, siap, Pak ...."


Mereka menunggu dulu dan memilih foto. Ada foto yang akan dicetak dengan ukuran besar juga. Tidak lupa Bunda Ervita meminta filenya, supaya bisa untuk memasang di story dan media sosialnya.


"Postingannya Bunda up date yah," kata Indi kepada Bundanya.

__ADS_1


"Harus dong. Bentuk kebahagiaan seorang ibu ya kayak gini Mbak Indi. Melihat kalian sehat, bahagia, dan sukses, Bunda juga ikut bahagia. Kesuksesan anak-anak adalah kebahagiaan orang tua," balas Bunda Ervita.


Setelah dari studio foto sekarang mereka pulang ke kediaman Ayah Pandu dan Bunda Ervita. Di rumah sudah tersedia aneka masakan Jawa yang siap mengisi perut mereka.


"Kita makannya di rumah yah. Di pendopo, menikmati suasana rumah," kata Bunda Ervita.


"Iya, Nda."


Nakula dan Sadewa yang sudah makan memilih bermain-main. Ada ART di kediaman Bunda Ervita yang mengajak Nakula dan Sadewa bermain. Sehingga kedua orang tuanya bisa makan dengan tenang.


"Usai lulus mau bekerja di mana, Rene?" tanya Satria sekarang.


Bukan tanpa sebab, biasanya para mahasiswa yang sudah lulus akan segera mencari pekerjaan. Oleh karena itu, Satria bertanya juga ke adik iparnya itu.


"Mau ngajar PAUD, Mas," jawab Irene.


"Sudah ada gambaran mau melamar di mana?" tanya Indi sekarang.


"Belum ada sih, Mbak. Walau yah ada satu sekolah internasional yang menawari Irene. Bukan di Jogjakarta sayangnya," balas Irene dengan menunduk.


"Di mana itu, Rene?" tanya Bunda Ervita.


Irene menghentikan makannya sejenak, kemudian dia menatap wajah kedua orang tuanya terlebih dahulu. Jujur, Irene sedikit takut menyampaikannya. Selain itu, ada kekhawatiran bila saja orang tua menentangnya jika hendak bekerja di luar kota Jogjakarta. Biasanya, orang tua memberikan alternatif lebih baik bekerja di kota sendiri. Apalagi untuk anak gadisnya dan sekaligus anak bungsu, biasanya orang tua akan menggenggam mereka dengan lebih erat.


"Di mana, Rene?" tanya Ayah Pandu sekarang. Ayah Pandu menanyai dengan lebih tenang.

__ADS_1


Indi dan Satria hanya saling pandang. Dari reaksi yang ditunjukkan oleh Irene mungkin saja tawaran mengajar itu memang jauh dari kota Jogjakarta. Semuanya seolah sekarang menunggu jawaban Irene selanjutnya.


"Ada tawaran dari Sekolah Internasional di Jakarta, Yah. Tempat Irene KKN dulu. Sebagai sekolah internasional tentu saja tawaran gaji di sana jauh lebih besar," kata Irene.


"Jauh sekali sampai di Jakarta, Rene."


Bunda Ervita sudah mengatakan itu terlebih dahulu. Sementara Indi yang diam teringat lagi bahwa memang sejak dulu cita-cita Irene ingin bekerja di Ibukota. Siapa sangka sekarang adiknya benar-benar mendapatkan penawaran dari salah satu sekolah internasional di Jakarta. Namun, Indi juga diam saja. Tidak ingin mendahului kedua orang tuanya. Sudah pasti orang tua memiliki penilaian sendiri.


"Hanya penawaran kok, Bunda. Belum pasti Irene terima," balas Irene dengan menunduk.


Kemudian Ayah Pandu berbicara kepada istrinya. "Kalau memang bekerja di Jakarta juga tidak masalah tow, Nda. Sudah saatnya anak-anak mengepakkan sayap mereka. Dulu, waktu mereka masih kecil, ke mana-mana kita yang menggendongnya, menatihnya berjalan. Ketika mereka dewasa dan ingin terbang lebih tinggi biarkan saja. Yang penting anak-anak bisa bertanggung jawab dan menjaga dirinya," kata Ayah Pandu.


Bunda Ervita terdiam. Yang disampaikannya suaminya ada benarnya. Namun, hati nurani seorang ibu kadang menginginkan anak-anak itu tidak terlalu jauh dari orang tuanya.


"Tidak apa-apa, Yayah. Irene juga belum tentu nanti mengambil tawaran itu. Irene akan mencoba mencari pekerjaan di Jogja dulu," balas Irene.


Suami di pendopo itu menjadi hening. Ingin berbicara yang lain juga merasa sungkan. Hingga akhirnya Ayah Pandu kembali berbicara.


"Tidak usah dipikirin, Nda. Kalau memang Irene ke Jakarta tidak apa. Ada Yayah, keluarga Indi juga di sini. Ada Nakula dan Sadewa juga. Kita yang penting mendoakan Irene. Kalau memang mata kita tidak bisa mengawasi Irene, mata Allah yang akan mengawasi dan memperhatikan Irene. Jika tangan kita tidak bisa menjaga Irene, ada tangan Allah yang lebih panjang yang bisa menjagai Irene. Insyaallah, ketika kita menyerahkan semua kepada Allah, semua akan baik adanya."


Sungguh, ini adalah pandangan seorang Ayah yang bijak. Jika ada kekhawatiran di dalam hati itu wajar, tapi Ayah Pandu memilih percaya kepada penyertaan dan kemahakuasaan Allah semata. Ada pribadi yang pastinya akan bisa menjaga Irene, di mana Irene berada tak ada yang terluput di hadapan Allah.


"Iya, Ayah. Maafkan Nda yah," kata Bunda Ervita sekarang.


"Tidak apa-apa, Nda. Tidak perlu meminta maaf. Semua ibu, semua orang tua juga tidak ingin jauh-jauh dari anak-anaknya. Itu adalah hal yang wajar. Namun, sekarang zaman sudah berkembang, Nda. Orang Jawa dulu memiliki falsafah 'Mangan ora Mangan penting Kumpul', kalau menurut Yayah itu sudah kurang tepat. Anak yang sudah disekolahkan tinggi, dibekali dengan ilmu biarkan mereka bekerja, mengais rejeki. 'Ora kerja ora mamah', tidak bekerja ya tidak bisa makan. Biar saja Irene mencari pengalaman di luar sana. Kita terus doakan agar anak-anak kita dilindungi Allah dan dijauhkan dari yang jahat."

__ADS_1


Indi dan Satria turut mendengar nasihat Yayah Pandu. Kalah memang itu adalah nasihat yang baik, tentu Indi dan Satria sembari belajar ke depannya. Benar, banyak falsafah yang bergeser nilainya. Jika sudah dibekali dengan ilmu dan keterampilan, maka kembangkan ilmu supaya memberikan manfaat bagi orang banyak. 💕


__ADS_2