
Usai memadu cinta di malam yang tanpa gangguan itu, Satria sengaja tidak mengajak Indi buru-buru mandi. Dia berusaha supaya benihnya berhasil berenang-renang terlebih dahulu dan bisa bertemu dengan sel ovum. Setidaknya berusaha dan menerapkan sedikit ilmu yang memang mereka ketahui. Sebab, jika usai bercinta dan langsung buang urine, bisa saja bakal benih itu turut keluar.
"Ditahan dulu, Sayang. Jangan buru-buru ke kamar mandi," kata Satria.
"Udah gerah padahal, Mas," balas Indi.
Kali ini Indi memang tidak mengada-ada. Dia merasa gerah, dan tubuhnya lengket. Biasanya begitu usai bercinta akan segera membersihkan diri dengan suaminya. Akan tetapi, sekarang harus ditahan terlebih dahulu.
"Ditahan berapa lama?" tanya Indi.
"Ya, lima belas menit lah," balas Satria.
Akhirnya Indi menganggukkan kepalanya. Dia berbaring dengan satu tangan memegangi pinggang suaminya. Sementara Satria sesekali mengecupi kening istrinya itu.
__ADS_1
"Sesekali kalau bisa menikmati dan tanpa gangguan gini enak juga yah, Yang," kata Satria.
"Pengennya yah, Mas. Nanti kalau pada akhirnya punya bayi harus beradaptasi lagi. Kembali mengasuh bayi dan memberikan ASI lagi," balas Indi.
Sekarang memang mereka berdua berusaha memanfaatkan waktu itu kalau tidak capek, yang kedua tentunya ketika Nakula dan Sadewa sudah tidur. Nanti ketika sudah memiliki bayi, harus mencari waktu yang pas. Pandai-pandainya pasangan suami istri untuk memanfaatkan waktu. Pengasuhan anak memang prioritas, tapi menyemai cinta guna membina keharmonisan juga adalah hal yang penting.
"Iya, Sayang ... kamu sendiri sudah siap belum kalau sekiranya Allah berikan keturunan lagi?" tanya Satria.
Indu kemudian menganggukkan kepalanya. "Insyaallah, aku siap. Akan tetapi, aku dibantuin nanti yah, Mas. Biasa, pasca bersalin biasanya perlu adaptasi dulu. Badan belum oke, masih sakit, hormon juga belum stabil."
"Pasti, Sayang. Aku pasti akan membantu kamu. Nanti aku bekerja dari rumah dulu, biar bisa bantuin kamu. Aman Sayangku," balas Satria.
Satria mengatakan itu dengan sungguh-sungguh. Sama seperti saat Indi usai melahirkan Nakula dan Sadewa, saat itu Satria juga bekerja dari rumah dulu. Untuk urusan membantu istri dan mengurus bayi, Satria bisa benar-benar diandalkan. Walau dia adalah seorang pria, tapi Satria sangat bisa menggendong bayi hingga membersihkan pup.
__ADS_1
"Janji loh ya, Mas. Kalau bohong aku marah nanti," balas Indi.
Mendengar ucapan Indi, Satria malahan tertawa. "Kamu ini mau marah kok bilang-bilang. Lucu loh kamu, Sayang."
Keduanya kemudian terkekeh perlahan. Hati keduanya menjadi lebih menghangat. Selain itu, Satria juga berjanji dalam hatinya bahwa dia akan membantu Indi lagi.
"Kan kalau kamu sudah siap, aku ikut bahagia, Sayang. Yang nantinya mengandung dan melahirkan kan kamu. Aku pendukung setia saja. Namun, kamu jangan takut karena apa pun kondisi kamu, kita akan menjalaninya bersama-sama," kata Satria.
Indi kemudian menganggukkan kepalanya."Iya, Mas. Semoga saja ada yang berhasil berenang-renang dan bertemu Ovum yah, Mas. Kalau boleh meminta juga pengennya dapat baby girl. Namun, kalau Allah memberikan baby boy lagi juga tidak apa-apa sih," balas Indi.
"Kalau baby boy, Mama Indira jadi yang paling cantik di rumah ini terus dong," balas Satria.
"Iya, Mama dikelilingi cowok-cowok cakep," balas Indi.
__ADS_1
"Jadi kebalikan dengan keluarga Ayah dong. Ayah satu-satunya yang paling cakep di rumah, sementara di sini Mama Indira yang paling cantik di rumah. Tak tergeserkan," balas Satria.
Keduanya kembali tersenyum. Kalau memang begitu adanya juga tidak masalah. Yang penting bisa menambah momongan, keluarga Indi dan Satria juga selalu sehat dan kompak. Selain itu, Nakula dan Sadewa juga harus dipersiapkan menjadi kakak untuk bakal adiknya nanti.