
Masih saling memeluk satu sama lain, Indi masih terengah-engah. Keduanya berusaha mengatur napas mereka, tapi tampak pelukan yang begitu erat. Seolah masih ingin menikmati kehangatan.
"Nikmat banget, Sayang. Luar biasa. Rasanya sejak menikah sampai sekarang tetap sama. Dahsyat," kata Satria.
"Masak sih, Mas? Walau sudah beranak dua?" tanya Indi.
"Iya, selalu dahsyat dan membara," balas Satria.
Indi terkekeh dengan menyembunyikan wajahnya di dada suaminya itu. Kadang Indi geli dengan pilihan diksi dari suaminya itu. Walau begitu, Indi juga merasakan tidak ada yang berubah sejak mereka menikah.
"Eh, Mas ... aku kelupaan sesuatu," kata Indi sesaat.
"Hm, kelupaan apa Sayang?" tanya Satria.
"Aku sejak di Belanda belum cek kalender masa subur aku. Duh, kalau ini di masa subur bagaimana dong?" tanya Indi dengan panik seketika.
Satria kemudian membelai sisi wajah istrinya. "Kalau terjadi di masa subur dan terjadi pembuahan ya sudah, Sayang. Berarti memang rezekinya kita berdua," balas Satria.
"Yah, harus siap-siap untuk kemungkin terburuk dong, Mas," kata Indi lagi.
"Apa, kok terburuk?" tanya Satria.
"Kemungkinan terburuknya bisa saja Nang-Nang punya adek dong," balas Indi.
Satria tersenyum. Walau sebelumnya Indi sudah mengutarakan ingin memiliki anak lagi ketika Nakula dan Sadewa sudah berusia 4 tahun, tapi kalau sekarang masa subur bisa-bisa nanti dia bisa kembali hamil. Bingung juga, padahal Nakula dan Sadewa baru berusia hampir dua tahun. Usia yang terbilang masih kecil.
__ADS_1
"Ya, semisal positif tidak apa-apa, Sayang. Anak kan anugerah Tuhan juga. Kalau memang diberi ya kita terima dengan tangan yang lapang," balas Satria.
Indi akhirnya menganggukkan kepalanya. Dia memang percaya dengan apa yang disampaikan oleh suaminya bahwa anak adalah anugerah Allah dan harus diterima dengan tangan terbuka. Seusai itu, Indi tampak berpikir-pikir lagi.
"Jadi kepikiran?" tanya Satria.
"Iya, lumayan sih, Mas," balas Indi.
"Gak usah dipikirkan. Yang pasti aku akan bertanggung jawab secara penuh kok. Aku temenin dan bantuin kalau nanti kamu hamil lagi. Peluk lagi, masih kangen Sayang," kata Satria sekarang.
Akhirnya, Indi kembali memeluk suaminya itu. Merasa malu dan risih sebenarnya terlebih dengan pusaka suaminya yang belum tercabut dari cawan surgawi, sehingga rasanya masih penuh dan hangat.
"Dicabut enggak, Mas?" tanya Indi.
Mendengarkan apa yang dikatakan oleh Satria, Indi merasa geli sendiri. Rasanya sudah tak nyaman sekarang. Apalagi peluh dari tubuh keduanya yang seakan menyatu.
"Mandi, Mas. Dosa loh nanti," kata Indi.
"Ya sudah, yuk kita mandi dulu. Gini aja, aku gendong ke kamar mandi yah," kata Satria.
"Enggak gantian, nanti kalau Nang-Nang kebangun bagaimana?" tanya Indi lagi.
"Pintu kamar mandinya dibuka sedikit saja. Tenang, Sayang."
Akhirnya, dengan mempertahankan Indi di dalam gendongannya layaknya koala, sekarang langkah kaki Satria menuju ke dalam kamar mandi. Indi malu sekali sebenarnya, tapi Satria terlihat santai. Dia malahan menatap wajah istrinya itu dengan binar mata yang tak terdefinisikan.
__ADS_1
"Jangan dilihatin begitu, aku malu," kata Indi.
"Kamu cantik banget, Sayang," balas Satria.
Indi memanyunkan bibirnya. Walau sudah menjadi suami istri dan sudah terbilang lama, ketika Satria memujinya cantik tetap saja Indi merasa begitu malu rasanya.
"Udah mujinya, wajahku memerah loh," kata Indi.
"Gak apa-apa biar menjadi semakin cantik kok."
Menurunkan Indi kamar mandi, kemudian Satria memeluk istrinya itu dari belakang. "Mandi bareng ya, Sayang," kata Satria lagi.
Belum Indi menganggukkan kepalanya, tapi Satria sudah menekan keran air shower yang ada di atas. Seketika air hangat pun membasahi keduanya. Sensasi basah dengan tubuh yang menempel satu sama lain seolah memberikan sensasi tersendiri. Satria usai itu juga mengambil shower puff, dia mulai menyabuni tubuh istrinya itu. Setiap jengkal dan setiap lekuk, Satria sabuni dengan merata. Indi sampai heran sendiri. Biasanya sudah lama mereka tidak seperti ini. Terlebih ketika sudah memiliki anak, keduanya sering kali bergantian untuk mandi.
Begitu juga sesudahnya Indi juga menyabuni suaminya itu. Sekarang dengan berhadap-hadapan keduanya tersenyum bersama. Lama tidak melakukan hal seperti ini selain bahagia, ada malunya juga.
Menyelesaikan mandi dan sekarang keduanya sudah sama-sama selesai. Sudah sama-sama mengenakan baju. Walau Satria masih memeluk istrinya itu.
"Gak usah memikirkan masa subur, Sayang. Kadang juga berhubungan di masa subur juga belum tentu positif kok. Yang penting kamu tahu saja bahwa aku akan selalu membersamai kamu dan anak-anak kita," kata Satria lagi.
"Iya, Mas. Kalau Mas Satria yang berbicara, aku percaya kok. Apalagi selama ini Mas Satria juga sudah memberikan bukti. Jangan pernah berubah yah, Mas," pinta Indi.
"InsyaAllah, tidak akan Sayangku."
Indi memeluk suaminya itu. Dia begitu percaya dengan apa yang dikatakan oleh suaminya. Punya Indi supaya suaminya itu tidak akan berubah. Cinta, kasih sayang, dan perhatian suaminya selalu tercurah bahkan melimpah untuknya dan anak-anak.
__ADS_1