
Keesokan harinya, sebagaimana agenda yang sudah ditetapkan para Eyang. Indi dan Satria juga bersiap untuk piknik bersama ke daerah Kali Urang, Jogjakarta. Ada beberapa tempat wisata edukasi yang ingin dikunjungi supaya Nakula dan Sadewa bisa bermain sekaligus belajar.
Pagi itu juga, para Eyang sudah tiba di rumah Indi dan Satria. Menjemput mereka dan segera mengajaknya ke tempat wisata.
"Sudah pada sarapan belum?" tanya Bu Galuh kepada Indi dan Satria.
"Sudah sarapan kok, Ibu. Nakula dan Sadewa juga sudah sarapan," balas Indi.
"Ibu bawa beberapa roti dan camilan, Mbak Indi. Oh, iya ... kemarin sampai lupa mau memberikan ini buat Mbak Indi," kata Bu Galuh yang memberikan satu kantong plastik oleh-oleh khas Solo legendaris untuk Indi.
"Apa ini, Ibu?"
"Roti bolu Mandarin, kesukaan kamu dan Satria kan?"
Indi tersenyum bahagia. Memang ada roti bolu Mandarin khas Solo yang menjadi favoritnya bersama Satria. Cita rasanya seolah tak berubah sejak Indi masih kecil sampai sekarang sudah memiliki anak dua.
"Wah, terima kasih banyak nggih, Ibu," balas Indi.
"Sama-sama, Mbak. Disimpan dulu," balas Bu Galuh.
Setelah itu, cukup membawa mobil Alphard milik Rama Bima saja mereka menuju ke tempat piknik yang berada di kawasan Kali Urang. Jika biasanya Satria yang menyetir, kali ini Rama Bima membawa supir pribadinya sendiri. Supaya semuanya bisa menikmati perjalanan. Nakula dan Sadewa juga anteng dipangku Bu Galuh dan Bunda Ervita.
"Sudah pernah ke Mini Zoo di Kali Urang belum nih, Nang?" tanya Rama Bima.
"Belum pernah, Rama. Yang sudah pernah ya di Gembira Loka Zoo," balas Satria.
"Rama kok malahan yang tahu?" tanya Indi.
Rama Bima kemudian menganggukkan kepalanya. "Rama itu diberitahu adikmu, Sitha. Katanya tempat ini baru hits di Instagram. Ya sudah, Rama pelajari rutenya dan apa aja isinya. Memang tidak begitu besar, tapi anak-anak bisa bermain, mengenal hewan, dan belajar. Ya sudah, ajak cucu-cucu piknik saja."
__ADS_1
Satria baru tahu juga ternyata Sitha, adiknya justru lebih tahu seputar informasi wisata di Jogja. Padahal dia sendiri yang tinggal di Jogja malahan tidak mengerti. Sayangnya, Sitha tidak ikut sekarang. Kalau adiknya itu bisa ikut, pastilah lebih ramai.
Menempuh perjalanan kurang lebih 45 menit, akhirnya mereka tiba di Kali Urang. Daerah yang sejatinya adalah lereng Gunung Merapi itu memiliki tempat yang sejuk, bahkan saat itu awan putih dari gunung seolah turun. Untung saat itu Indi memakaikan kaos panjang untuk kedua anaknya sehingga tidak terlalu dingin.
"Dingin, Sayang?" tanya Satria.
"Enggak, tapi hawanya sejuk, Mas. Enak ... hampir mirip yang kita nginep di hotel yang ada di Tawang Mangu dulu itu yah? Yang turun ke bawah awan dari gunung," kata Indi.
Satria tersenyum saja, tentu saja dia ingat. Akan tetapi, ada hal yang lainnya yang membuat Satria ingat yaitu tentunya momen kedekatan keduanya menginap semalam di sana. Bukan kedinginan, tapi tubuh keduanya justru merasa hangat.
"Sini, Nang-Nang main sama Eyang," ajak Ayah Pandu.
Di sana malahan Ayah Pandu dan Rama Bima mengasuh Nakula dan Sadewa. Menunjukkan aneka hewan yang berada di kebun binatang berkonsep mini zoo itu. Ada jerapah, kuda pony, aneka unggas, dan ada aneka mainan. Untung suasananya sejuk dan cuaca tidak panas, justru cenderung mendung membuat Nakula dan Sadewa malahan heboh melihat hewan dan menunjuk-nunjuk hewan-hewan di sana.
"Itu apa, Nang? Jerapah ... je ... ra ... pah," kata Ayah Pandu.
"Apah ...."
"Itu Me ... rak, Merak," kata Rama Bima sekarang.
"Eerak," jawab mereka dengan menunjuk burung yang terkenal dengan keindahan sayapnya itu.
"Pinter. Benar banget, namanya Merak."
Setelah itu, Eyangnya juga yang menemani menaiki kereta kelinci dan memberi makan kelinci dengan membeli beberapa wortel. Di sana anak-anak diajari lebih dekat dengan hewan. Memberi makan hewan menjadi pengalaman seru untuk anak-anak.
"Nih kelincinya makan wortel," kata Satria sekarang.
"Ayak Nang-Nang," balas Sadewa.
__ADS_1
Lagi-lagi Ayah Pandu dan Rama Bima tertawa. Yang makan wortel bukan hanya kelinci, tapi juga Nakula dan Sadewa. Perkembangan otak keduanya juga berkembang begitu pesat.
"Ini jadinya kelinci atau Nang-Nang?" tanya Rama Bima.
"Nnang, Yang," jawab Sadewa.
Agaknya memang Sadewa yang lebih banyak perkembangan secara verbal atau bahasanya. Terlihat dari Sadewa yang lebih cepat menjawab pertanyaan dari orang yang di sekitarnya. Walau kembar, usianya sama, asupan nutrisinya sama, tapi perkembangannya berbeda-beda tentunya.
Walau begitu Indi dan Satria tak membeda-bedakan Nakula dan Sadewa. Keduanya memilih membiarkan anak-anak tumbuh secara alamiah, walau tetap diberikan berbagai stimulasi sensorik dan motorik. Sebab, walau kembar, keduanya juga individu yang istimewa.
"Capek enggak, Nang?" tanya Satria kepada putranya.
"No, no," jawab Nakula kali ini.
"Kita ajak lihat ikan aja, Sat ... biar kayak kalau lihat di akuariumnya Eyang Kakung," kata Ayah Pandu.
Sekarang, para kaum pria mengajak Nakula dan Sadewa melihat dan memberi makan ikan. Sementara Indi, Bu Galuh, dan Bunda Ervita mengikuti kemana saja mereka pergi.
"Ibu dan Bunda kalau capek istirahat dulu saja," kata Indi.
"Enggak capek sama sekali, Mbak. Ibu malahan seneng bisa jalan-jalan. Seneng juga lihat Ramamu bahagia tiap ngasuh cucu. Beberapa minggu ini orderan jamu melimpah, keningnya Ramamu itu sampai berkerut. Kecapekan mungkin. Kalau sudah ketemu cucu-cucunya hilang sudah capeknya. Jadi bahagia," cerita Bu Galuh.
Emang itulah para Eyang. Kadang mengasuh cucu, mengajak bermain cucu itu seperti mendapatkan hiburan. Bisa menghilangkan capek dan stress, apalagi Eyang yang masih produktif bekerja seperti Rama Bima dan Ayah Pandu.
"Benar, Bu ... mengasuh cucu jadi hiburan tersendiri kok," kata Bunda Ervita membenarkan.
"Hiburannya para Eyang ya seperti ini, dekat sama cucu menjadi bahagia. Bisa tertawa. Melupakan sejenak pekerjaan," kata Bu Galuh lagi.
"Tambah cucu, nanti tambah hiburannya," kata Bunda Ervita sembari melirik Indi.
__ADS_1
Seakan perkataan Bunda Ervita itu adalah kode, mau kalau anaknya menambah cucu. Biar hiburan untuk para Eyang juga bertambah. Sementara Indi tertawa. Intinya memang dia tidak menarget, tapi kalau dikasih sama Allah, InsyaAllah dia sangat siap. Semoga saja nanti atau tidak lama lagi, dia dan Satria akan mendapatkan momongan lagi dari Allah. Aamiin.