Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat
Berbagi Peraduan


__ADS_3

Satria masih menunggu, setidaknya jika malam ini benar-benar menjadi malam pertama untuk keduanya, biarlah semua terjadi karena dua hati yang memang mengizinkan. Bukan sekadar mengikuti tradisi malam pertama pada umumnya. Bagi Satria sendiri, apa yang Indi mau dan inginkan itu jauh lebih berharga. Jika pun, Indi masih belum siap Satria juga akan menunggu.


"Aku tidak tahu apakah Yayah dan Nda sudah tidur sekarang, tapi Mas Satria serius menginginkan malam ini? Di dalam kamarku?" tanya Indi perlahan.


Ada sebab kenapa Indi bertanya demikian. Pertama, letak kamarnya yang tak begitu jauh dari kamar Irene adiknya. Kedua, ketika malam pertama pasangan suami istri menginginkan momen berkualitas, intimitas, dan tidak ada gangguan. Sementara, kala tinggal di rumah mertua, maka ada beberapa hal yang tidak akan bisa didapatkan.


"Kalau kamu mau, kita bisa melakukannya dengan pelan-pelan," jawab Satria.


Pelan-pelan yang dimaksud tentu melampaui semua prosesnya step by step, tidak menggebu-gebu, dan tentunya pelan dengan tidak mengeluarkan suara-suara erotis yang mungkin saja bisa terjadi. Hanya saja, Satria tak menjelaskan semua secara gamblang.


"Jadi, bagaimana, Dik? Bolehkah aku memiliki kamu seutuhnya dan sepenuhnya malam ini? Kita berbagi peraduan bersama untuk kali pertama," tanya Satria.


Beberapa saat terdiam, lantas Indi menganggukkan kepalanya. "Silakan, Mas ...."


Mendapatkan lampu hijau dari Indi, Satria memilih mengunci pintu kamar istrinya terlebih dahulu. Sembari berharap tidak ada gangguan untuk mereka berdua, setidaknya untuk malam ini. Kemudian Satria kembali berdiri di hadapan Indi, dengan kedua tangan yang bertengger di pinggang istrinya yang begitu ramping.


"Gugup?" tanya Satria dengan memaku Indi dengan tatapannya yang begitu teduh.


Jika boleh berkata jujur, Indi sangat gugup, grogi, dan nervous. Sebab, bagaimana pun malam pertama selalu menjadi momen mendebarkan. Terlebih dengan artikel yang sempat dia baca bahwa ketika selaput di dalam sana terkoyak, rasanya akan begitu sakit. Sehingga, ada rasa takut juga untuk Indi.


"Iya," jawab Indi singkat.


Satria tersenyum, satu tangannya merapikan rambut Indi dan menelisipkannya ke belakang telinga. Kemudian, Satria menunduk. Jika tadi, dia sempat mengecup bibir Indi, maka sekarang Satria benar-benar akan mencium bibir Indi.


Untuk mengurangi rasa grogi, Satria memejamkan matanya. Dia mengecup bibir Indi dengan hati-hati. Sekarang bibirnya bertengger untuk sejenak di bibir istrinya. Dibarengi dengan sapuan napas yang hangat, seolah menciptakan atmosfer tersendiri untuk pasangan pengantin baru itu. Setelahnya, mulailah Satria menggerakkan bibirnya perlahan, dia pagut bibir Indi. Sekarang, Satria bisa merasakan permukaan kulit yang kenyal, hangat, basah, dan manis itu. Oh, Tuhan ... kali pertama mencium bibir Indi seperti ini saja membuatnya tegang dan meremang. Satria akan memastikan bahwa dia akan menyentuh Indi dengan penuh cinta. Setiap ciuman dan pagutan yang dia berikan adalah bukti cinta dan perasaannya yang begitu dalam untuk Indi.


Indi sendiri yang pertama kali gugup dan bingung berusaha mencoba menyesuaikan diri dengan Satria. Ketika Satria memagut bibirnya, Indi melakukan hal yang sama dengan memagut bibir Satria. Ketika Satria menghisap lipatan bibirnya, maka Indi juga melakukan hal yang sama. Jujur, keduanya bukan pencium yang experts, tapi masih sama-sama amatir. Jika semuanya bisa terjadi, murni naluriah mereka berdua saja.


Cukup lama, Satria mencium bibir Indi. Pria layaknya kafilah yang menelusuri gurun pasir, sehingga sekarang dia begitu dahaga. Mencium Indi seolah dia menemukan oase di tengah-tengah gurun pasir, dengan melegakan tenggorokannya yang sangat kering.


"Mas Satria," suara Indi dengan sangat lirih dengan sertai dengan napas yang terengah-engah mana kala Satria mendaratkan kecupan yang hangat dan basah di garis lehernya.


Satria tersenyum tipis, sebelumnya tak pernah dia mendengarkan suara Indi yang penuh de-sahan dan napas terengah-engah seperti ini. Respons yang Indi tunjukkan pun sangat alamiah dengan menengadahkan wajahnya, memberikan akses penuh kepada Satria untuk mendaratkan kecupan bahkan ada usapan dengan ujung lidahnya di garis leher hingga tulang selangkanya.


Kedua kaki Indi pun serasa goyang. Mulai dia berdiri dengan gelisah. Rasanya ini begitu asing, tapi di saat bersamaan, kenapa rasa ini memabukkan. Pun tubuh Satria dengan menempel dengan tubuhnya, sehingga Indi bisa merasakan ada sesuatu yang mengeras di bawah sana.

__ADS_1


"Ini malam pertama kita, Sayang ... kita berbagi peraduan bersama," kata Satria sekarang.


Kini, Satria membaringkan Indi di ranjang mereka. Pria itu mematikan terlebih dahulu lampu utama di kamar itu, menggantinya dengan lampu tidur yang lebih redup. Dengan hati-hati, Satria menindih Indi sesaat. Hanya beberapa detik saja, hingga akhirnya pemuda itu melepaskan sendiri polo shirt yang dia kenakan. Satria benar-benar shirtless di hadapan Indi sekarang.


Melihat dada bidang dengan otot-otot liat di sana, Indi malu. Gadis itu memalingkan wajahnya. Di saat bersamaan, Satria menindih kembali Indi. Pria itu kembali mencium bibir Indi. Bukan sekadar mencium, tapi tangannya juga bergerak untuk melepaskan kancing demi kancing di piyama Indi.


Tidak membutuhkan waktu lama, seluruh kancing sudah terlepas, Satria menarik wajahnya perlahan. Tanpa suara, dia memandu Indi untuk melepaskan piyamanya. Praktis Satria bisa melihat begitu indahnya permukaan kulit Indi yang tersembunyi. Kuning langsat dan begitu halus. Wadah berenda dengan warna merah muda yang sungguh indah.


Pelan-pelan Satria membawa tangannya menyusup ke balik punggung istrinya, dia lepaskan pengait besi di sana. Lantas, Satria membuang asal wadah berendah itu. Namun, urung Satria memuja bulatan indah itu, Indi menutupi area itu dengan tangannya. Gadis itu sekarang membuka kedua matanya dan menatap Satria. Sungguh, Indi sendiri rasanya begitu malu.


"Aku ... malu, Mas," katanya.


"Tidak usah malu, kita sudah sepakat untuk berbagi peraduan malam ini bukan? Semua milikmu mulai sekarang akan menjadi milikku," kata Satria.


Lantas, Satria membawa satu tangan Indi dan menyentuhkannya ke arah bagian senjatanya yang masih terbungkus rapat. Lalu, Satria berbicara, "Dan, semua yang aku miliki menjadi milikmu."


Usai itu, Satria kian menunduk, dia singkirkan tangan Indi yang semula menutupi area dadanya. Ketika, tangan Indi sudah beralih, bisa Satria lihat bulatan indah dengan puncaknya yang merah muda. Oh, sangat indah ... sekadar melihatnya saja Satria sudah meneguk salivanya sendiri.


"Untukku yah?" kata Satria sangat lirih.


Indi tak memberikan jawaban. Dia memejamkan matanya, dan perlahan mende-sah mana kala merasakan tangan Satria meremas bulatan indahnya. Respons reaktif yang Indi tunjukkan, hingga punggungnya seolah terangkat dengan sendirinya. Sementara Satria sendiri tak mengira bisa meraba, melihat, dan meremas bulatan indah itu.


Usai dari area dada, Satria lantas melepaskan sisa-sisa busana mereka. Sungguh, Indi sangat malu. Dia memekik dan menyingkirkan wajah Satria dari area sensititnya di bawah sana. Sangat malu, kalau bibir Satria ada di area sensitif miliknya.


"Mas ... jangan," kata Indi dengan terengah-engah, sesekali kepalanya menggeleng-geleng sangat malu.


"Santai saja, Sayang. Percayakan kepadaku," kata Satria.


Berusaha mempercayai Satria, hingga Indi merasakan gelombang dahsyat kala pertama kali merasa sapaan suaminya di lembah sensitif yang ada di bawah sana. Sementara, Satria begitu memuja. Itu sangat indah, merekah, dan harum. Tidak ada rasa jijik, yang ada sapuan lidah Satria benar-benar mengeksplorasi bagian itu.


Kedua mata Indi yang terpejam, dengan gerakan sensual dari bulatan indahnya, serta napas Indi yang terengah-engah membuat Satria akan terus maju. Ya, maju terus pantang mundur. Satria puas melihat Indi yang kali pertama merasakan pelepasannya. Itu baik, supaya tidak terlalu menyakiti Indi.


"Kenalan dengan punyamu," kata Satria sekarang.


"Mas, ini ...."

__ADS_1


Wajah kebingungan Indi kala Satria benar-benar polos mutlak di hadapannya. Tangannya bahkan bergetar mana kala Satria menuntun tangannya untuk menyentuh pusakanya.


"Mulai malam ini, dia punyamu. Mau kenalan dulu?" tanya Satria.


"Bagaimana?" tanya Indi bingung.


"Sama yang aku lakukan tadi, kenalan saja dulu."


Walau bingung dan gugup harus memulai dari mana, Indi mengikuti instruksi demi instruksi dari suaminya. Awalnya sangat aneh, jujur nyaris muntah. Namun, Indi benar-benar tak menyangka akan melihat reaksi suaminya seperti ini.


"Ya, enak, Sayang ... sudah resmi dan sepenuhnya milikmu," kata Satria.


Cukup berkenalan saja, kemudian Satria membaringkan Indi lagi. Dia kemudian mengambil posisi, dan mulai menggesekkan perlahan ujung pusaka itu di cawan surgawi sang istri. Sekadar gesekan saja, rasanya sudah luar biasa. Selain itu, Indi sangat tegang. Dia bingung akan seperti apa rasanya. Pun begitu dengan Satria, peluh dengan sendirinya muncul begitu saja.


Hingga sekarang satu tangan Satria menggenggam tangan Indi. Sementara tangan lainnya mulai membawa pusakanya untuk menerobos masuk dan mengoyak selaput di dalam sana. Terlihat Indi sudah tegang. Beberapa kali tusukan dan hujaman, rasanya sudah sakit. Indi sudah menahan dengan sangat sudah tidak menangis.


Hingga sampai pada akhirnya, Satria menghujam dengan sepenuh tenaga, dan ujung pusakanya mulai mengoyak selaput di dalam sana. Baru ujungnya saja, tapi sudah terlihat darah di sana. Di saat bersamaan air mata Indi benar-benar berlinang seolah ada rasa kehilangan yang dia rasakan. Melepaskan harta berharga yang dia miliki untuk suami tercinta.


"Sakit?" tanya Satria.


"Ii ... iya, Mas. Sakit," jawab Indi.


"Tahan yah, kita berbagi peraduan. Menyatu ... inikah wujud akad sesungguhnya ketika dua insan menjadi satu," kata Satria sangat lembut.


Di saat bersamaan Satria kembali menghujam, dan sang pusaka benar-benar bersarang di dalam sana. Hangat, erat, sensasi cengkeraman yang membuat Satria menggeram dan menggerakkan rahangnya. Sementara, air mata masih membasahi wajah Indi. Satria mulai bergerak hati-hati. Gerakan keluar dan masuk, menghujam dan menusuk dia lakukan. Sedikit tekanan untuk membuat penyatuan utuh.


"Sayang ... Sayang," suara Satria lirih dan dalam.


Tangisan Indi juga perlahan menghilang, dia sudah melepaskan kegadisannya untuk suaminya. Menyerahkan diri secara utuh dan penuh untuk Satria, suaminya.


"Masss ... Mas," kata Indi yang juga sangat lirih.


Cengkeraman otot-otot di dalam sana membuat Satria gila. Namun, pria itu tak lagi bisa menahan. Tubuh Satria bergetar hebat, dan seluruh bagian dari dirinya meledak pecah memenuhi Indi.


Hangat.

__ADS_1


Erat.


Meledak.


__ADS_2